
"Masa kau nggak tahu sama sekali soal Adik Daddy mu itu." Shopie tak percaya.
"Terserah kau mau percaya atau enggak." Kirana menjawab enteng. Perasaannya selalu lebih ringan jika sudah menangis dan mengadu di makam Opa nya.
Mereka kini telah sampai di Kampus dan tengah berjalan bersebelahan di lorong Kampus yang ramai dengan Mahasiswa lainnya yang tengah berjalan, duduk di bangku pembatas atau sedang berdiri di pinggir tembok sambil mengobrol.
"Baik Daddy maupun Ibu nggak ada yang membicarakan." Kembali Kirana bercerita. "Aku pun nggak begitu tertarik dan hanya beberapa kali melihat foto nya di ruang kerja Daddy."
Shopie menaruh telunjukny di mulut, kebiasaannya jika ada hal yang menurutnya rumit dan tengah ia pikirkan. "Aneh sekali..." ia berguman.
"Apa nya..??" Kirana menoleh ke arahnya.
"Tentang Ibu mu yang selalu mengingatkan mu agar selalu ke makam nya tiap tanggal 6, khusunya 6 Maret." Shopie berkata sambil memandangnya.
"Ya karena tanggal 6 Maret kan tanggal kematiannya." Kirana tertawa.
"Tetap saja aneh, kenapa harus kau...? Kenapa harus di ingatkan berkali-kali untuk hal sepele seperti itu...?? Padahal cuma Om...??" Shopie kembali menoleh ke arah Kirana dengan pandangan bertanya.
Tawa Kirana makin kencang, wajah penuh tanda tanya Shopie terlihat lucu di matanya.
"Kau ini, aku serius...!" wanita berambut pendek yang di cat pirang itu kesal.
"Habis...kau ini selalu memikirkan hal nggak penting sih." Kirana masih terkekeh.
"Itu karena aku penasaran tahu !" Shopie melipat kedua tangannya ke dada dan memandang sebal ke arah gadis berkuncir di sebelahnya itu.
Kirana kembali tertawa. " Baiklah aku jawab, biar kau nggak penasaran." ucapnya setelah berhenti tertawa, meski begitu wajah putih nya yang memerah masih saja tersenyum lebar. "Harus aku, karena sepertinya Daddy masih begitu kehilangan saudaranya itu. Kalau dulu, waktu ada Opa, aku selalu pergi bersama Opa dan Ibu." Kirana berkata. "Tapi berhubung sekarang Opa sudah meninggal dan Ibu sering sakit-sakitan sejak melahirkan Kian, jadi hanya sesekali Ibu bisa ikut." Ia menerangkan. "Kalau soal mengingatkan berkali-kali, bukankah kau juga tahu kalau aku pelupa..??" Kirana tertawa.
"Kau benar, kau kan pikun." Ejek Shopie, tapi tidak begitu di tanggapi oleh Gadis yang masih saja menebar senyum saat ada yang menyapa atau melihat ke arahnya.
"Pasti..dekat sekali hubungan Daddy mu dan Om Rendy mu itu, sampai-sampai sudah bertahun-tahun pun, Daddy mu tetap nggak bisa mengunjungi makam nya." Shopie berkata lagi saat Gadis berkuncir itu melambaikan tangan pada beberapa Mahasiswa yang tengah duduk di bawah Pohon tak jauh dari koridor tempat mereka berjalan.
"Oii Kiranaa..! Kapan ikut basket lagi ??" tanya salah satu dari 4 orang lelaki dan perempuan yang sedang duduk santai dari kejauhan.
"Kapan-kapan !" Kirana mengkeraskan suaranya dan tertawa.
__ADS_1
Empat orang itu ikut tertawa terbahak mendengar jawaban dari gadis slengean yang selalu terlihat riang itu.
Kirana memang humble, dia bergaul dengan siapa saja dan tidak pernah memandang dari Keluarga mana orang-orang tersebut berasal. Terkadang karena sifat dan penampilannya, orang-orang hampir lupa, jika Kirana adalah anak Pemilik Univeristas sekaligus Nona Muda di Keluarga Konglomerat Marthadinata yang Terhormat.
Mereka terus berjalan menuju ke kelas, namun tiba-tiba langkah Kirana terhenti.
"Melihat mereka aku jadi ingat sesuatu." Ia menepuk kan genggaman tangan kanannya pada telapak tangan kirinya.
"Ingat apa lagi...?" Shopie yang tahu betul sifat Kirana memandang malas ke arah nya. "Kelasnya sudah mau mulai." lanjutnya.
"Ikut aku Shopie !" Kirana mengandeng pergelangan tangan kawan baiknya itu dengan wajah cerah dan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.
"Perasaanku nggak enak nih..." ucap Shopie dalam hati, namun ia hanya pasrah mengikuti langkah lebar-lebar dari kawan baik nya itu.
Mobil Lamborghini Veneno Roadster warna Red itu tampak menonjol di antara mobil-mobil yang terparkir di halaman Universitas.
Dave yang berada di dalam, tak langsung mematikan mesin dan masih duduk di dalam mobil mewahnya yang langka karena hanya di produksi 9 buah di dunia.
Salah satu dari koleksi Lamborghini kesayangannya, yang ia dapat sebagai kado ulang tahun ke 17 dari Kakeknya yang memenagkan lelang di Swiss kala itu dengan harga lebih dari 118 miliar.
