
Andreas bangkit dari duduknya, di lihatnya jam di dinding ruang kerjanya sudah menunjukkan pukul 12 siang lebih.
"Aku terlalu lama merenung..." ucapnya Lelaki berusia 50 tahu itu dalam hati. Di usap wajah nya yang memerah beberapa kali, kemudian menghela nafas panjang.
Ia baru saja mengambil jas warna biru navi nya yang tersampir di kursi untuk dia pakai, ketika ponsel yang ia letakkan di atas meja kerja nya itu menyala dan bergetar.
Mata sipit berwarna cokelat terang yang ia wariskan pada Kirana dan Kiandra itu membulat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
Di geser layar pada ponsel nya lalu di tempelkan pada telingannya. Andreas sengaja tidak berbicara lebih dulu.
"Halo...?" Suara halus dari seorang wanita terdengar.
"....Setelah sekian tahun kita tidak bicara, apa yang membuatmu sampai menelpon ku Ev...?" Orang tua dengan beberapa helai rambutnya yang telah memutih dan kerutan di bawah mata sipitnya itu berkata sambil menyandarkan diri pada meja kerja nya yang terbuat dari kayu jati.
Wanita berambut putih yang di gelung sederhana dengan mantel bulu itu duduk dengan ponsel yang ia tempelkan di telingan kanan sambil memandangi secangkir kopi latte nya yang masih mengepulkan asap panas, dan sepotong tart lemon nya yang berada di atas meja tempat ia duduk.
Ia sedang duduk di sebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari Sungai shine , Shakespeare and Company cafè. Sebuah Cafe dengan kombinasi warna putih dan cokelat yang memberikan kesan tenang pada pengunjungnya.
Cafe yang terletak bersebelahan persis dengan Toko buku terkenal Shakespeare and Company, di mana selain bisa melihat pemandangan indah dari sungai shine. Kita juga bisa melihat keindahan dari Katedral Notre Dame di seberang Cafe.
Sebuah bangunan gothic pertama di dunia yang di bangun pada Abad Pertengahan, yang keindahannya mengilhami karya 'Notre Dame' dari Victor Hugo.
"...Ini tentang Dave." wanita yang masih terlihat cantik kendati seluruh rambutnya telah memutih itu berkata dengan tangan kanannya yang masih menahan ponsel nya di telingan.
Ia menatap muram jalanan yang kini mulai ramai dengan orang-orang yang berjogging, bersepeda, atau menyewa kapan untuk menelusuri keindahan sungai Shine yang memang sangat terkenal di Kota Paris.
"Dave...?" Andreas kembali duduk di bangku nya yang terbuat dari kulit sintetis warna hitam. "Kenapa Dave ?" tanyanya.
"Dave ingin tinggal denganmu." suara wanita dari dalam ponsel menjawab.
Andreas sedikit terkejut, " Aku memang ingin Dave bisa tinggal denganku sesekali, tapi Paman Hertoni tidak pernah mengijinkannya." ucapnya.
"....Papa mengijinkannya." ucap Eva setelah terdiam bebeapa saat sambil memandangi Kopi latte nya yang kini mulai mendingin dengan tidak adanya asap yang mengepul di atasnya.
Andreas menyimak apa yang di bicarakan Mantan Istrinya.
"Barusan Mama menelpon dan memberintahu soal Dave yang ingin tinggal denganmu, dan Papa mengijinkannya." kembali suara Eva terdengar dari ponselnya. "Sepertinya Dave sudah berusah keras untuk ijin itu..." lanjutnya.
__ADS_1
Andreas masih diam mendengarkan dengan wajah tuannya yang terkesan kaku dan sorot mata cokelat terangnya yang tajam. "...Kau tidak perlu khawatir, Dave akan baik-baik saja selama tinggal denganku." Andreas berkata setelah tadi ia hanya diam mendengarkan.
"Tentu Dave akan baik-baik saja tinggal denganmu." ucap Eva sambil merapatkan mantel nya. Meskipun matahari telah naik, tapi udara pagi di sekitar sungai shine itu masih terasa dingin untuk tubuh tua dan kurus nya. "Yang aku maksud bukan itu...." ia berkata.
"Apa....??" Wajah lelaki berusia 50 tahun itu menegang.
"Singkirkan semua foto orang itu." Ulang suara dari dalam ponsel.
"Orang itu...?" kening Andreas berkerut dalam. Ia sedang menahan emosinya yang tersulut karena perkatan Mantan Istrinya di telpon. "Bahkan setelah bertahun-tahun pun kau masih memanggilnya orang itu...??" Andreas tak terima.
Eva mengepalkan kedua tangannya yang berada dalam pangkuannya. Wajahnya berkerut sedih, ia mengigit bibirnya kuat-kuat dan menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang berkaca-kaca mengawang lurus melihat kapal-kapal kecil berisi wisatawan yang menelusuri sungai shine yang berada tepat di hadapannya.
