
Kirana yang duduk di samping Ibu nya hanya diam menunduk, pikirannya masih melayang ke pertemuan tidak sengaja nya tadi dengan Lelaki irit senyum dan bermulut pedas saat ia mengunjungi makam Om dan Opa nya.
"...Na..Kirana ?"
Suara Ibu nya terdengar di barengi guncangan pelan di pundak nya, membuat ia menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Kau melamun ?" Marisa tersenyum melihat putrinya yang seperti bangun dari tidur.
"Enggak kok, Bu." jawabnya cepat sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Kembali Ibu nya yang sore ini terlihat cantik dengan baju terusan warna biru cerah dengan rambut nya yang di gelung sederhana itu tersenyum. "Jon bertanya pada mu." ia berkata sambil menunjuk ke arah Jonathan yang duduk di depannya dan hanya di pisah oleh sebuah meja.
"Apa ?" Kirana menghadap ke arah Lelaki yang sore ini memakai sweeter warna abu tua di padu celana jeans hitam dan sepatu model boots.
"Kau ini benar-benar nggak mendengarkan aku bicara, ya ?" Jonathan menyenderkan punggungnya ke sofa sambil melipat kedua tangan di dada.
Kedua pipi Kirana mengelembung dengan raut wajah kesal, namun ia tidak membantah.
"Apa kau tidak berminat untuk tinggal di Tokyo ?" Jonathan mengulangi pertanyaanya.
"Kenapa aku harus tinggal di Tokyo ?" kedua alis Kirana saling tertaut. "Enggak mau lah." ucap nya lantang.
"Hanya sementara..." Ibu nya ikut berbicara. "Libur Kuliah ini ke sana lah, ada festival Kanda matsuri , Kau akan merasa terhibur..." ibu nya menyarankan.
Kirana tampak gelisah, ia meremas jari-jari tangannya yang tergenggam. "Mana mungkin aku pergi ke tempat yang jauh saat pikiranku penuh dengan Dave ??" ratap Kirana dalam hati.
"Mama dan Papa ingin bertemu denganmu Kirana." kata Jonathan membuat wajah Kirana terangkat menatap nya. "Kau lupa ? Kita belum membicarakan tentang tanggal pertunagan kita." Jonathan tersenyum membuat kedua mata sipitnya melengkung membentuk bulan sabit.
Kirana tergagap.
"Apa kau mau langsung menikah saja Kirana ?" canda Ibu nya membuat mata Kirana makin membulat. "Kurang dari 2 tahun lagi kau lulus, Ibu rasa tidak ada masalah."
Jonathan terkekeh menanggapinya. Kirana tahu Ibu nya hanya bercanda, karena tidak mungkin kan dia di biarkan menikah muda dan tinggal di Jepang. Tapi Gadis itu langsung berdiri begitu saja meninggalkan Jonathan dan Ibu nya yang saling pandang.
Marisa memberi kode pada calon Menantunya itu untuk masuk dan mengejar Kirana yang langsung di turuti oleh Lelaki berkebangsaan Jepang tersebut.
Saat Jonathan sampai di halaman belakang Rumah Keluarga Martadinata yang luas dan terdapat danau buatan. Di lihat nya gadis yang sore itu memakai kaos longgar warna putih dengan celana pendek dan rambut yang di kuncir sedang duduk di beranda memandangi matahari dengan langit nya yang mulai berwarna jingga, dan memberikan pantulan berkilau pada permukaan danau nya yang berair tenang.
"Segitu nya kau dengan ku." Jonathan duduk di samping nya.
Kirana tak menanggapi. Gadis itu masih duduk sambil menekuk kedua lututnya dan menyandarkan kepalanya di situ.
__ADS_1
Sesaat mereka berdua hanya diam menikmati udara sore yang segar dengan banyak nya Pepohonan yang rindang dan angin yang berhembus lembut.
"...Aku kan bukan selera mu." ucap Kirana tanpa menoleh ke Jonathan yang duduk di samping nya.
"Selera apa ?" Lelaki bermata sipit itu memandang Kirana tak mengerti.
Wajah Kirana kian tertekuk dan semakin memeluk kedua kakinya ke dada lalu menegelamkan sebagian wajahnya di sela dengkul dan dada nya.
Kembali ia terdiam dan Jonathan yang masih diam memandnagi nya.
"...Dulu kau bilang suka dengan wanita yang feminin dan bisa bersikap manis..." Kirana berucap pelan, yang lagi-lagi tanpa menoleh ke arah Jonathan.
