SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
AKU JUJUR


__ADS_3

"Kau hubungi Jonathan. Kita akan melakukan konferensi pers. Aku akan bilang jika orang itu aku." Dave berkata.


"Kenapa tiba-tiba kau ingin mengaku ? Bukankah kau nggak peduli ?" Kirana bangkit berdiri saat Dave bangun dari duduknya.


"Aku juga punya hati." Dave menatap Kirana. "Aku nggak mau orang menderita karena perbuatanku." lanjutnya.


Mereka saling tatap. Merasa tak nyaman, Dave memalingkan muka dan hendak keluar.


"Dave." Kirana meraih baju bagian belakang lelaki itu, membuatnya menoleh ke belakang. "Kenapa kau memelukku saat itu ?" tanyanya.


"Itu hanya rasa bersalah karena aku sering bersikap kasar padamu." Dave menjawab tanpa emosi.


"Apa kau yang ingin menciumku juga karena rasa bersalah ?" mata Kirana berkaca-kaca menatapnya.


Ekspresi wajah Dave sedikit berubah. Kirana masih memandang ke arahnya, menuntut jawaban.


"Apa yang kau harapkan Kirana ?" akhirnya Dave berkata.


Mereka kembali saling pandang. Kirana tak mengerti maksud ucapan Dave padanya.


"Kau ingin aku mengatakan apa ?" kembali Dave bertanya.


Kirana tertegun. "Aku mengharapkan apa ?" ia mengulang pertanyaan Dave dalam hati.

__ADS_1


"Kau punya Jonathan, aku punya Angela. Kita masing-masing punya pasangan yang harus kita jaga perasaannya." Dave berkata.


Kirana terdiam.


"Dimata hukum kita adalah saudara. Dad, Mom dan Ibumu. Bagaimana perasaan mereka jika mengetahui ada yang salah dengan anak-anak mereka ?" mata Dave berair ketika ia menjelaskan. Tapi ia berusaha menahan segala gejolak di hatinya. "Mom dan Papa kandungku yang nggak pernah terikat pernikahan," Dave sedikit tercekat. Membuat Kirana seperti baru tersadar akan sesuatu. "Bagaimana jika publik tahu tentang hal itu ?" raut wajah Dave memelas.


Kirana menutup mulutnya dengan mata melebar. Dia tidak pernah berpikir sampai sana. Yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri yang kini tengah terluka. Ia teringat Angela yang begitu baik. "Bagaimna jika Angela tahu ?" perasaan Kirana makin tak menentu. "Daddy, Ibu apa bisa merestui jika itu dengan Dave ? Matanya membelalak menatap Dave yang masih melihat ke arahnya. "Dave.." Kirana memegangi dadanya yang selalu berpacu lebih cepat jika di dekat lelaki itu.


Seolah baru terbangun dari tidur. Kirana akhirnya menyadari perasaanya sendiri. "Dave." ia memegangi lengan Dave dan melangkah mendekat.


Dave sedikit terkejut. Tapi ia hanya diam melihat wajah Kirana dan terutama dua bola matanya yang berwarna cokelat terang dan terlihat semakin indah saat memandangnya.


Sejak dia pertama kali datang di hidupnya. Hatinya ini hanya bergetar saat berada di dekatnya. Matanya hanya tertuju pada dirinya. Dan meskipun seribu satu ucapan pedas dan sikap buruk yang dintunjukkan untuknya, Kirana tetap hanya memikirkannya.


"Ayo kita temui Ibu dan menjelaskan jika kita berpelukan hanya karena rasa haru kau akan menikah." ucap Dave. "Pelukan antar saudara." Dave menekankan. "Aku rasa Ibu akan memahami. Dan jika Ibu yang menyampaikan ke Dad, semua pasti akan baik-baik saja."


"Apa benar kau memelukku karena menganggapku saudara ?" tanya Kirana saat Dave hendak berbalik arah.


"Apa kau belum paham yang aku katakan, Kirana ?" sedikit emosi Dave berkata. Ia menunduk agar sejajar dengan wajah Kirana dan menunjuknya. Ia kesal karena Kirana mempertanyakan hal yang membuatnya makin gundah, padahal ia telah menjelaskan.


