
Seluruh kantor langsung gempar. Lebih-lebih Andreas yang mendengar kabar adanya bangkai kucing dengan leher terpotong di ruangan putrinya. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu dalang di baliknya.
"Apaa ?!" Andreas berdiri sambil mengebrak meja kerjanya.
"Seluruh cctv telah di matikan sebelumnya." Seorang pria dengan setelan jas hitam itu berkata. "Sepertinya pelaku orang yang paham betul tentang seluk-beluk kantor." ia menambahkan.
Kerutan di dahi Andreas bertambah. "Orang dalam ?" tanyanya dalam hati.
"Tapi ini hanya hal sepele, kami sudah meminta bantuan kepolisian untuk menyelidikinya." Pria itu menenagkan. "Saya rasa ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Hanya mungkin untuk sementara Nona muda tidak keluar dari rumah meskipun itu hanya ke tempat terdekat." ia menyarankan.
Andreas tak berkata apa pun. Ia tak menyangka bisa sampai seperti ini teror yang di terima Kirana. "Apa sebegitu fanatik fans Jon ?" kembali ia bertanya dalam hati. "Jika di Jepang itu mungkin saja, tapi di sini ?" Andreas mendengus, tak habis pikir dengan semua permasalahan yang tengah di hadapi Keluarganya.
Sementara itu Rumah Keluarga Martadinata. Di dalam kamarnya, Shopie berusaha menghibur Kirana yang masih syok.
Bayang-bayang kepala kucing yang biasanya selalu ia gendong dan menjilat lembut tangannya itu kini terpotong dengan darah yang mengenang di meja kerjanya.
Badan Kirana mengigil. Di peluk lebih erat boneka pucca nya dengan air mata yang meleleh.
"Sabar, ya, Kirana.." Shopie mengusap-usap pundaknya. Mencoba untuk menenagkan Kirana yang masih terlihat terpukul.
Kirana terisak. "Ke, kenpa sampai membunuh hewan yang nggak bersalah ?" tangisnya. Hati Kirana memang lembut, empati nya sangat tinggi. Sampai-sampai ia bisa ikut merasakan sakitnya kucing itu di detik-detik saat kepala nya hendak di pengal dan hanya bisa mengeong tanpa ada yang menolong. Mengingat hal itu, kembali Kirana merasa mual.
"Kirana ?" Shopie berkata saat melihat Kirana menutup mulutnya dengan tangan. "Ada apa ?" tanyanya khawatir.
Kirana tak menjawab dan langsung lari ke kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar tidurnya.
Shopie mengikuti di belakang. Di dalam kamar mandi Kirana kembali muntah-muntah. Shopie berusaha meredakan dengan memijit leher bagian belakang Kirana.
"Kirana.." Shopie prihatin.
Tak berapa lama pintu terbuka. Marisa masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Tapi saat melihat anaknya kembali muntah-muntah, ia segera menaruh nampan itu di atas tempat tidur dan berjalan tergesa ke kamar mandi.
__ADS_1
Sejak kejadian kucing terpenggal dengan luka sayat di leher, kesehatan Kirana memang langsung turun.
Dibantu nya Kirana untuk duduk bersandar pada kepala ranjang dan di selimuti kakinya dengan selimut.
"Minum teh hangatnya." Marisa meminumkan teh hangat yang tadi ia bawa kepada putrinya.
"Terimakasih, Bu." Kirana berucap setelah meminum setengah gelas.
"Apa sudah enakan ?" tanyanya sambil menaruh gelas teh hangat ke atas nakas.
Kirana mengangguk.
Marisa tersenyum dan bernafas lega. "Ibu buatkan bubur sumsum dengan gula merah cair. Masih hangat, Ibu suapkan ?" Marisa telah mengambil mangkok putih dan bersiap menyuapkan.
"Enggak, Bu." Kirana mengeleng. "Perutku nggak enak." ucapnya.
"Dari kemarin sore kau belum makan, Kirana." Marisa mencoba membujuk.
Kirana tetap enggan.
Marisa terkekeh, sedang Kirana hanya tersenyum simpul.
"Makan, ya ?" tanda persetujuan Kirana, Ibu nya telah menyendokkan bubur sumsum itu ke mulutnya.
Bubur yang hangat dan manis lumer di mulut Kirana. Membuat Kirana bisa sedikit menikmati.
