
Jika ketulusan tak mampu mengoyahkan perasaan, bagaimana dengan rasa bersalah dan iba ?
"Tolong Angela.." tangis Anggie begitu Dave memasuki ruang perawatan. Terlihat sekali lelah dan kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Membuat wanita itu terlihat lebih tua dari biasanya.
Dave menelan ludah. Kepalanya terasa kosong menyaksikan akibat dari keputusannya yang tanpa logika.
Adriansyah mengikuti langkah Dave dari belakang sambil mengenggam tangan dan memeluk istrinya yang berhari-hari tak tidur untuk menemani putrinya yang kini hanya bisa berbaring tanpa bisa melakukan apa pun.
Dave mendesah dengan wajah berkerut sedih saat menyaksikan perubahan dari mantan Tunangannya yang baik dan selalu menebar senyum itu.
"Angela.." panggil Dave lembut sambil duduk dan meraih tangan Angela yang bak tulang di balut kulit.
Begitu kurus Angela sampai wajahnya berubah cekung dan terlihat tua dengan tonjolan tulang pipi.
Hati Dave bergetar, bukan karena cinta. Tapi karena kasihan. Ia telah merampas semangat hidup dari wanita baik yang setia menunggu dan selalu ada untuk nya.
Perlahan Angela membuka mata,
"Angela ?" Dave mendekatkan wajahnya.
Mata bulat bak boneka nya itu kini terlihat mencolok dan redup. Bibir pucatnya bergerak tak bersuara, membuat Dave mengenggam tangan Angela lebih erat dan mengusap-usap puncak kepalanya.
"Angela, maaf, kan aku.." ucap Dave tak tega.
Mata besar itu berair, kedua alisnya berkerut dan sedetik kemudian Angela terisak, menangis.
Hati Dave terenyuh. Nunarinya tersentuh. Ia mengutuki perbuatannya yang tanpa perasaan meninggalkan Angela begitu saja.
...----------------...
"Cinta kita adalah luka untuk semua orang.."
Dave terngiang pembicaraannya dengan Kirana beberapa saat sebelum ia menemui Angela.
"Jon, Kakekmu, Nenekmu, Mom." Kirana memandangnya. "Dad, Ibu, bahkan Shopie." Kirana kembali melihat ke arah danau buatan yang berada di halaman belakang rumahnya. "Semuanya terluka karena kita terlalu memaksakan."
Ia hanya termenung menatap wanita di sampingnya. Wanita kekanakan yang jauh dari tipe idealnya. Tapi selalu berhasil membuatnya bertindak tanpa berpikir.
"Dulu aku suka sekali kisah Princess Odette." Kirana kembali bercerita namun tak melihat mata lawan bicaranya. "Dia kena kutuk jadi angsa, makanya aku suka angsa." ia menoleh ke arah Dave sebentar dan tertawa. "Lalu datang seorang Pangeran menyelamatkannya." Kirana tersenyum memandangi danau berair jernih yang terbentang di hadapannya. " Kisah cinta yang indah.." ucapnya. "Aku pun percaya, jika cinta itu harus di perjuangkan dan pada akhirnya pasti happy end setelah melewati segala rintangan." Ia merapatkan kedua kakinya yang di tekuk di dada, memeluk dan menopangkan dagunya di situ.
Pagi itu udara segar dengan banyaknya pepohonan dan rumput hijau terawar yang menjadi alas mereka duduk.
"Tapi semakin besar, aku tahu jika itu hanya dongeng semata." Kirana kembali berkata. Kali ini nada bicaranya terdengar datar. "Cinta tak hanya milik dua orang. Ada Pangeran lain dan ada Putri lain. Cinta tak hanya soal berjuang lalu pasti berakhir bahagia. Tapi juga soal melepas dan mengikhlaskan.."
"Bicara mu melantur, Kirana." Dave akhirnya bersuara.
__ADS_1
Kirana terkekeh. "Ini memang salah ku.." ia menyembunyikan wajahnya dan memeluk kedua kakinya yang di tekuk erat.
Jangan tertawa saat hatimu bersedih, itu menyakitkan.
...----------------...
Tiba-tiba Angela memegangi dadanya. Nafasnya sesak dan ia terlihat kesakitan.
"Angela ?" Dave bangkit dari duduknya terkejut. Begitu pun dengan kedua orang tua Angela yang semula berada agak kebelakang, langsung menghambur mendekati ranjang di mana anaknya berbaring.
"DOKTEER !"
"DOKTEER !"
Teriak pasangan itu silih berganti. Monitor EKG menunjukkan detak jantung Angela yang terus meningkat.
Seorang Dokter dan dua orang perawat masuk dan langsung memeriksa. Keadaan panik.
Begitu pun Dave yang berusaha menguatkan sambil memegangi tangan Angela yang kini terasa lunglai setelah tadi sempat menegang dengan nafas nya yang berat.
"Kondisinya lemah sekali." Dokter itu berkata sambil memeriksa dada Angela dengan stetoskop.
Seorang Perawat menyuntikan suatu obat pada selang infusnya, sedang Perawat yang lain membantu memasangkan alat bantu pernafasan.