"....Tolong singkirkan semua fotonya." ia kembali berkata.
"Ini hari kematiannya." suara Mantan Suaminya itu terdengar dari dalam ponsel, membuat hati wanita berusia 50 tahun itu bergetar. "Setidaknya tunjukan sedikit simpatimu." lanjutnya.
Kembali Eva menelan ludah, ia memejamkan matanya sesaat untuk menenagkan hatinya yang tengah di iris sembilu, tiap kali ia mengingat seseorang di masa lalunya dan Mantan Suaminya itu.
"Kematiannya tidak ada hubungannya denganku." Suara Eva di buat setenang mungkin untuk menutupi pedih hati nya.
"Kematiannya tidak ada hubunganny denganku, tapi coba kau tanyakan pada putri kesayangamu itu." Eva berkata di tengah tawa kecilnya.
"Kirana tidak tahu apa-apa, jangan sekali-kali kau menyinggung soal itu." Wajah Andreas kian menegang.
Marisa yang membuka pintu ruang kerja Suaminya untuk mengajaknya makan siang dulu sebelum berangkat terkejut melihat Andreas yang sedang menelpon dan terlihat sangat marah.
"Dari pada kau suruh aku bersimpati atas kematian orang itu, lebih baik kau suruh putri mu untuk minta maaf ke makamnya !" Eva kembali berucap.
"DIAAM !!" bentak Andreas mengagetkan Marisa yang masih berada di dekat pintu.
Sudah bertahun-tahun ia tidak melihat Suaminya semarah itu.
"Apa karena hari ini, hari peringatan kematian Rendy...??" Wanita berusia 43 tahun itu berkata dalam hati.
"Aku tidak mau Dave tahu." Kembali Andreas mendengar suara dari dalam ponselnya.
Wajah Andreas masih mengelap dengan wajahnya yang semakin banyak kerutan jika ia sedang marah seperti saat ini.
__ADS_1
"Jika kau memang menyayangi Dave seperti kau menyayangi putri mu dengan wanita itu, jangan biarkan dia tahu..."
Mungkin hanya perasaan Andreas saja. Tapi sesaat ia mendengar jika suara Mantan Istrinya itu bergetar dan terdengar suara isakan sebelun ponsel di matikan begitu saja tanpa ia sempat berucap apa pun.
Pelan-pelan Marisa berjalan mendekati Suaminya. "Ada apa...?" tanyanya dengan raut wajah cemas.
Melihat wajah cemas istrinya membuat emosi Andreas surut, ia menghela nafas panjang sebelum kemudian di peluknya wanita bertubuh mungil dengan tinggi hanya 158cm itu.
"Tidak apa-apa." ucap Andreas sambil tersenyum setelah melapas pelukannya.
Istrinya memandang tak peecaya.
"Eva hanya memberintahu jika Dave akan tinggal di sini untuk beberapa waktu." lanjutnya sambil tersenyum menenagkan.
"Benarkah ??" Seketika wajah Marisa berubah cerah tak percaya.
Andreas mengangguk dengan senyum yang masih tersunging di bibirnya.
Wanita berusia 43 tahun dengan rambut panjangnya yang masih hitam legam itu terlihat sangat bahagia.
"Ah !" ia menepukkan kedua tangannya. "Aku akan menyiapkan kamar untuk Dave."
"Jangan capek-capek, kau bisa menyuruh..."
"Tidak." potong Istrinya dengan mata hitam nya yang berbinar-binar menatapnya. "Aku yang akan menyiapkan sendiri." ia tersenyum lebar lalu membalikkan badany dan berjalan ke arah pintu.
"Aku sudah menyipakan makan siang di meja makan. Makan lah dulu, kau belum makan dari tadi pagi ." Marisa berkata sambil melihat ke arahnya sebelum ia keluar dan menutup pintu kayu dengan ukiran khas kota Jepara pada pinggir-pinggirnya.
Sesaat Andreas masih tersenyum lebar dengan tingkah Istrinya yang terlihat begitu antusias dengan kedatangan Dave.
Sebelum kemudian matanya menunduk dan menjadi sayu. Di ambilnya figura foto berukuran 5R yang terpajang di atas meja kerjanya.
Di amatinya foto dirinya ketika muda dengan seorang Lelaki tua yang duduk di kursi dan seorang lelaki lain seusianya yang berdiri bersebelahan dengannya.
Eva masih duduk di depan Cafe dengan matanya yang memerah dan berair. Ia menatap lurus pada sungai shine yang indah dengan latar langit pagi berwarna biru cerah Kota Paris.
"Sudah hampir 20 tahun, tapi air mata ini tidak juga mau berhenti mengalir..."
__ADS_1