
"Kiranaa...?" Terdengar suara Ibu nya dari balik pintu kamar di barengi suara ketukan pintu.
"Masuk saja Buu...!" Kirana berkata dengan suara yang di keraskan.
Marisa masuk ke dalam kamar Kirana. Di lihatnya anak gadisnya itu belum berpakaian dan hanya memakai handuk putih yang di lilit menutupi tubuh bagian atas sampai atas pahanya.
"Kenapa belum memakai baju...?" tanya nya sambil berjalan mendekati anaknya yang masih duduk di depan meja rias nya dengan rambut panjangnya yang tergerai basah.
"...Aku bingung memakai apa..." Di lihatnya wajah murung Kirana dalam pantulan cermin.
"Tumben anak Ibu bingung memakai baju apa untuk bertemu Jon." Marisa tersenyum kecil sambil mengambil sisir dari atas meja rias kemudian di sisirinya rambut panjang Kirana perlahan.
Kirana hanya terdiam memandangi pantulan diri dan Ibu nya yang berdiri di belakang nya duduk sambil menyisiri rambut panjangnya.
"...Apa menurut Ibu, Daddy akan tetap menjodohkan ku dengan Jon sesuai dengan wasiat Opa...??" tanya Kirana setelah terdiam beberapa saat.
Marisa mengehentikan sesaat gerakan tangannya menyisir rambut anak gadisnya. Di pandangi nya wajah cantik putri nya yang terlihat murung. "Daddy mu orang yang sulit di tebak, tapi sejauh yang Ibu tahu...Daddy mu setuju-setuju saja dengan Jon." ucap nya.
"....Kalau menurut Ibu Jon gimana...??" tanya Kirana setelah tadi ia menunduk dan merenung sesaat. Di pandanginya wajah Ibu nya dengan rambut panjanganya yang sama hitam nya dengan miliknya, walaupun kini usia Ibu nya telah menginjak kepala 4.
"Jon baik, sangat baik." puji Marisa sambil meletakkan sisir rambut yang telah selesai ia gunakan menyisiri rambut Kirana di atas meja rias, kemudian duduk di tepi ranjang.
Kirana membenarkan posisi duduknya menghadapa Ibu nya.
"Apa Ibu juga setuju aku dengan Jon.." Tanyanya lagi.
"Kalau kau tanya Ibu setuju atau tidak, tentu Ibu setuju kau dengan Jon." Marisa tersenyum pada putrinya yang wajah nya masih saja tertekuk.
"Karena wasiat Opa...?" tanya Kirana sambil memandangi wajah Ibu nya dengan kening berkerut.
"Tentu saja tidak." Marisa menjawab cepat.
__ADS_1
"Terus..??" Kirana mengerucutkan bibirnya dengan kedua pipi nya yang sedikit megelembung tak percaya.
"Pertama, Ibu sudah mengenal Jon dari dia masih kecil." Marisa mengenggam ke lima jari nya dan membuka jari telunjuknya. "Kedua, Jon terbukti anak yang baik walaupun dia berada di dunia Aktris yang serba gemerlap, tapi dia tidak pernah terlibat scandal apa pun." Marisa berkat sambil membuka jari tengahnya. "Ketiga, Ibu mengenal baik Keluarganya dan mereka orang-orang yang sangat ramah dan terbuka." Kembali ia membuka jari manisnya. "Ke empat..." Marisa sudah membuka jari kelingkingnya.
"Sudah-sudah...!" potong Kirana kesal. "Kenapa banyak sekali..??" gerutunya dengan wajah cemberut.
Marisa tersenyum geli dengan sikap Putrinya. Saat ia merajuk seperti itu, selalu ia teringat sikap Suaminya dulu yang tidak pernah sabaran dalam hal apa pun.
"Tapi kalau kau memang tidak mau, Ibu akan bantu bicara pada Daddy untuk mempertimbangkan perjodohan kalian..." Marisa kembali berkata.
Seharusnya Kirana senang Ibu nya berkata seperti itu, karena Kirana tahu. Ayahnya yang bucin terhadap Ibu nya itu pasti akan mengabulkan semua permintaan Istrinya. Tapi saat Kirana mengingat wajah Jonathan dan ia yang selalu bertindak kasar pada Lelaki tersebut, hati Kirana menjadi gamang.
"Apa Jon mengatakan hal yang menyakiti mu sampai kau benci dengannya Kirana...??" tanya Ibu nya karena melihat Kirana yang hanya diam dengan wajah tertunduk dan kening yang berkerut dalam.
"Mana mungkin Jon berkata yang menyakitkan !" Kirana menjawab cepat sambil mengangkat wajahnya memandang wajah Ibu nya. "Jon itu teman terbaikku !" lanjutnya.