"Lagi, ya ?" Marisa tersenyum sambil menyuapkan bubur lagi ke mulutnya.
Kirana tak menjawab, namun ia mau menerima suapan Ibu nya.
"Oya, Shopie juga Tante bawakan." Marisa sampai lupa jika ia juga membawakan semangkuk bubur untuk Shopie yang sejak kejadian terus menemani Kirana.
__ADS_1
Shopie yang sedang memperhatikan Ibu dan anak itu tergagap. "Ah, te, terimakasih, Tante." ucapnya sambil tersenyum lebar. Di terimanya semangkuk bubur sumsum dengan gula merah cair di atasnya dengan senang hati.
"Seperti dengan siapa saja." Marisa tertawa kecil. "Ayo di makan selagi hangat." ucapnya.
"Iya." Shopie segera menyendokkan bubur ke mulutnya. "Dari dulu Tante memang pintar memasak." puji nya.
"Tante hanya bisa memasak yang sederhana seperti ini." Marisa terkekeh.
"Sederhana tapi enak Tante." Shopie memakannya lahap. "Kau beruntung, Kirana." Shopie menyenggol pundak Kirana yang sedang melamunkan Dave.
Memorial Park, di waktu yang sama. Dave berdiri berdampingan dengan Ibunya yang kini tak lagi selalu memakai baju warna hitam. Mereka baru saja mendoakan yang terkasih dan tengah tertidur dalam waktu nya yang abadi. Taburan bunga warna putih dan merah tersebar di atas gundukan tanah berlapis rumput jepang hijau. Di atas batu granitnya yang bertulis RENDY A MARTHADINATA terdapat vas bening berisi air dengan rangkaian bunga sedapmalam dan krisan warna putih.
"Papa kandungmu orang yang pasif." Eva mengawali ceritanya saat Dave meminta untuk memberitahu seperti apa Ayahnya.
Dave diam mendengarkan sambil menatap nisan yang terbuat dari batu granit putih itu.
"Pembawaanya tenang dan tidak banyak bicara." Eva menoleh ke arah Putranya. "Hampir seperti dirimu, Dave." Eva tersenyum.
Dave terperangah. Tapi kemudian ia menutup mulut dan memilih mendengarkan.
"Karena sama-sama diam, sampai dia meninggalpun, Mom tidak tahu jika dia juga mencintai Mom." Eva memandang gundukan makam tersebut dengan raut wajah sedih, namun bibirnya menyungging senyum.
Dave serasa tertampar oleh kata-kata Ibunya. Meskipun dia tahu, Ibunya tidak bermaksud menyindir, karena jangankan menyindir. Ibunya bahkan tak tahu jika Dave lah lelaki yang di peluk Kirana dan pangkal dari semua skandal yang berakhir dengan batalnya pernikahan Jonathan dan Kirana.
Ibu dan anak itu terdiam sesaat sambil memandangi bentangan langit sore dari atas tanah pemakaman yang berada di atas bukit itu. Angin bertiup, membawa aroma wangi bunga kamboja yang pohonnya banyak tumbuh di sekitar area makan yang tertata dan sangat terawat itu.
"...Jika Mom bisa memutar waktu, apa yang akan Mom lakukan ?" tanya Dave sambil memandangi wajah cantik wanita yang telah melahirkannya itu.
Eva membulatkan mata. Tidak biasanya anaknya bertanya hal tak masuk akal seperti itu. Tapi saat ia memandang langit biru dengan awan berarak, ia menghela nafas panjang dan tersenyum menatap Dave. "Mom akan berlari menemuinya. Menyingkirkan semua laporan dan laptopnya dan berkata bahwa Mom mencintainya."
Dave tertegun. "Bagaimana dengan status.." dia tak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Rambut panjang Eva yang telah di cat warna hitam berkibar. Menambah pesona wajah wanita yang Dave letakkan tinggi di atas segalanya.
"Dunia membuat kita lalai dengan kematian, Dave." wanita berusia lima puluh tahun itu berkata. "Saat itu pun, Mom tak menyangka akan begitu cepat kematian merampasnya." Ia memandangi putranya yang bagai pinang di belah dua dengan dia yang ia rindukan "Dan saat semua sudah terjadi, hanya penyesalan yang mengelayuti." Eva memalingkan muka dan menatap kembali batu nisan di depannya.