
Untuk beberapa saat Dave masih terdiam di tempat sambil mengamati figura photo tersebut. Sampai ia mendengar suara pintu di tutup, baru lah ia menaruh figura photo itu di meja dan beranjak pergi dari kamar, lalu berjalan menelusuri ruang Apartemen tersebut.
Ia menghela nafas lega saat Daddy nya itu benar-benar sudah pergi dan meninggal kannya seorang diri. Dengan cepat ia berjalan ke ruang tengah yang telah di sulap oleh Pendahulunya menjadi sebuah dapur dengan kitchen set nya yang lebar dan penuh dengan pernak-pernik memasak.
Pikiran Dave mamang sedang kacau saat ini, tapi saat melihat deretan alat dapur yang terlihat bersih, tertata dan banyak ragam nya , jujur itu sangat mengoda nya.
"Kenapa barang sebagus ini hanya di diamkan ?" tanya Dave seorang diri pada deretan frypan dari berbagai jenis seperti teflon yang umum di pakai. frypan dari Marmer atau keramik marble yang membuat wajan tidak gampang lengket,mudah di bersihkan dan tampilan menarik namun rata-rata relativ lebih mahal. frypan dengan lapisan stainless steel yang sangat cocok untuk mengoreng dengan minyak yang banyak. frypan berlapis diamond coating yaitu material keramik mengandung berlian halus dan sangat mudah di bersihkan sampai ada cast iron yang tahan lama namun jika tidak di jaga perawatannya akan mudah berkarat.
Dave tersenyum senang, rasa sedih dan gundahnya sedikit teralihkan. Dia yang sebenarnya sangat suka memasak dan memilih menyembunyikannya karena malu, merasa terhibur hanya dengan melihat alat-alat masak lengkap dan dapur besar yang mirip musium alat masak ini.
"Mungkin aku memang anakmu." ia tanpa sadar terkekeh. Di ambil nya satu pisau dari deretan pisau dapur dari berbagai jenis yang mungkin juga di fungsikan sebagai hiasan karena warna gagangnya yang beragam.
Di amatinya pisau dengan mata pisaunya yang mengkilat dan ujungnya yang runcing. Sebentar kemudian wajahnya yang datar dan masih sedikit pucat itu tersenyum. "Jadi ingin masak." ujar nya, lalu meletakkan kembali pada tempatnya.
Setelah puas berkeliling dan mengamati isi Musium alat masak peninggalan Ayahnya, ia kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di ranjangnya. Kepalanya menoleh ke samping, ke figura photo bergambar wajah Ayahnya ketika muda dan ia letakkan tadi di meja kerja yang letaknya di samping ranjang.
Suasana begitu sunyi karena memang tidak orang lain selain dirinya. Namun Kamar Apartemen yang sudah tidak berpeghuni hampir 20 tahun itu tetap bersih dan segar dengan aroma citrus yang terpasang di tiap ruangan. Tentu saja karena Andreas lah yang menyuruh orang agar tiap hari datang dan membersihkannya, bahkan ia akan sangat marah jika ada sedikit saja debu yang terlihat.
Mata hitam Dave menatap setumpuk dokumen yang berada di atas meja kerja yang sudah lama tidak di gunakan. Rasa penasaran mengelitiknya, membuat ia bangkit dari tidur dan berjalan kemudian duduk di kursinya.
Ia penasaran dengan apa yang di kerjakan Ayah kandungnya itu semasa hidup. Di ambilnya sebuah map yang berada di tengah dan mulai di bukanya lembar-lembar putih yang berisi tulisan kecil-kecil.
Dari situ Dave bisa mengambil kesimpulan jika Ayah kandungnya memang orang yang cerdas dalam bisnis. Ide-ide yang di tuangkannya selalu kreatif dan menyeluruh ke semua aspek. Ia mengambil lagi map yang lain yang berada di tumpukkan tersebut dan mulai membaca nya lagi. Jujur saja hanya dengan itu secara tidak langsung ia pun mendapat ilmu.
Sampai pada map ke empat yang dia ambil, tanpa sengaja ia menjatuhkannya. Membuat berlembar-lembar kertas di dalam nya berhamburan. Dave segera memunguti nya, dan ia terkejut ketika di lihatnya di balik kertas berisi tulisan planning bisnis ada sketsa kasar wajah seorang wanita. Tidak hanya satu lembar, saat Dave memunguti yang lain dan membalik bagian belakangnya, di situ juga terdapat sketsa wajah wanita yang sama.
__ADS_1
Setelah memunguti semua, Dave duduk kembali ke kursi. Di amatinya dengan teliti sketsa-sketsa yang sepertinya di gambar hanya karena iseng melihat cara melukisnya yang hanya di gambar di belakang kertas dokumen yang depannya berisi tulisan.
