
"Apa ?" kening Ayahnya berkerut memandangi Kirana yang duduk di depannya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, mereka baru saja selesai makan malam bersama dan kini tengah berkumpul di ruang keluarga.
Kebiasaan yang selalu di jalankan Keluarga Kirana. Mau sesibuk apa pun Ayahnya itu, pasti akan menyempatkan pulang untuk makan siang dan pulang kerja sebelun makan malam. Setelahnya mereka akan berkumpul seperti saat ini sambil menceritakan ada kejadian apa saja yang mereka lalui hari ini.
"...Ci, cincin dari Daddy dan Opa hilang..." Ucap Kirana pelan. Matanya memandang takut-takut ke arah Ayahnya yang kini sudah melihatnya dengan mata membelalak.
Ibu nya yang sudah di beri tahu sore tadi hanya diam sambil menyesap secangkir teh cammomile hangatnya.
"Kau ini memang ceroboh Kirana." Kiandara yang duduk di sebelahnya mencibir.
Biasanya Kirana pasti akan langsung menjewer telingan Adik lelakinya atau paling tidak akan memarahi anak kecil berusia 5 tahun itu karena tidak sopan memanggil namanya langsung.Tapi kini Kirana hanya diam pura-pura tak mendengar apa yang Adik nya itu katakan.
"Bagaimana bisa kau menghilangkannya ??" Suara Ayahnya meninggi. "Cincin itu kan kau jadikan kalung !" Ayahnya tak habis pikir.
Kirana diam menundukkan wajahnya dalam-dalam dengan jari-jari tangannya yang saling tertaut di pangkuannya.
"Kau tahu kan Kirana, betapa pentingnya cincin itu untuk Daddy !" Kembali suara Ayahnya yang besar terdengar.
Andreas tak percaya anak perempuannya itu bisa menghilangkan cincin yang sangat berarti untuknya. Ia menyisir ramabutnya ke belakang dengan gusar.
"....Ma, maaf Dad...." Dengan terbata Kirana berkata. Ia melirik sedikit ke arah Ayahnya yang duduk di depannya dan hanya di pisahkan oleh meja kaca dengan kaki-kakinya yang terbuat dari kayu ukir.
Andreas mendesah kesal. "Kau sudah besar, tapi kenapa bisa seceroboh ini ?!" tunjuk Andreas. Ia benar- benar marah dengan putrinya itu. " Daddy memberikan cincin Oma mu kepada Ibu mu sebagai bukti keserius Daddy . Opa mu juga memberikan cincin pasangannya pada mu sebelum beliau meninggal. Menyatukan 2 cincin pasangan itu jadi 1 dan di jadikan liontin kalung agar kau yang ceroboh ini bisa terus memakainya tanpa menghilangkannya. Tapi apa yang terjadi sekarang...??"
Ayahnya yang berwajahn oriental mirip dirinya itu berkata panjang lebar. Kirana mulai terisak mendengarnya, ia merasa bersalah telah menghilangkan benda pemting itu.
"A, aku sudah mencarinya...tapi nggak ketemu..." Kirana berkata dengan suara yang serak menahan tangis dengan wajah yang masih menunduk dalam-dalam. Baru kali ini Ayahnya berkata kasar padanya, membuat Kirana sedih, tapi ia tahu jika ia salah. Makanya dia hanya bisa menunduk dan berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis.
"Mana mungkin bisa ketemu kalau kau sendiri tidak ingat di mana hilangnya ?!" bentak Andreas emosi.
Istrinya masih diam duduk tenang di sebelahnya, seolah tidak ada niatan untuk membantu anak gadisnya yang kini tengah mendapat amuk Suaminya. Kiandara yang bolak-balik memberi kode pada Ibunya, agar mau menolong Kakak Perempuanya. Dan hanya berakhir putus asa karena tetap saja Ibu nya itu tidak mau membantu.
__ADS_1
"Kau ini dulu terlalu di manja Opa mu !" Andreas masih mengomeli Kirana yang kini sudah benar-benar menangis menunduk. "Apa-apa selalu di turuti, salah tidak boleh di marahi ! Makanyan kau jadi seperti ini !" Wajah Ayahnya itu sudah memerah dengan kening nya yang semakin banyak kerutan.
"Bukannya kau dulu juga memanjakannya...?" Istrinya melirik Andreas sebentar, sebelum kembali menikmati cammomille tea hangat nya.
"Ibu ini...kenapa nggak mau nolong Kirana...??" Mata Kiandra yang bulat mirip Ibu nya namun berwarna cokelat terang sama dengan Ayah dan Kakak perempuannya itu menatap Ibu nya yang lagi-lagi pura-pura tak melihat.
"....Ma, maaf... Daddy...." Kirana terisak dengan kedua tangannya yang bergantian mengusap kedua matanya yang sudah banjir air mata.
Melihat Kirana yang seperti itu wajah Andreas yang semula di liputi kemarahan lambat laut melembut.
"Besok...besok aku akan mencari nya lagi sampai ketemu..." Kirana kembali berkata di tengah tangisnya dengan wajah yang masih menunduk.
