
Marisa melepas pelukannya, di pandangi nya wajah Dave yang sembab. "Kami lah yang seharusnya minta maaf pada mu, Nak." Marisa menagkup pipi Lelaki muda yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu. "Kami dengan seenak nya merahasiakan semua dari mu." ia memelas menatap wajah Dave. "Kami egois saat itu, tapi percayalah...semua kami lakukan untuk kebaikan mu." ia mencoba membuat Dave supaya mengerti.
Di pandangi nya wanita yang sejak kecil ia panggil Ibu dengan perasaan enggan, namun kini ia bisa dengan tulus memanggil nya Ibu. "Aku paham, Bu." Dave tersenyum, membuat wajah Marisa malah semakin berkerut sedih.
Kirana yang berdiri di belakang Ibu nya hanya diam melihat adegan Ibu dan anak tersebut.
"Yang nggak aku paham, kenapa Ibu masih bisa bersikap baik setelah aku melontarkan kata-kata kasar penuh hinaan ?" Dave memandangi nya.
Marisa tersenyum meskipun wajah nya sembab dan ia tadi beberapa kali menghapus air mata nya. Di elus nya lengan Dave beberapa kali. "Karena kau berhak untuk marah." ia berucap, membuat Dave tertegun menatap nya. "Kau marah karena kau tidak tahu, dan setelah kau tahu kau minta maaf bukan ?" kembali wanita yang ia panggil Ibu itu tersenyum.
Angin segar menerpa wajah Dave, ia menatap wanita berusia 43 tahun itu baik-baik. Rasanya ia mengerti kenapa Ayah nya begitu mencintai nya.
"Terimakasih, Bu.." sekali lagi Dave tersenyum lembut.
Ia tersenyum pada Ibu nya, tapi Kirana di belakang yang terpaku dengan wajah merona.
Di peluk nya Dave sekali lagi dengan sayang, kemudian di gandeng lengannya untuk masuk ke dalam. "Ayo masuk, bagimana luka di kepala mu ?" ia bertanya.
"Sudah nggak apa-apa, Bu." Dave menjawab singkat.
Langkah mereka terhenti saat Marisa menoleh ke belakang. "Kirana ? Kenapa masih berdiri di situ, Nak ?" Marisa heran melihat putri nya itu masih mematung di tempat nya.
Kirana seperti baru tersadar, matanya menatap ke arah Ibu nya, tapi yang di lihat Dave yang tengah memandang ke arah nya.
"Ayo, Nak." Marisa mengulurkan tangan kiri nya.
"Ya, Bu." akhirnya Kirana bisa berkata. Ia berlari kecil dan menyambut uluran tangan Ibu nya tersebut.
Jadi lah wanita itu mengandeng lengan Kirana dan Dave di kiri-kanan nya.
Perjalanan dari danau di halaman belakang ke rumah induk bisa memakan waktu hampir 15 menit jalan kaki. Dengan langkah Marisa yang lambat, otomatis kedua nya harus menyesuaikan dan itu berarti memakan waktu lebih lama.
"Senang sekali rasanya di gandeng dua orang anak Ibu." Marisa merapatkan lagi keduanya, membuat Dave dan Kirana saling tatap kemudian saling memaling kan muka.
Marisa terus bercerita ini dan itu tanpa menyadari jika dua orang anak nya tampak kikuk satu sama lain. Sampai mereka masuk ke rumah dan kini telah duduk di ruang Keluarga yang di situ telah ada Andreas beserta Kiandara yang berada dalam pangkuannya.
"Kak Dave !" Kiandra langsung ceria saat melihat Dave datang. Ia bangkit dan berlari memeluk Lelaki tersebut.
Dengan senang hati Dave membungkuk dan menerima pelukan dari Adik nya tersebut.
"Kata Ibu, Kak Dave sakit ya ?" mata cokelat terang nya yang lebar memyirat kan kekhawatiran.
"Iya, tapi sudah sembuh." Dave tersenyum sambil menegangkan badannya dan mengelus puncak kepala anak kecil berusia 5 tahun tersebut.