"Yang terindah, yang tak mungkin di raih...?" kening Dave sedikit berkerut membaca tulisan di salah satu sketsa gambar wajah perempuan itu.
Tiba-tiba ia teringat akan photo Ibu nya ketika muda. Ia bangkit sebentar dari duduknya untuk mengambil dompet yang ia letakkan di saku celana bagian belakang, kemudian kembali duduk.
Di bukanya dompet kulit berwarna cokelat miliknya, dan di ambilnya satu-satu nya photo yang ada di dalam nya. Yah hanya ada photo ibu nya di dalam dompet milik Dave.
Mata Dave membulat saat ia menyamakan gambar sketsa dan photo diri Ibu nya ketika muda.
"Terakhir Mom bertemu dengannya, dia mengatakan jika di hatinya sudah ada nama wanita lain."
Dave teringat kata-kata Ibu nya ketika menceritakan tentang masa lalu dirinya dan Ayah kandungnya.
"Hubungan kami memamg hanya sebatas saling kenal, tidak lebih..."
"Yang di pikirkan hanya Daddy mu dan Keluarga Marthadinata. Sama sekali tidak ada tempat untuk hal lain, termasuk..."
Ibu nya tidak melanjutkan kalimatnya.
Dave termenung sesaat menatap tembok putih yang banyak terdapat tempelan memo.
"Mom, ayolah...penyakit Mom harus di sembuhkan."
Dave mengigat bagaimana bertahun-tahun membujuk Ibu nya itu agar mau berobat. Tapi Ibu nya tidak pernah mau, dan selalu menolak.
__ADS_1
Penyakit paru-paru yang dulu Dave kira hanya batuk di musim dingin, tapi membuat ia begitu ketakutan saat Ibu yang di sayangi nya terbatuk dan mengeluarkan gumpalan darah.
"Kami tidak pernah saling mencintai, tapi ada kau sebagai bentuk cinta itu sendiri. Bukankah itu lucu, Dave ...?"
Dave teriingat senyum merekah di wajah Ibu nya yang selalu terlihat muram. Membuat Dave langsung memunguti semua kertas-kertas dokumen yang bagian belakangnya di gambar sketsa wajah ibu nya ketika muda dan segera beranjak pegi dari situ.
Sementara itu di Rumah Keluarga Sanjaya, di ruang Keluarganya yang luas dan mewah dengan segala ornamen nya yang terlihat mahal khas Victoria Vintage , duduk di situ Pasangan Suami Istri Sanjaya dan Putri mereka satu-satunya, yang akhirnya setelah bertahun-tahun kembali ke rumah tempat dia di lahirkan.
"Rendy...." Hertoni berkata seperti gumaman. Kerutan di keningnya semakin bertambah dengan raut wajah penuh kekecewaan. Mata tua nya membayang sosok Lelaki berjas hitam dengan kemeja putih yang selalu berdiri di belakang Andreas mantan Menantunya, atau kadang-kadang ia temui sedang berjalan di sisi Adnan, Ayah Andreas yang telah meninggal dan merupakan rekan bisnisnya. Berjalan di sisi Lelaki yang menjadi Ayah angkatnya, memegangi lengannya sebagai pengganti tongkat.
Kepala Hertoni berdenyut, sosok nya ketika itu membuatnya teringat akan Dave cucu nya yang selalu mengandeng lengannya.
"Aku tahu Papa dan Mama kecewa." Wanita yang kini telah sama tuanya dengan kedua Ayah Ibu nya itu berkata. "Tidak ada yang perlu aku jelaskan, karena apa yang kalian pikirkan aku anggap benar." ia berucap.
"Eva.." kening Erika berkerut dalam dengan raut wajah sedih.
"Aku yakin Dave tidak akan merasa kehilangan saat kalian tidak mengakuinya sebagai Pewaris Sanjaya Corp." Eva menelan ludah, namun wajahnya masih menyiratkan ketegaraan.
Hertoni menatap putri satu-satu nya itu, sedangkan Istrinya telah menangis. Sungguh berat menerima kenyataan ini.
"Dave akan aku ajak pulang ke Paris." ucap Eva lagi setelah ia bisa menguasai diri agar tidak meneteskan air mata. "Aku punya butik kecil di sana, dan Dave juga menerima banyak tabungan, saham dan propery dari orang itu." kembali ia menelan ludah. "Jadi kami tidak akan kekurangan..." lanjutnya.
Tak ada yang berbicara setelah Eva berhenti berkata. Yang ada hanya suara isakan dari Erika, wanita berusai 80 tahun itu begitu sedih dan terpukul. Ia menyayangi Dave bahkan lebih dari nyawanya yang tinggal senja hari, tapi Suaminya...
Hertoni masih diam tak memberi tanggapan, membuat wajah Eva berkerut sedih dan putus asa.
__ADS_1
...----------------...