Andreas menghela nafas panjang mendengarnya. Ia bangkit berdiri dan duduk di samping Kirana.
"Kenapa kau bisa ceroboh begini...?" ia bertanya. Kali ini dengan nada lembut tanpa kemarahan. "Kau tahu berharganya cincin itu kan..??" kembali Lekaki berusia 50 tahun itu berkata sambil memandangi putrinya yang masih menangis tersedu-sedu.
"Maaf Daddyy...." tangis Kirana sambil mengangkat wajahnya yang sembab di penuhi air mata.
Andreas lamgsung membingkai wajah Putri nya tersebut dengan kedua tangannya yang besar. "Sudah...jangan menangis." Ia berkata sambil menghapus air mata di Pipi Putri kecilnya yang kini telah telah menjadi seorang Gadis cantik berusia 20 tahun.
"Besok Daddy suruh orang untuk mencarinya, kau tinggal memberitahu saja, pergi ke mana saja dirimu seharian ini." Kembali Andreas berkata dengan kedua tangannya yang masih mengusap lembut kedua pipi Kirana yang memerah dan lembab bekas air mata.
"Da, Daddy tidak marah lagi...??" Kirana memandang wajah Daddy nya yang selalu terlihat tampan di matanya.
"Daddy masih ingin marah, tapi tidak bisa." ia menjawab ketus sambil mengusap-usap wajah Kirana gemas.
Marisa tertawa terkekeh mendengarnya, membuat Suaminya itu menoleh ke arahnya.
"Lihat, Ibu mu sekarang menertawakan Daddy mu." Andreas berdecak kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada pura-pura marah.
Kirana akhirnya ikut tertawa geli. Di peluk nya Ayahnya dengan manja. " Aku sayang Daddy." ia mengecup pipi kanan Ayahnya lalu tersenyum lebar sampai kedua mata sipitnya tinggal segaris.
Kiandra melongo melihat kemesraan Kakak perempuan dan Ayahnya yang baru saja tadi bertengkar. Lalu menoleh ke arah Ibu nya yang di sambut kedipan mata.
__ADS_1
"Iya...Ibu nggak perlu membela Kirana, karena Daddy nggak mungkin marah beneran pada nya." Kiandra berkata dalam hati sambil melirik ke arah Kakak perempuannya yang kini sudah kembali ceria.
"Oya, kau tidak memberi tahu tentang Dave yang akan menginap di sini ?" tanya Marisa sambil melihat ke arah Suaminya yang masih bermesraan dengan Kirana yang duduk bersandar pada dada bidang Ayahnya dan memeluknya.
"Dave ??" ucap Kirana dalam hati. Ia langsung membenarkan posisi duduknya dan memandang ke arah Ayahnya. "Siapa itu Dave Daddy...?" tanyanya.
"Dia Kakak laki-laki ku !" Kiandra yang menjawab dengan bangga. Kirana langsung melotot ke arahnya.
Marisa memberi kode pada seorang Pelayan yang berdiri tidak jauh dari situ agar menghampirinya.
"Kian, ini sudah malam. Besok sekolah, sekarang bobo yaa...? Nanti Ibu susul." ia berkata lembut sambil tersenyum pada anak lekakinya yang duduk di seberang meja.
Awalnya Kiandra menolak, tapi setelah di bujuk, akhirnya ia mau juga ke kamar di temani Pelayan yang tadi Ibu nya panggil.
Kini di ruang Keluarga itu hanya tinggal Kirana dan Ayah-Ibu nya.
"Ada apa...? Kenapa Kian di suruh tidur dulu ?" Kirana tak mengerti. Ia memandangi Ayah dan Ibu nya bergantian.
Andreas dan Marisa saling pandang, setelah beberapa saat kemudian Andreas berdehem sambil membetulkan letak dudukny.
Di pandanginya anak gadisnya dengan kedua mata cokelat terangnya yang tetap indah walaupun kini di bawah matanya terdapat kerutan. "....Jadi..." ragu-ragu Andreas mulai berkata.
Sekali lagi ia melirik ke arah istrinya meminta dukungan, yang di balas anggukan untuk memantapkanya bercerita.
"....Sebelum menikah dengan Ibumu, Daddy telah menikah." ucap Andreas perlahan.
Mata Kirana langsung membulat.
"Nah...anak Daddy dari pernikahan sebelumnya itu yang bernama Dave, yang akan menginpa di sini untuk beberpaa saat." kembali Ayahnya itu berkata.
Kirana masih syok, ia terdiam sangking terkejutnya. 20 tahun ia hidup dan baru kali ini ia tahu jika Ayahnya sebelum nya telah menikah dan bahkan memiliki anak.
"Dave anak yang baik dan kalian seusia. Pasti kalian akan cepat akrab." Suara Ibu nya terdengar yang membuat Kirana menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Seusia...??" Kirana berkata dalam hati. Keningnya berkerut dengan berbagi pertanyaan yang melintas di kepalanya.