Marisa tersenyum melihat putrinya sudah kembali antusias. Putri nya dan Jonathan memang sudah berteman dari kecil, dan meskipun terpisah Negara. Seminggu sekali Jontahan akan berkunjung ke Indonesia untuk menemui Kirana, pun sebaliknya Kirana akan mendatangi Jonathan ke Jepang.
"Iya, Jon memang teman terbaikmu." Marisa bangkit dari duduknya dan berjalan ke lemari pakaian. "Ayo cepat pakai baju, kau tidak kedinginan...??" gurau Ibu nya sambil membuka lemari baju Kirana.
Kirana ikut bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Ibu nya yang masih sibuk memilih pakaian yang cocok untuk di pakai putrinya.
"Malam ini Jon akan makan malam terakhir di sini, dan setelah itu dia akan pulang ke Jepang." Marisa berkata saat Kirana yang hanya memakai handuk sampai di dekatnya. "Minimal kau harus memakai baju perempuan Kirana." Ibu nya menekankan.
Kirana lagi-lagi termenung mendengarnya. "....Ibu..." panggilnya setelah terdiam beberapa saat.
Marisa menghentikan aktifitasnya memilih pakaian dan memandangi putrinya yang kini lebih tinggi dari pada dirirnya.
"Ada apa lagi...?" ia tersenyum karena wajah Kirana kembali murung.
"Apa aku kumal..?" tanyanya lalu mengigit bibir bawahnya dengan wajah muram.
__ADS_1
"Apaa...??!" Marisa terkejut. "Siapa yang berani mengatakan anak Ibu kumal ?!" Tanpa Kirana duga Ibu nya itu langsung marah. " Apa Jon yang mengatakan hal itu ??" matanya melotot menatap Kirana.
"Bu, bukan..." Kirana mengeleng-gelengkan kepalanya panik. Kirana lupa jika Ibu yang lemah-lembut ini marah, bahkan lebih mengerikan dari Ayahnya sendiri.
"Lalu siapa ?!" Suara Marisa meninggi. "Berani sekali dia bilang anak Ibu kumal, memang dia sebersih apa..??!" omelnya.
Kirana makin panik, tidak mungkin kan dia bilang jika Dave yang mengatai nya kumal...??
"...Eengg.." Mata Kirana bergerak-gerak, mencari ide agar Ibu nya melupakan apa yang ia katakan tadi.
"Apa matanya itu sudah rabun sampai-samapi dia bisa berkata sejahat itu ?!" Ibu nya masih saja mengomel dengan wajah merah padam karena kesal, tidak terima anak gadisnya di katai kumal.
"Bu, bisa...bisa pilihkan aku baju yang bagus..??" Kirana memegangi kedua pundak Ibu nya dengan kedua tangannya. Ia mencoba tersenyum, walaupun senyum nya kaku. " Aku ingin terlihat cantik, untuk...untuk mengantar Jon ke Bandara." mata Kirana berputar, ia seolah tak percaya dengan apa yang ia katakan sendiri.
"Kau mau terlihat cantik..??" mata Ibu nya langsung berbinar, wajah penuh amarahnya langsung di gantikan senyum lebar.
Di waktu yang sama, di rumah Keluarga Sanjaya. Di dalam kamarnya, Dave yang memakai kaos santai dan celana pendek selutut sedang berbaring tengkurap dengan ponsel di tangan.
Wajahnya cerah menatap layar ponselnya yang sedang bervideocall bersama Ibunya. Walaupun tinggal terpisah, Dave tiap hari sebelum tidur pasti akan memberi kabar sekaligus melihat keadaan Ibu nya lewat Video call.
"...Tentu saja kau akan langsung di terima di sana." Di lihat nya wajah Ibu nya yang terlihat bangga. "Kau baru 19 tahun, tapi sudah mengambil program S2, dan jangan lupa jika kau Pewaris Serikat Dagang Sanjaya Company." Ibu nya yang berambut putih itu menekankan.
"Iya Mom.." Dave terkekeh. Ia senang jika melihat Ibu nya terlihat bersemangat dengan raut wajah bahagia penuh kebanggan seperti ini.
"Tapi tetap jaga kesehatanmu Dave, jangan lupa makan dan olah raga lah bila sempat." Ibu nya kembali mengingatkan.
Dave tersenyum lebar dan mengangguk. Mungkin hanya saat bersama Ibu nya ini lah wajah Dave benar-benar tulus tersenyum.
"Mom, ada yang ingin aku tanyakan..." ucap Dave dengan raut wajah serius.
"Tanyakan apa Dave...?" Wajah ibu nya tersenyum, menambah kerutan di pipi dan bawah matanya.
__ADS_1
Dave terdiam dan menunduk sesaat, sebelum ia kembali mengangkat wajahnya dan memandang Ibu nya dari layar ponsel. "...Apa..aku boleh tinggal di rumah Dad...??" tanyanya.