
"Mana Dad ?" tanya Kirana. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang selain mereka.
Dave masih menatapnya dengan kerutan di kening dan bibir yang terkatup rapat.
"Apa kau membohongi ku ?" Kirana kembali berkata. Ia tak percaya Dave bohong padanya. Tapi lelaki itu hanya diam menatap dengan sikap bermusuhan.
Kirana menelan ludah. Dia kesal pada Dave yang tiba-tiba menyeretnya dan kini hanya diam tak berkata apa pun.
Kirana maju mendekati Dave. Tapi baru selangkah ia melangkah, Kirana sudah meringis kesakitan. Di sibaknya gaunnya yang menyentuh lantai tanah tempat mereka kini berada. Kirana sedikit membungkuk untuk melihat kakinya yang beralas heels warna hitam dengan hiasan manik permata kecil-kecil. Kelingking nya lecet, bahkan dari pinggir kukunya terdapat darah yang keluar.
Dave memperhatikan Kirana yang masih sibuk dengan kakinya yang terluka. Dave tahu, luka itu pasti di dapat ketika ia menyeretnya sampai gadis itu tersaruk gaunnya sendiri dan hampir jatuh. Meski begitu Dave sama sekali tak bergerak dari tempatnya berdiri dan malah membuang muka.
Melihat sikap Dave yang acuh, makin membuat Kirana kesal. Ia mengentak kakinya marah. Tak peduli lagi dengan rasa perih yang terasa dari jari keliling kakinya. Dia berjalan cepat ke arah lelaki yang sebenarnya malam itu membuat Kirana terpesona dengan penampilannya yang terlihat gagah.
"Maaf kan aku." untuk kesekian kali Jonathan berkata pada Angela yang masih masih sibuk membersihkan gaun warna putihnya yang tertimpa minuman.
"Tidak apa-apa." Angela tersenyum. "Ini salah ku karena bengong saat berjalan." ia berkata.
Saat itu mereka berdua berada di pojok dengan ruangan yang masih ramai oleh suasana pesta.
"Aku juga salah karena terburu-buru." Jonathan tak enak. Ia tak sengaja menabrak Angela yang tengah membawa minum saat ia tengah terburu-buru mengejar Kirana yang di bawa Dave pergi.
Untungnya minum yang di bawa Angela air putih, jadi gaunnya hanya basah dan tak meninggalkan noda. Menyadari itu membuat Jonathan sedikit lega. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu karena menubruknya sampai dia oleng dan hampir jatuh.
"AKu senang jika bertubrukan dengan aktor idola ku." Angela tertawa, membuat Jonathan ikut terkekeh.
Sesaat mereka berdua tertawa akan kesalahan masing-masing yang memang sama-sama tidak hati-hati.
"Apa kau lihat Dave ?" tanya Angela setelah tak ada lagi kecangungan di antara mereka.
Mata Jonathan sedikit membulat. "Bukankah Oji san memanggilnya ?" ia balik bertanya.
__ADS_1
"Oji san ?" Angela tak mengerti.
"Paman Andreas." Jonathan menerangkan.
Mulut Angela membentuk huruf O. "Tadi aku haus dan Dave mengambilan minum untukku, tapi sampai lama Dave nggak datang-datang." Angela berkata.
"Mungkin saat mengambil minum Oji san memanggil." Jonathan mengambil kesimpulan. "Karena Kirana juga di panggil oleh beliau." ia tersenyum pada Angela.
Sekali lagi mulut Angela membulat penuh kemakluman.
"Kalian berdua ?" suara lain terdengar.
Jonathan dan Angela menoleh bersamaan.
"Dimana Kirana dan Dave ?" tanya Andreas yang sudah berada di tengah-tengah mereka. "Ada apa ?" Orang tua berusia 50 tahunan dengan beberapa helai rambutnya yang telah memutih itu memandang tak mengerti kepada Jonathan dan Angela yang melihatnya terkejut.
"Aku tahu dari dulu kau tak suka padaku." mata Kirana sudah memerah, tapi di tahan-tahannya supaya tidak menangis. Sepersekian menit tadi dia marah-marah dan Lelaki patung es ini tetap tak bergeming dan hanya memalingkan muka dengan wajah muak.
