
Kegiatan lempar bantal dan boneka dari dua orang itu langsung terhenti saat Dave masuk dan menaruh baki berisi mangkuk mi itu di atas nakas.
Baik Kirana dan Jonathan memandanginya.
"Ibu yang bikin." ucap nya dengan wajah datar dan langsung pergi begitu saja tanpa permisi.
"Apa kalian benar-benar bersaudara...?" Jonathan berkata setelah punggung Dave tak terlihat. "Benar-benar nggak ada sopan santunnya." ia berdecak kesal.
Kirana diam tak menanggapi, ia tertunduk dengan wajah memerah mengingat mimpi liar nya dengan Dave.
"Ibu membuatkan mu mi instan Kirana." Jonathan sudah mengambil mangkuk mi tersebut dan berniat menyuapkan pada Gadis yang masih saja diam tertunduk itu.
"Aku sedang malas makan." tolak Kirana saat Jonathan akan menyuapkan sendok berisi sayur dan mi itu ke arahnya.
"Ayolah...kau paling suka mi instan kan...??" Jonathan masih berusaha menyodorkan sendok tersebut.
Kirana mengigit bibir bawahnya, sebenarnya ia juga lapar, tapi mengingat semua yang Dave kata kan padanya sungguh membuat dia frustasi, membuat ia bahkan enggan untuk melihat wajah kedua orang tuanya.
"Satu suap." Jonathan berkata.
Kirana masih memandanginya.
"Keburu mengembang mi nya." di sodorkannya lagi sendok itu lebih dekat ke mulut gadis dengan rambut nya yang panjang tergerai bebas dan masih memakai piyama tidur dengan selang infus yang terpasang di punggung tangan kanannya.
Dengan enggan akhirnya Kirana mau membuka mulutnya, ia terdiam sesaat sambil mengunyah mi dengan kuah yang terasa hangat di tenggorokannya tersebut. "Kenapa rasanya berbeda...??" ia bertanya dalam hati.
"Kenapa..?" Jonathan yang hari ini memakai kaos warna biru tua dan celana jeans hitam memandang Kirana yang seperti memikirkan sesuatu.
"Enggak." kirana menjawab cepat. "Berikan padaku, aku makan sendiri." tanpa menunggu persetujuan dari Jonathan, Kirana langsung mengambil begitu saja mangkuk putih dari porselen yang bawahny di beri tatakan kain agar tidak panas.
"Kau kelaparan yaa...??" Jonathan terkekeh saat melihat calon Tunangannya itu makan dengan lahap, bahkan dia meminum kuah dari mi itu langsung dari mangkoknya.
__ADS_1
"Rasanya berbeda, walaupun di beri sayur, tapi lebih enak." Kirana berkata jujur sambil memberikan mangkok yang telah kosong ke pada Jonathan, yang kemudian di taruhny di atas nakas.
"Bilang saja selama ini kau menahan lapar karena gengsi." Jonathan memberikan gelas berisi air putih kepada Kirana yang langsung di minum nya separuh, kemudian di kembalikannya lagi pada Jonathan dan kemudian di taruhnya di atas nakas bersama mangkok kosong tadi.
"Semalam aku benar-benar sakit dan nggak nafsu makan tahu." ucap Kirana kesal sambil mengelap mulutnya yang belepotan kuah mi dengan punggung tangan kirinya.
Jonathan kembali tertawa melihat ekspresi Kirana yang terlihat lucu di matanya.
"Jadi...kenapa kau sampai mabuk...?" wajah Jonathan yang putih dan bermata sipit itu melihatnya serius.
Kirana mengatupkan bibirnya dengan kening berkerut. "Pasti Shopie." ucapnya makin kesal.
"Shopie itu khawatir padamu." Jonathan melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya pada pinggir kepala ranjang.
Wajah Kirana langsung masam.
"Apa yang kau pikirkan sampai minum-minum seperti itu...?" kembali Jonathan berkata. "Shopie sampai menelpon ku karena kau nggak mau pulang ke rumah dan terus menangis."
"Kau tahu, aku langsung membatalkan semua jadwalku begitu Shopie menelponku dan memberitahu keadaanmu." Jonathan berkata. "Dari Bandara aku langsung menelpon Shopie, dan apa yang aku dengar, kau ke Club dan mabuk di sana." Wajah Jonathan yang biasanya lembut penuh senyum saat memandagnya, kini terlihat marah.
"Kau nggak perlu mengkhawatirkan ku." Kirana memalingkan muka dengan keningnya yang masih berkerut.
Jonathan menarik lengan Kirana kesal, membuat gadis itu terkejut dan menoleh ke arah nya. "Apa karena kita di jodohkan, makannya sikap mu berubah seperti ini pada ku...?" mata nya yang sipit dan berwarna hitam kecokelatan itu menatap Kirana tajam. "Kau sampai merubah penampilanmu seperti ini, supaya aku menjauhimu...??" tanyanya membuat mata cokelat terang milik Kirana membulat.