Sementara Marisa dan Kirana telah duduk di sofa yang berhadap-hadapan dengan di mana Andreas berada.
"Bagaimana kabar mu Dave ?" tanya Andreas saat ia duduk di samping nya di ikuti Kiandra yang terus menempel pada nya.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat Dad, semuanya baik." ia menjawab.
"Aku akan menyiap kan camilan !" Ucap Marisa girang sambil bangkit berdiri dan menepukkan kedua tangannya.
"Suruh saja Pelayan yang menyiapkan." Andreas memberi saran.
"Tidak, tidak...aku bisa menyiap kan semua sendiri." Istri nya itu sudah berjalan menjauh, membuat Andreas menghela nafas panjang.
"Cari alasan apa ya supaya bisa pergi dari sini ?" Kirana berkata dalam hati. Duduk berhadap-hadapan dengan Dave seperti ini membuat punggung nya berkeringat karena gugup.
"Apa ?"
Suara Ayah nya yang besar membuat Kirana mengangkat wajah nya.
"Rendy membuat sektsa wajah Eva ?" Andreas tak percaya.
"Iya, aku menemukannya di antara tumpukan berkas di kamar Apartemen nya." Dave berkata.
"Astaga..orang itu..hahahaha..." Andreas tak bisa menyembunyikan rasa geli nya saat membayangkan wajah saudara nya yang hampir tanpa ekspresi itu mengambar sketsa wajah seorang wanita.
"Apa seaneh itu ?" Dave heran melihat Ayah nya itu bisa tertawa sampai terpingkal seperti itu.
"Tidak...hanya..." Andreas sampai menghapus air mata nya di ujung. Di pandangi nya wajah Dave yang begitu mirip dengan Saudara nya yang telah meninggal tersebut. "Aku hanya berpikir, jika saja dia mau jujur dengan perasaanya, pasti sebisa mungkin aku akan membantu nya. Walaupun aku harus berhadapan dengan Kakek mu, Dave." Andreas berkata pasti.
Dave terenyuh, ia jadi teringat Kakek nya yang sampai saat ini belum menemui atau berbicara lagi dengannya. Kata-kata itu secara tidak langsung juga menyindir diri nya yang selalu menyimpan semua sendiri, tak pernah jujur dengan apa yang di rasa. Menekan dan membuang jauh ke dalam lubuk hati nya.
"Beberapa saat lalu aku bertemu dengan Kakek mu di Perjamuan Para Pengusaha, dan dia terang-terang an menunjukkan sikap bermusuhan dengan ku." Andreas berdecak sinis.
"...Aku dan Mom memutuskan untuk tinggal di Apartemen..eemm.." Dave terlihat sulit untuk melanjutkan kalimatnya. Rasanya aneh menyebut orang yang tidak ia kenal dengan sebutan Papa.
"Iya, lebih baik kalian tinggal di Apartemen Rendy." Andreas langsung tahu apa yang di maksud Dave tanpa dia melanjutkan kalimat nya. "Rendy memang tidak suka tempat tinggal yang terlalu mewah, bagi dia yang penting nyaman." Andreas memandang nya.
"Iya Dad , tempat itu nyaman. " ia tersenyum. "Selama tinggal di situ kesehatan Mom juga berangsur membaik." kali ini nada bicara Dave terdengar lebih bersemangat. "Beberapa hari lalu bahkan kami memasak bersama."
Andreas tertawa mendengar nya. "Aku rasa itu bukan kamar Apartemen tapi dapur besar." gurau nya.
Dave tertawa.
Tanpa mereka sadari Kirana dari tadi hanya terbengong menatap Dave tanpa berkedip dengan mulut yang sedikit membuka.
"Kak Dave kalau tertawa ganteng banget." Kiandra yang duduk menepel pada nya berkata. "Kirana sampai ngiler tuh !" tunjuk nya pada Kirana.
Gadis itu langsung tersadar, cepat-cepat ia menutup mulut dan mengusap nya dengan punggung tangan. "Siapa yang ngiler ?" amuk Kirana. Ia panik saat Dave menatap nya.