...----------------...
Mereka saling pandang. "Seperti Opa yang tetap setia dan tak menikah lagi. Begitu pun aku beeharap kelak di cintai." kembali ia tertawa. "Aku egois." cibirnya. "Padahal walaupun aku meninggal, hidup akan tetap berjalan, kan ?" ucap nya sambil memandangi Dave.
"..Kita akan menikah dengan cincin ini, Kirana." Dave berkata setelah terdiam beberapa saat. Digenggamnya satu cincin yang polos tanpa batu permata tersebut.
"*Jika menikah, aku i*ngin semuanya serba putih." Kirana tersenyum lebar. "Aku juga akan memakai kebaya pengantin milik Ibu dulu, sambil berharap calon suami ku kelak akan seperti Daddy yang mencintai Ibu apa adanya, bukan ada apa nya."
"Dad memang yang terbaik." Dave memandanginya. "Kau pun pasti akan secantik Ibu saat memakai kebaya putihnya."
Mata Kirana berkaca-kaca. Ia tersenyum sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Dave dan Dave segera memeluknya. Beberapa saat mereka hanya memandangi danau dengan bunga teratai yang masih kuncup di hadapan mereka.
"Karena aku anak tunggal. Aku ingin kelak punya banyak anak." tiba-tiba Dave berkata, membuat Kirana terkekeh.
"Sebelas, biar nanti jadi tim sepakbola." ucap Lirana yang di sambut tawa kecil Dave.
Mereka kembali terdiam. Semilir angin menjatuhkan daun-daun kering pada pohon di sekitar pinggir danau dan menyibak rambut mereka. Suasan begitu tenang dan menentramkan.
"Aku suka tinggal di Desa." Kirana memggambar sesuatu dengan jari telunjuknya pada lengan Dave yang memeluknya.
"Kita akan tinggal di Desa." Dave mengamini. Pandangan mengarah jauh pada langit berwarna biru dengan awan-awan putihnya yang mengantung indah.
__ADS_1
"Biarkan Kian yang menggantikan kita. Biar kapok dia mengurus dua Perusahaan." Kirana menyringai jahat.
Mereka berdua tertawa membayangkan betapa repotnya Kiandra kelak mengurus semua.
...----------------...
"Dave, tolonglah !" Anggie menangis berlutut memegangi kaki Dave.
"Tante Anggie." Dave ikut berlutut dan menopang kedua lengan Ibu Angela agar berdiri.
"Tolong jangan tinggal kan Angela. Tolong selamatkan dia.." tangisnya berlina air mata. "Aku tak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Aku mohon Dave, aku mohoon.." wanita berusia lima puluh tahun itu mengiba-iba.
Adriansyah membuka koper hitam yang berada di atas meja. Mengambil beberapa surat berharga di dalamnya.
Dave masih tak bisa bicara. Wajahnya memerah menahan perih dan hatinya yang terkoyak antara iba dan cinta.
"Kau tinggal mendatangani dan semua menjadi milikmu." Adriansyah menyodorkan beberpaa map warna krem pada Dave yang mengambilnya pun tidak.
Di raihnya tangan Dave dan di pegangkan pada lembar map tersebut. Dave terpegun menatap Ayah dan Ibu Angela yang memelas di hadapannya.
Pandangannya mengarah pada Angela yang terlihat menyedihkan dan kini mulai tenang kembali setelah tadi Dokter memberinya obat.
...----------------...
Matahari telah tinggi saat Dave dan Kirana bangkit dari duduknya dan kini berdiri saling berhadapan dengan danau sebagai latarnya.
"Aku akan selalu mendoakan kebahagianmu, Dave."
Ia memandangi wajah dan kedua bola mata berwarna indah yang selalu membuatnya ingin memandang.
Meski tak rela, untuk memeluk gadis itu pun, ia tak sanggup.
"Lelaki lemah, itu lah aku." Ia mencemooh dirinya sendiri dalam hati. Di kepalkan kedua tangannya dengan air mata membayang di peluk mata.
Dalam percintaan. Ada yang berakhir bahagia, ada yang bertepuk sebelah tangan dan ada penghianatan. Tapi kita, mungkin Yang Memberi Hidup hanya iseng saat menautkan hati kita. Sekedar mampir, tak di satukan atau pun di pisahkan. Mengantung indah tanpa bisa saling menyatu, sambil berharap waktu dapat mengobati dan menghapus rasa ini.
"Berpura-pura lah tak mengenaliku, Dave." ucap Kirana. "Maka pasti kita akan cepat lupa." ia masih bisa tertawa.
Maki aku, pukul aku, dengan begitu ada alasan untuk hati ku melepaskanmu.
Perpisahan saat kita sudah memperjuangkan hubungan sampai sejauh ini terasa lebih menyesakkan.
Mengorbankan hati banyak orang untuk keegoisan kita. Namun pada akhirnya harus menyerah atas nama kemanusiaan, konyol, kan ?
...----------------...
__ADS_1
"Angela, aku mencintaimu." bisik Dave di telingannya. "Ayo, kita menikah." lanjutnya.