Jonathan terkejut, namun kemudian tertawa terbahak sampai memegangi perutnya. Membuat Kirana sebal, dan memukul Laki-laki tersebut dengan bantal kursi yang menjadi alas punggung nya berkali-kali.
"Menyebalkan !" amuk Kirana kesal, wajahnya merah padam karena malu. Sedang tangannya masih berayun memegang bantal yang di pukulkan ke Lelaki itu. Yang sayang nya bantal itu terlalu empuk untuk bisa menimbulkan rasa sakit jika di pukul kan.
"Aku hanya nggak menyangka kau masih mengingatkanya Kirana hahaha...." Ucap Jonathan di sela tawa nya sambil berusaha menangkis serangan gadis bar-bar di samping nya.
Kirana berhenti memukul, wajah nya cemberut dan duduk dengan kedua lutut tertekuk di sofa dan membelakangi Jonathan.
"Jadi benar kan dugaan ku, kalau kau memaksakan diri berpenampilan tomboy hanya untuk membuat ku menjauh." Jonathan tersenyum bangga pada diri nya sendiri.
Di liriknya Kirana yang masih duduk membelangi nya, membuat ia menganti posisi duduknya menajadi di depan Kirana menghadap.
Mata Kirana membulat saat melihat wajah Jonathan dari jarak dekat. Wajah Lelaki itu sudah sangat berbeda dari terakhir ia memandangnya, kulitnya putih tak bercela dengan kedua alis hitam tebal yang terbentuk rapi dan tegas. Mata Jonathan lebih sipit dari nya dengan kedua bola matanya yang hitam kecokelatan. Hidung nya mancung dengan ujung nya meninggi, membuat wajahnya makin sempurna. Dan bibir nya...
Kirana memalingkan muka dengan wajah merah padam. "Apa-apaan ??" ia berusaha melepas kedua tangan Jonathan dari kedua pipi nya, namun Lelaki itu tak mengijinkan dan tetap membuat wajah Kirana menghadap ke arah nya.
"Aku mencintai mu Kirana." Jonathan berkata, membuat gerakan gadis itu terhenti dan mau tidak mau akhirnya menatap Teman masa kecil nya itu. "Nggak peduli kau mau berpenampilan seperti apa, atau bahkan masa lalu buruk tentang kelahiran mu.." Jonathan berhenti sesaat untuk menatap wanita yang telah berhasil menawan hatinya selama bertahun-tahun. "Di sini.." ia memegangi dada nya sendiri dengan tangan kanannya, sedang tangan yang lain masih berada di pipi gadis itu. "Hanya ada Kirana Maira Mathadinata..." lanjutnya membuat pandangan Kirana terunduk dengan hati yang berdebar.
Hari telah berubah gelap saar Eva membuka mata dan melihat wajah putra kesayangannya itu memandang cemas ke arah nya dengan tangan yang mengengam lembut jemari tangannya yang bagian punggung nya di pasang jarum infus.
"Mom.." Dave tersenyum. Ada kelegaan di wajah laki-laki muda itu saat Ibu nya membuka mata.
"Dave.." Eva mengangkat tangannya dan mengelus pipi anak Lelaki nya.
Dave langsung memeluk wanita yang amat sangat di cintai dan di sayangi nya itu. "Syukurlah Mom..." kedua alis nya saling tertaut, matanya mulai berair. Ia takut kehilangan Ibu nya.
"Maaf ya Dave.." suara Eva terdengar di barengi mereka yang melepas pelukan. Di elus-elus nya tangan anak nya yang masih mengenggam tangannya yang tergolek lemah. "Mom membohongi mu selama bertahun-tahun..." ia berucap dengan wajah pucat dan mata bagian bawahnya yang bengkak entah karena terlalu banyak menangis atau kurang tidur.
Sesaat Dave terdiam, tak perlu di jelaskan lagi lara hati nya. Tapi membicatakan soal lara hati, pasti lah Ibu nya lebih sakit hati. "Aku mengerti Mom, nggak perlu di jelaskan atau minta maaf." ia tersenyum meskipun kaku dan wajahnya yang penuh kesedihan tidak bisa di bohongi.
__ADS_1
Eva tahu anaknya berbohong demi dirinya, namun ia tak berkata apa pun lagi dan balas tersenyum sambil mempererat genggaman tangannya.
Suasana kamar mewah yang luas dengan nuansa putih-gold dengan ranjang besar yang terlihat empuk dan nyaman itu lah wanita berusia 50 tahun itu tertidur dengan selang infus yang terjulur dari punggung tangannya.