Andreas sendiri tertawa geli dengan tingkah putri nya. Sama sekali tak ada curiga atau apa pun yang terlintas di pikirannya ketika putri cantik nya itu sampai menatap Dave seperti itu.
Kiandara tertawa terpingkal-pingkal saat bantal kursi yang di lempar Kirana ke arah nya malah mengenai Dave, membuat wajah gadis itu langsung memucat.
__ADS_1
"Maaf kan aku !" Kirana semakin gugup. Ia sudah berdiri untuk mengambil bantal yang ia lempar itu kembali, tapi Dave hanya diam melihat ke arah nya dengan bantal yang berada di tangannya.
"Wajah mu konyol Kirana !" tawa Kiandra menunjuk Kakak perempuannya.
Andreas tak begitu memperhatikan, ia hanya menganggap itu sebagai hiburan dari anak-anak nya.
Jantung Kirana sudah seperti akan melompat saat di tatap Dave seperti itu. Wajah datar nya benar-benar membuat Kirana gemas ingin mencium nya.
Kirana tersentak kaget oleh pikirannya sendiri. "Apa yang kau pikir kan ??" erang nya dalam hati.
"Waah..sedang membicarakan sesuatu yang lucu ya ?" Marisa datang dengan nampan penuh makanan kecil. Di belakang nya seorang Pelayan sudah menghidangkan wedang ronde yang menghangatkan.
"Dave, coba lah." Ucap Marisa setelah meletakkan nampan berisi camilannya dan di tata oleh Pelayan yang langsung pamit pergi begitu tugas nya selesai. "Kau tahu wedang ronde ? Ini Ibu sendiri yang buat." ia tersenyum.
Kirana sudah duduk kembali di tempat, "Untung lah Ibu datang." ia memegangi dada nya yang bergemuruh.
Kiandra sudah mencomot roti sifon yang di hidangkan, sedang Andreas sudah menyeruput wedang ronde nya.
"Aku tahu Bu." Dave menjawab sambil menerima mangkok kecil berisi minuman berisi air jahe dengan agar-agar, potongan roti kecil-kecil, sagu mutiara dan bulatan putih kenyal berisi tumbukan kacang manis. "Kakek menyukai nya dan aku sering membuat kan nya jika senggang." ia bisa mencium aroma jahe yang kuat dari minuman yang masih mengepul kan asap panas nya tersebut.
"oya ??" Marisa tak percaya.
Tapi Dave tak mau menerangkan lebih jauh, ia sudah menyendokkan kuah jahe dengan sagu mutiara nya tersebut ke mulut. Menciptakan rasa manis yang hangat di kerongkongan.
Sangat pas menikmati minunan ini di malam yang dingin di musim hujan.
"Mungkin untuk beberapa waktu, mom dan aku akan kembali ke Paris." Dave berkata setelah meletakkan mangkok kosong nya ke atas meja. Membuat semua yang berada di Ruang Keluarga itu menatap ke arah nya, termasuk Kirana yang sedang menikmati wedang ronde nya sendiri.
"Kenapa ? Apa Apartemen Rendy kurang nyaman ?" tanya Andreas.
"Nggak, Dad." Dave menatap Lelaki yang akan selalu ia anggap Ayah tersebut.
"Lalu kenapa Dave ?" kali ini Marisa yang bertanya. "Kau baru saja masuk Kuliah di sini kan ?" tanya nya.
Dave tersenyum kepada wanita yang ia panggil Ibu itu. "Aku akan ambil cuti mungkin, Bu." jawab nya.
Kirana lagi-lagi hanya bisa menatap Dave kalut.
"Setelah bertahun-tahun, akhirnya Mom mau berobat." Dave menerangkan. "Dengan penyakit Mom yang sudah parah, aku nggak yakin dengan pengobatan di sini."
Meskipun ia sedang berbicara dengan Andreas dan Marisa, tapi mata Dave tertuju pada Kirana yang kedua alisnya sudah saling tertaut memandang nya.
...----------------...
Makasiih Kak Ida untuk Cover nya 🙏😍
Next bikin Abang Badas yang udah jinak ya 😂❤
__ADS_1