Dave mengelus-elus stir mobil dengan lambang banteng warna gold dengan dasar hitam itu. Ia tersenyum mengingat pembicaraannya tadi pagi dengan Kakeknya.
Dave terkejut, tentu saja ia terkejut. Meskipun nada bicara Kakeknya ketus, tapi Kakeknya itu mengatakan terserah, dan itu di luar ekspetasinya.
"Kecuali hari sabtu, kau harus membantu di Divisi Penjualan dan entah bagaimana caranya dalam 1 bulan profite kita harus naik."
Dave mengingat syarat yang di ajukan oleh Kakeknya, membuat ia menyandarkan kepalanya di jog mobil dengan pandangan mengawang.
"Kalau hanya teori aku hafal, tapi kalau praktek...??" Dave bergumam, lalu menghela nafas panjang. "Meningkatkan penjualan..." ia kembali bergumam sambil mengetuk-ngetuk stir mobil dengan jari-jari nya. "Nanti lah aku pelajari." ia berucap sendiri setelah beberapa menit berpikir.
Di ambil tas ransel hitam nya yang berada di jog samping, lalu di matikan mesin mobinya kemudian keluar dan tak lupa di kunci nya dengan sensor yang terdapat pada kunci mobil.
Dave berjalan ringan keluar dari area parkir mobil Universitas untuk menuju Gedung Pascasarjana yang terletak lebih ke dalam.
Wajahnya yang biasanya dingin dan terkesan datar, kini berkali-kali menyungging senyum tipis memgingat jika Kakeknya mengijinkankan untuk tinggal bersama Ayahnya.
__ADS_1
"Mom harus secepatnya di beri tahu kalau Kakek setuju." ia berucap dalam hati sambil tersenyum lebar dan membenarkan letak tas ranselnya yang ia cangklong pada bahu sebelah kanannya.
Untung saja di sekitarnya tidak ada orang, jadi dia tidak di sangka orang gila karena senyum-senyum sendiri.
Dave baru saja akan melangkah kan kakinya dari jalanan berpaving ke koridor Kampus yang berlantai keramik ketika di dengarnya bunyi benda jatuh ke tanah dan suara seorang wanita.
Ia menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling, sepi dan hanya terlihat beberapa mahasiswa yang berjalan ke arah Parkiran.
Kembali di dengarnya suara seorang wanita, kali ini terdengar 2 suara dan sepertinya sedang mendebatkan sesuatu. Rasa penasaran Dave tergelitik, ia tidak jadi berjalan ke koridor yang menuju Gedung Pascasarjana.
Sebaliknya, ia berjalan menuju ke arah lapangan basket yang berada di balik Gedung Fakultas Ekonomi.
"Ayolah Kirana..." Shopie berkacak pinggang dengan wajah kesal sambil menengadahkan kepalanya ke atas melihat Kirana yang sedang berada di atas Pohon Mangga yang menjulang tinggi.
"Sebentar lagi !" Gadis itu berkata dari atas pohon dengan suara yang di keraskan. "Mangganya sudah matang-matang, sayang nggak ada yang ambil." lanjutnya.
"Kalau kau ingin mangga, bukannya tinggal beli ?" kening Shopie berkerut, ia khawatir teman nya itu akan jatuh. Tapi sepertinya gadis dengan baju nya yang kebesaran itu tidak peduli.
"Beli sama petik sendiri itu lain rasanya." Kirana berkata sambil berdiri di atas dahan besar lalu berjinjit dengan tangan berpegangan pada batang pohon dan tangan yang satu meraih mangga yang sebenarnya belum begitu matang itu.
"Petik ? Kau pikir di kebun ...??" Shopie tak habis pikir.
Kirana tertawa mendengar perkataan Shopie. Di jatuhkan mangga yang baru ia petik begitu saja tanpa aba-aba, membuat wanita berambut pendek yang di cat itu terkejut.
"Bilang-bilang dong, kan bisa aku tangkap." Sungut Shopie.
Di pungutnya mangga yang baru saja di jatuhkan Kirana ke tanah, dan di kumpulkannya jadi satu bersama mangga yang sebelumnya telah lebih dahulu di petik.
"Aku bilang juga kau nggak bisa tangkap kok." Kirana tertawa tanpa melihat sahabat yang mentatapnya khawatir.
"Ini sudah banyak Kirana !" kembali Shopie berkata dengan suara keras agar teman baiknya yang berada di atas Pohon itu dengar. "Kita bisa ketinggalan Kelas !" ia memperingatkan.
Tapi Gadis tomboy itu tidak peduli dan malah naik semakin tinggi.
Mata Dave membulat tak percaya dengan tingkah Kirana yang bisa naik ke atas Pohon Mangga yang berada di dekat lapangan basket yang tidak di gunakan.
__ADS_1
Dari kejauhan di lihatnya wajah gadis itu yang terlihat bahagia saat bisa memetik mangga-mangga tersebut.
Wajah polos yang memerah karena terkena sengatan terik matahari. Dengan rambut berantakannya yang menutupi kening yang berkeringat, namun terlihat begitu cerah dengan senyum lebarnya. Membuat Dave terpaku tak berkedip dan tak beranjak dari tempatnya.