"Aku hanya ingin kau jujur." untuk pertama kalinya Kirana berkata tegas padanya.


"Aku jujur !" suara Dave meninggi. Ia mulai frustasi karena Kirana menekannya.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan !" bentak Kirana dengan wajah memerah dan mata yang meremang.


"Nggak ada yang perlu di katakan lagi. Semua sudah aku katakan." Dave mulai tenang. Ia menghela nafas berat dan memalingkan muka. "Jangan bersikap seperti anak kecil. Lebih baik kita selesaikan scandal ini demi nama baik Keluarga dan perasaan pasangan kita."


"Kenapa semua mengatakan aku anak kecil ?" Kirana marah. " Aku berusaha jujur dan mereka nggak mau tahu ! Kau menjaga nama baik keluarga dan perasaan orang lain. Tapi bagaimana dengan perasaan ku, perasaan kita !" Untuk kesekian kali Kirana menangis karena lelaki ini.


"Apa yang kau tangisi, Kirana ?" Dave tersenyum sinis. Tapi matanya yang berkaca-kaca tak bisa bohong. "Perasaan kita ?" ia terkekeh. "Apa kau sedang bermimpi, hah ?" Dave berhenti sesaat untuk menghela nafas dan mengusap rambutnya ke belakang, kemudian kembali melihat Kirana . "Singkirkan perasaanmu. Jangan pernah besar kepala dan berandai-andai yang nggak mungkin." Dave berkata. "Nggak ada perasaan apa pun kecuali kita hanyalah saudara di atas kertas. Kau dengan Jonathan dan aku pun sebentar lagi akan menikah dengan Tunanganku. Kita akan bahagia dengan pilihan masing-masing." Dave berhenti sebentar untuk mengatur emosinya. Ia menelan ludah. Ada perasaan tak tega saat memandang wajah Kirana yang berurai air mata menatapnya tanpa berkedip.


Sekali lagi Dave menghela nafas panjang. Menunduk sesaat dan kembali menyisir rambutnya ke belakang. "..Kita memang berhak egois." Dave berkata setelah sempat terdiam. "Tapi jika egois kita mengorbankan banyak hal dan terutama kebahagiaan orang tua, bukankah lebih baik kita yang belajar menerima ?" Dave memandang Kirana dengan ekspresi yang sulit di jabarkan.


Kirana tak kuasa membendung air matanya. Hatinya sakit mendengarnya. Begitu sakit sampai terasa sesak meskipun ia telah meremas baju bagian dadanya. Dave benar, terlalu banyak yang di korbankan. Untuk pertama kali Kirana membayangkan raut wajah Jonathan. Jonathan teman kecilnya yang baik, yang selalu melindunginya. Yang selalu ada di setiap dia membutuhkannya. Bahkan saat kini Jonathan telah menjadi Aktor besar dengan segudang prestasi dan memiliki banyak penggemar. Tapi sikap dan sayangnya pada Kirana tak pernah berubah.


"Percayalah, belajar mencintai orang yang menyayangi kita itu lebih mudah. Kau pun pasti bisa." Dave tersenyum. Senyum yang membuat Kirana iri pada Angela, karena Dave tak pernah menunjukkan wajah ramah itu padanya. Tapi kali ini Dave tersenyum dan itu di tunjukkan padanya.


Kirana termenung. Kini baru dia tahu, selama ini dia melihatnya hanya dari jauh. Dan saat Dave tersenyum dalam jarak dekat seperti ini. Kirana bisa meraskan jika senyum itu palsu dengan mata sayu tak berekspresi.


"Sekali saja Dave." Kirana berkata setelah mengusap air matanya.


Dave masih berdiri di depannya dan tengah melihatnya.


"Sekali saja katakan jika perasaan kita sama." Air mata Kirana kembali membayang. "Katakan kalau apa yang aku rasakan ini nggak salah."


Hati Dave bergetar. Ngilu di dasar hati yang coba ia tahan selama bertahun-tahun saat mengingat paras yang kini berada di depannya dan tengah berurai air mata. Wajahnya yang menegang perlahan mengendur dan bibirnya membentuk senyum tulus tanpa mengucap apa pun.

__ADS_1


__ADS_2