Pandangan Eva mengawang melihat plafon tinggi berwarna putih dengan ukiran rumit dibatas nya. Ingatannya mengawang, di sini lah dia dulu sering menangis seorang diri tanpa ada seorang pun yang tahu tentang luka hati nya.
"Mom, kita berobat ya ?" Dave berkata pelan, membuat Ibu nya itu menoleh ke arah nya.
Eva menghela nafas dan kembali menatap langit-langit kamar nya.
Dave sudah menduga Ibu nya akan kembali bersikap menolak, di ambil nya beberapa kertas dokumen di atas nakas. "Tadi..aku baru dari Apartemen..ah, bagaimana aku memamggil..?" Dave berusaha tersenyum meskipun bati nya masih terguncang dan ia sulit menerima kenyataan.
Eva menoleh ke arah anak nya.
"A, aku panggil Papa saja untuk membedakan dengan Dad." ia berucap, masih sambil tersenyum.
Ragu-ragu di serahkan kertas-kertas itu pada Ibu nya. Eva menerimanya bersamaan ia yang berganti posisi duduk bersandar pada kepala ranjang yang di bantu Dave dengan meletakkan bantal pada punggung Ibu nya agar nyaman.
"Lihat lah di balik nya Mom." Dave berkata saat Ibu nya itu lebih fokus pada tulisan-tulisan di kertas tersebut.
Eva menurutinya. Di balik nya lembar kertas yang mulai menguning pada ujung-ujung nya. "Gambar siapa ini Dave ? Kenapa terlihat sombong sekali dia." kening wanita itu berkerut.
Dave tersenyum geli mendengar nya. "Coba Mom perhatikan lebih seksam." ia berkata.
Dan saat wanita dengan rambut panjang putih nya dan tergerai begitu saja itu menutup mulut dengan mata terkejut, Dave sadar jika Ibu nya itu telah menyadari nya.
"Aku menemukannya di meja kerja nya." Dave berkata sambil memandang wajah Ibu nya yang mulai memerah dengan tangan yang bergetar.
"Apa benar..i,ini...??" Eva tak bisa melanjutkan kata-katanya karena air mata nya sudah duluan terjatuh membasahi kedua pipi nya. Ia terisak menatap sketsa wajah dirinya yang hanya di gambar sederhana di balik kertas dokumen entah apa.
"Bukankah Mom sering mengatakan jika hubungan kalian hanya sebatas kesalahan...?" Ragu-ragu Dave berkata, ia tidak mau Ibu nya salah paham dan malah menyakiti hati nya. "Meskipun di gambar di kertas bekas, tapi bukankah dengan itu malah menunjukkan jika hanya Mom yang bisa memecah konsentrasi nya saat bekerja, sampai-sampai harus menggambar wajah Mom di balik kertas dokumen yang tengah ia pelajari ?" Dave hanya menebak, hanya supaya Ibu nya punya semangat untuk hidup.
Namun wanita 50 tahun itu sudah menangis sambil meletakkan kertas bergambar di dirinya itu di dada dan memeluk nya dengan hati-hati.
Sosok Rendy, Ayah kandung Dave memang gila kerja dan Eva masih mengingat semua dengan jelas. Tidak ada yang bisa mengoyakkan kecintaan Lelaki yang selalu memenuhi hati dan pikirannya itu pada pekerjaan. Sikap nya yang diam dan kaku nyaris seperti Dave, anak nya.
Rasa sesal karena tidak bisa mengungkap kan atau pun bertanya tentang perasaan masing-masing yang melingkupi hidup Eva sejak kematian Rendy yang tiba-tiba, kini terjawab.
"Dasar bodoh, kenapa dia mengambar raut wajah ku segalak ini...??" ia menangis membayangkan sosok mirip Dave itu tengah tersenyum pada nya.
Awalnya Dave takut Ibu nya terus menangis sampai membungkukkan badannya sambil memeluk kertas itu, tapi akhirnya Dave tahu. Jika tangis Ibu nya adalah tangis bahagia akan perasaan lega yang selama ini menjadi batu hitam di hati nya.
__ADS_1
Tidak apa hati nya hancur karena kenyataan yang harud ia terima, ia bisa bertahan. Asal ia bisa melihat wanita yang sangat ia cintai itu tersenyum bahagia meskipun wajahnya memerah di penuhi air mata, air mata bahagia tentua saja.