"Oh Dave..." Kirana mengerang dalam hati. Tak mengerti dengan perasaanya sendiri.
Suasana di taman belakang itu gelap dan sunyi. Disitu hanya terdengar beberapa suara hewan malam dan samar-samar suara musik dari aula depan tempat berlangsungnya pesta.
Lampu taman berbentuk bulatan-bulatan tampak menerangi sekaligus sebagai penghias taman yang tertata dengan indah.
"Pergi." ucap Dave akhirnya sambil memalingkan muka.
"Apaa ??" Kirana mengira ia salah dengar.
Tanpa dia sadari, Dave yang tak mau melihat wajahnya tengah mengigit bibir dengan raut wajah frustasi.
"Pergi." ulang Dave tanpa memandang ke arahnya. "Aku nggak tahu apa yang aku lakukan...." Dave bergumam pada dirinya sendiri. Tak mengerti kenapa ia melakukan tindakan bodoh hanya karena tak sengaja melihat Kirana dan Jonathan berdansa dan saling memeluk.
__ADS_1
Hati Dave berteriak, ingin sekali ia membenturkan kepalanya sendiri atas tindakan tak masuk akal nya itu.
"Sepertinya sampai kapanpun kita nggak mungkin bisa menjadi saudara seperti yang orang tua kita inginkan." Kirana berkata pelan. Air matanya sudah meremang melihat sikap Dave yang terus menerus menunjukkan permusuhan.
Dave masih enggan melihat ke arahnya. Ia mulai sesak dengan dasi yang mengikat pada lehernya dan mencoba melonggarkannya.
Kirana masih memandang Lelaki yang seperti tengah jengah terhadapnya itu. Membuat dia makin tak berdaya akan sikap Dave, dan harus bagaimana lagi dia berbuat agar sedikit saja Lelaki itu mau bersikap lembut terhadapnya.
Air mata Kirana menetes teringat Dave yang bisa tersenyum dan bersikap mesra kepada Angela. Cepat-cepat ia menghapus air matanya.
Angin malam berhembus, membuat bulu kudu Kirana mulai meremang. Dengan gaun model kemben yang hanya di lilit pada bagian dada dan bahu sampai lengan yang terbuka, ia kedinginan.
Ia memeluk dirinya sendiri dan kembali melihat ke arah Dave yang tak acuh terhadapnya.
"...Aku pikir saat kau mau memanggil dan membawaku kemari, akhirnya kau mulai bisa menerima ku." Kirana kembali berkata.
Dave menelan ludah dengan susah payah. ia pegangi keningnya yang mulai berdenyut dan tengah berperang antara logika dan perasaannya.
Kirana menunduk. Ia kecewa dengan sikap Dave. "Maafkan aku Dave jika aku punya banyak salah padamu..." ia berucap pelan.
Dilihatnya sesaat Dave yang masih membelakanginya, sebelum kemudian ia membalikkan badan dan berjalan pergi.
Tapi baru tiga langkah ia berjalan, lengannya kembali tertarik. Kirana menjerit kaget dan lebih terkejut lagi saat Dave memeluknya. Erat sampai ia bisa mendengar degub jantung Lelaki miskin ekspresi itu.
"Dave ??" Kirana mencoba melepaskan diri. Sepertinya jantung keduanya tengah berlomba adu keras sampai keduanya bisa mendengar.
"Jangan bicara apapun !" perintah Dave cepat sambil membenamkan wajahnya pada pundak Kirana yang terbuka.
Mata Kirana membulat saat merasakan hembus hangat nafas Dave pada leher nya yang dingin. Tubuh mereka saling menempel erat dengan bunyi jantung bak genderang.
Dave memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengumpat dan memaki dirinya sendiri dalam hati. " Kau tolol Dave ! Apa yang kau lakukan !? Kau hancurkan semuanya dengan tindakan bodoh mu ini !?" Bahkan ia sendiri tak percaya dengan apa yang di lakukannya kini.
__ADS_1
Angin malam yang dingin kembali berhembus. Tapi kali ini Kirana tak lagi merasakan dingin, karena patung es yang mulai retak dan menghangat itu kini tengah mendekapnya erat dalam pelukannya.