SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
JALAN TAKDIR


__ADS_3

"Aku hanya khawatir dengan Angela." Kirana berkata lirih saat mereka berdua telah duduk di dalam mobil milik Dave yang berada di halaman parkir rumah sakit.


Dave menghela nafas. "Seharusnya kau tak perlu ke sini." ucapnya.


"Maaf.." Kirana menunduk.


Dave kembali menghela nafas. Untuk beberapa saat mereka berdua tak bicara dan hanya merenung dengan pikiran mengawang.


Suasana parkiran rumah sakit yang ramai oleh mobil berjajar dan beberapa kali melintas orang-orang yang hendak berobat atau pun mengunjungi yang sakit. Kirana mengigit bibir bawahnya dengan raut sedih.


"Dave." panggilnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Dave menoleh ke arah Kirana.


"Maaf kan aku.." ia menunduk. Di mainkan jari-jari tangannya yang berada di pangkuan. "Seandainya aku tak mengatakan perasaan ku, tentu semuanya masih akan baik-baik saja." ucapnya.


"..Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita semua tak menyangka Angela akan berbuat senekat itu." Dave berkata setelah terdiam beberapa saat.


Mereka kembali termenung tanpa suara.


...***...


"Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu ?" pada suatu malam Marisa bertanya pada Suaminya yang sedang berbaring di ranjang. "Kirana kelihatan tertekan." ucapnya sedih.


"Apa yang ingin aku katakan telah di sampaikan oleh Eva."Andreas berkata. Di pandanginya wajah istrinya. "Aku tidak bisa berbuat lebih, karena mereka pun tak melakukan hal buruk pada Kirana atau pun Dave. Mereka hanya membatalkan kerjasama kerja antara Sanjaya dan Adam. Tidak ada hubungannya dengan kita. Sangat tidak etis jika kita ikut campur lebih jauh sekali pun aku Ayah Dave secara hukum."


"Tapi Kirana.." mata Marisa berkaca-kaca.


"Kirana sudah dewasa." Andreas memeluk Istrinya. "Meskipun sulit dia telah memilih, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa yang menjadi keputusannya." Andreas terdiam sesaat sambil membaui rambut Marisa yang berada tepat di bawah dagu nya. "Aku pun tak menyangka Kirana dan Dave akan memiliki perasaan istimewa dan berani menentang semua." Andreas menelan ludah.


Marisa mengangkat wajah dan memandangi Suaminya. "Apa kita kena karma hubungan kita ?" ucapnya sedih


Andreas tersenyum tipis. "Tidak ada karma di dunia ini, yang ada hanya kebetulan." ia membelai rambut panjang istrinya. " Kalau pun ada yang pantas kena karma, itu pasti lah aku. " ia tersenyum getir. "Masa muda ku habis untuk maksiat dan.."

__ADS_1


"Ssstt.." Marisa meletakkan jari telunjuknya di bibir Andreas. "Kau lupa ? Kita sudah berjanji tidak akan membahas hal itu lagi, kan ?" tanyanya.


Andreas meraih tangan Istrinya dan tersenyum.


Malam semakin larut, Kirana duduk di dekat jendela kamarnya yang ia biarkan terbuka sambil memandangi langit malam yang terlihat indah dengan bulan purnamanya yang bersinar keemasan.


Begitu pun dengan Dave yang duduk bersandar pada pagar pembatas beranda kamarnya sambil menengadah menatap bulan purnama yang sama.


"Apa kita bisa bahagia di atas penderitaan orang lain, Dave ?"


Pertanyaan Kirana siang tadi terngiang dalam pikiran.


Di kuatkan Kirana dengan mengenggam jemari tangannya. "Sudah sampai sini, apa kau ingin menyerah ?"


Perkataan Dave terlintas dalam pikiran Kirana, membuat gadis itu semakin resah dan tak dapat tidur. Ia bangkit dari duduknya, mengambil remot tivi dan menyalakan. Bermaksud mencari hiburan dari pada termenung memikirkan hal yang membuat otaknya berputar.


Mulutnya sedikit membuka saat tak sengaja melihat drama yang di bintangi Jonathan yang tayang dalam saluran tivi kabel.


Biasanya Kirana enggan untuk menonton film yang di bintangi Jonathan. Entahlah, Kirana selalu merasa sosok Jonthan di balik layar televisi itu terlihat berbeda dengan keseharianya yang ia kenal. Di layar televisi Jonathan terlihat lebih cool, misterius dan ketampana nya akan bertambah dua kali lipat dari yang biasa. Dan itu membuat Kirana enggan mengakui jika Jonathan memang aktor berbakat.


Di hari minggu, tepat satu bulan sejak Angela berniat mengakhiri hidupnya. Di rumah Keluarga Marthdinata, berkumpul Dave berserta Ibunya dan Kirana di dampingi kedua orang tuanya.