"Kata siapa..." Kirana berusaha mengelak, tapi Jonathan memegangi kedua pundaknya agar ia menghadap lurus ke dirinya.
"Dengar, mau kau merubah penampilanmu seperti apa pun, itu tidak akan merubah perasaanku pada mu." ucap Jonathan yang membuat kedua pipi Kirana memerah, jarak wajah mereka hanya 2 jengkal dan Kirana bisa melihat kesungguhan dari kedua bola mata milik Lelaki itu.
Ia memalingakn muka dengan perasaan tak menentu.
"Aku sudah menyukai mu dari kita kecil, jadi ada atau enggak perjodohan ini, aku tetap akan menjadikan mu Istriku." Kembali Jonathan berkata.
__ADS_1
Ia mengulurkan tangan kanannya meraih pipi Kirana agar gadis itu memandangnya, dan ia tersenyum saat mata dengan warna bola mata yang indah itu melihat ke arahnya. "Aku nggak tahu kau ada masalah apa sampai mabuk seperti itu, tapi jika kau berkata, kau bukan anak yang di inginkan, percayalah...itu hanya omong kosong yang di ucapkan seseorang dengan niat merusak kebahagiaan Keluargamu."
...----------------...
Dave yang mengenakan kaos abu tuanya yang di rangkap jas warna hitam telah duduk bersama Neneknya yang tampak anggun dengan atasan kebaya warna putih dengan bawahan rok batik.
Mereka duduk di deretan bangku nomor 2 dari depan, menyaksikan pertunjukan balet Angela yang tampak begitu anggun dan menjiwai perannya dalam black swan sebagai Odette dan Odile sekaligus.
"Lihat, cantik dan berbakat sekali Tuanganmu itu." Erika berbisik di telingan Dave." Dia bisa memerankan dua karakter berbeda dengan begitu apik, Nenek bangga sekali pada nya." ia memuji.
"Iya, Nek..." Dave tersenyum, membuat Neneknya yang masih terlihat bugar di usianya yang sudah kelala 8 itu menatap ke arahnya.
"Kenapa cuma iya..?" ia berkata. "Puji jugalah dia." lanjut Erika.
"Eemm...iya." Dave tampak canggung.
"Cucuku ini..." Wanita dengan wajahnya yang sudah berkeriput namun masih terlihat cantik dengan lipstik merah nya itu mengelus-elus punggung tangan Dave. "Kenapa bilang iya lagi...?" ia tersenyum geli, membuat mata DaVe membulat kemudian menunduk.
Di Aula besar itu tampak panggung megah yang sedang berlangsung pertunjukan balet dengan Angela sebagai Pemeran utama wanitanya, dan di situ berjajar kursi-kursi dari kelas VVIP sampai reguler terisi penuh oleh Penontonnya.
"Kau senang tinggal dengan Daddy mu...?" tanya Erika lagi, membuat Dave kembali menoleh ke arahnya. "Maaf Nenek menganggu mu melihat pertunjukan Angela, tapi kapan lagi Nenek bertanyan jika tidak sekarang...?" ia berkata.
"Iya, Nek..." Dave tersenyum tanda tak masalah. "...Aku senang tinggal bersama Dad." ia berucap.
"Syukurlah kalau kau senang." sesaat Erika menepuk-nepuk punggung tangan Dave pelan sambil tersenyum sayang pada nya. "Sejak kecil kau selalu bilang iya, iya...dan sampai besar pun kau masih bilang iya." Neneknya itu berkata. "Tapi kau sampai berani mengeluarkan pendapatmu sendiri dan menetang Kakekmu, pasti karena kau begitu ingin tinggal dengan Daddy mu."
Dave hanya diam dengan wajah tertunduk ke arah Neneknya.
"Kakekmu memang orang yang keras, tapi Nenek lah yang paling tahu seberapa besar sayangnya padamu." Erika menagkup telapak tangan kanan Dave dengan kedua tangannya. "Yang ingin Nenek sampaikan pada mu, yang sudah terjadi biarlah terjadi...Mommy dan Daddy mu sudah berpisah, meski Mommy mu memilih hidup sediri, tapi Daddy mu sudah memiliki Keluarga, dan Nenek tahu Istrinya orang yang baik..." Erika berhenti sebentar, memandang wajah Cucu satu-satunya dari garis keturunannya yang sangat sulit untuk memiliki anak.
Suara musik klasik mengalun merdu, Angela yang menari dengan begitu anggun tak terlihat di mata Dave meskipun kini Lelaki itu mengarahkan pandangannya lurus ke arah panggung.
__ADS_1
"...Jangan ada perasaan benci atau dendam di hatimu karena perceraian Mommy dan Daddy mu." Erika kembali berkata sambil mengelus punggung tangan Dave. "Kakekmu sudah tua, sulit untuk Nenek nasehati walau berapa kali pun, tapi kau masih muda dan Nenek harap sikap kolot dari Kakekmu tidak menurun padamu."