Jangan tanya Kiandra di mana. Karena ia tengah bermain bersama pengasuhnya di halaman belakang. Sengaja, supaya anak cerdas itu tak memusingkan kedua orang tuanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat orang semakin pening.


"Lepas dari permasalahan yang ada, kami merestui hubungan kalian." Andreas berkata dan di sambut senyum lega Kirana dan Dave yang duduk berdampingan.


"Terimakasih Dad, Ibu." Dave berkata sambil mengenggam tangan Kirana yang duduk di sampingnya.


"Semoga dengan cobaan ini, bisa menjadi pelajaran kalian kelak dalam berumah tangga, agar tidak gampang emosi dalam menyikapi apa pun." Marisa memandangi Dave dan Kirana. "Rumah tangga adalah awal, bukan akhir, kalian harus ingat itu." pesannya.


"Aku akan selalu ingat, Bu." ucap Dave.


"Akan aku ingat, Bu." Kirana ikut menimpali.

__ADS_1


Setelah pergolakan batin yang menyesakkan dan membuat mata tak mampu terpejam. Akhirnya Dave dan Kirana memutuskan tetap melangkah maju memperjuangan hubungan mereka.


Yang utama adalah restu orang tua, dan mereka telah dapat kan itu. Tentang Angela, bagaimana Dave meminta maaf tetap tak mampu mengoyahkan Angela maupun orang tuanya untuk memaafkan. Angela tetap dengan kekeras kepalaanya yang tak mau makan, dan Dave tak bisa selamanya membuat Kirana menunggu.


Dilema. Tapi hati Dave tak bisa berbohong. Kirana lah yang dia cintai, dan ia tak sanggup jika harus melihat Kirana bersedih lagi.


"Kita harus menyiapkan semuanya, bukan ?" Eva tersenyum memandangi keduanya. "Aku yakin kau akan sangat cantik dengan kebaya atau gaun putih." lanjutnya.


Kirana tersipu. "Terimakasih, Mom. Tapi aku ingin memakai kebaya milik Ibu dulu." ia memandangi Marisa yang menatap terharu akan dirinya. "Dan kami juga memutuskan tak mengelar pesta apa pun." Kirana menunduk memandangi tangan Dave yang mengenggam erat jari-jari tangannya.


"Apa ?" Andreas yang semula duduk menyandar langsung berdiri tegak. "Kau anak perempuan satu-satunya di Keluarga Martahdinata, dan kau bilang tak ingin ada Pesta ?" Andreas tak setuju.


Marisa dan Eva saling pandang.


"Keadaannya masih seperti ini Dad, aku hanya tak mau menimbulkan masalah lagi untuk Keluarga." Dave berkata pelan.


Andreas mendengus. "Peduli apa aku dengan itu ? Aku hanya ingin putriku mendapat apa yang semestinya Nona Muda di Keluarga Martahdinata dapatkan." ucapnya.


"Mungkin Dad lupa, jika calon Suami Kirana, juga anak Dad. Dan di mata orang lain hal itu pasti akan sangat tabu." Dave memandang Ayahnya yang duduk di seberang meja.


Mata Andreas membulat. Dave benar. Begitu banyak masalah yang timbul, sampai ia lupa hal paling pokok dari semua itu adalah mengubah semua dokumen Dave dan itu berarti.. Seketika Andreas menoleh ke arah Eva.


Mereka saling pandang tanpa bicara, karena baik Andreas maupun Eva, sama-sama tahu apa yang hendak di kata.


"Iya, yang penting kalian menikah dan bahagia." Marisa yang pertama bersuara saat lagi-lagi keheningan melingkupi ruang. "Dari pada pesta, bukankah kita lebih baik mengurus akte kelahiran Dave, iya, kan ?" ia menoleh ke arah Suami, kemudian ke Eva yang duduk di kursi lain.


"Kau benar, Marisa." Eva mencoba tersenyum . Meskipun sebenarnya ia sama kalutnya seperti yang lain.


"Setelah menikah, kami juga memutuskan untuk tinggal ke tempat di mana orang tak mengenali kami sebagai Keluarga Sanjaya atau pun Marthadinata."


Kali ini kata-kata Dave benar-benar mengejutkan semua.


"Kami ingin tinggal di tempat di mana orang hanya mengenal kami sebagai pasangan suami-istri." sambung Kirana

__ADS_1


Baru saja orang tua mereka hendak membuka mulut untuk bicara, ketika seorang Pelayan datang dengan terburu-buru.


"Maaf menganggu." Pelayan itu menunduk gelisah. "Di ruang tamu ada Tuan Adriansyah Adam, datang untuk menemui Tuan besar." ucapnya mengagetkan semua yang ada di situ.


__ADS_2