SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
TENTANG SESEORANG


__ADS_3

Kirana duduk bersila di depan ketiga makam yang berselimut rumput jepang tebal dengan batu granit putih berukir nama dari masing-masing yang terkubur di situ. RENDY A MARTHADINATA, ADNAN D MARTHADINATA, LIM AYAKA


Shopie duduk di sebelah Kirana, di pandanginya kawan baiknya yang wajah nya mulai memerah.


"Pasti sebentar lagi nangis..." ucapnya dalam hati sambil menekuk kedua lututnya kedepan.


Shopie sudah biasa mengantar Kirana seperti ini, dan ia hafal betul kebiasaan dari gadis tomboy tapi membiarkan rambut nya panjang sepunggung dan di kuncir sembarangan itu.


"....Opaa..." terdengar suara isakan dari sahabatnya yang sudah sibuk mengusap-usap wajah nya yang memerah dengan kedua tangannya secara bergantian.


Shopie memilih membiarkannya, ia hanya diam sambil melihat lurus ke depan, di mana si situ langit biru terbentang sangat luas dengan awan-awan kecil nya yang berarak.


Shopie bukannya tega tidak mau menghibur sahabat dekatnya itu, tapi itu lah kebiasaan Kirana jika datang ke makam Opa, Oma dan Om nya. Untuk beberapa saat ia akan menangis seperti anak kecil sambil bercerita seperti orang tersebut masih hidup. Dan Shopie akan menunggu di sampingnya.


"....Aku tetap marah sama Opa..." Kirana berkata sambil menyeka air matanya yang meleleh di pipi. "Kenapa Opa harus menjodohkan aku dengan Jon...??" tanyanya dengan wajah berkerut seperti anak kecil. "Aku nggak mau sama Jon..." ia kembali terisak. "Jon jahat sekali...dia menciumku saat aku nggak sadar, dia juga bilang kalau aku pasti akan bertunangan dengan nya..." Kirana mencabut rumput jepang yang berada di makam Kakeknya kesal. "Ini gara-gara Opa...!" Kirana marah seperti anak kecil, di cabuti nya lagi rumput jepang pada bagian kaki makam Kakeknya. "Bangun Opa, dan bilang pada Daddy, nggak ada jodoh-jodohan. Kirana nggak mau !" Wajah Kirana tertekuk tapi dengan air mata yang terus saja mengalir dari mata sipitnya meskipun ia sudah berkali-kali mengusap nya.


Shopie memutar bola matanya saat melihat sesaat kelakuan teman baik nya itu, sebelum ia kembali memandang langit di depannya yang seolah memayungi makam-makam indah berselimut rumput jepang terawat berwarna hijau segar dengan batu granit putih di tiap gundukannya.


Kirana memang punya kebiasaan menangis dan menyalahkan Kakeknya soal pertunangannya dengan Jonathan. Setelah puas merajuk dan bercerita, baru ia akan mendoakan, kemudian menaburkan bunga mawar merah dan putih bercampur melati di atas makam keduanya.


"...Opa, aku di bilang kumal sama seseorang..." Kirana berkata, membuat Shopie menoleh ke arah gadis yang kali ini sudah agak tenang dengan tidak menangis atau mencabuti rumput di sekitarnya.


Kirana mengigit bibir bawahnya dengan wajah memelas sambil memandangi batu granit putih bertuliskan ADNAN D MARTADHINATA. "....Nggak tahu kenapa, aku benar-benar malu saat dia menyebutku kumal..." Kirana menunduk, menautkan jari-jari tangannya di atas rumput.


"Aku memamg nggak suka terlihat cantik, supaya Jon nggak menyukaiku..." Kirana mengangkat wajahnya, memandang kembali batu granit putih dengan ukiran nama, tanggal lahir dan tanggal kematian itu. "...Tapi..." kembali ia menunduk. Wajah Dave membayang dalam ingatannya, membuat dada nya berdesir dan merinding, padahal ia hanya membayangkan.


"Siapa yang menyebutmu kumal...??" suara Shopie mengagetkan Kirana. Ia lupa jika di situ juga ada Shopie.

__ADS_1


Kirana menoleh ke arah wanita dengan rambutnya yang di cat pirang itu, kemudian menghela nafas panjang. "Dave, orang yang Lambo nya tergores trotoar gara-gara kita." Kirana menerangkan.


"Woooww..." Wajah Shopie langsung takjub. "Bahkan sekarang kau tahu namanya." ia tersenyum mengoda.


Tapi sayang Kirana tak terlalu menanggapi, ia selalu ingat jika Dave sudah punya Angela yang bak Angel.


"Apa lah aku yang cuma di anggap kumal di mata nya." Kirana berkata dalam hati. Ia membenarkan posisi duduknya, mendoakan Kakek yang dulu begitu memanjakannya dan kini telah meninggalkannya.


Kirana juga mendoakan makam bertulis LEE AYAKA yang berada telat di samping makam Opa nya, beliau Istri Opa dan Ibu dari Daddy nya. Seorang wanita keturunan Jepang-Korea yang sudah meninggal, jauh sebelum Kirana lahir.


Ibunya sering memperlihatkan foto Neneknya tersebut dan bilang jika mirip dia, tapi Kirana tak pernah merasa mirip. Karena Nenek nya itu terlihat cantik dan feminim, sangat berbeda jauh dengan dirinya.


Kirana bangkit berdiri di ikuti Shopie, lalu menaburkan kelopak-kelopak bunga mawar merah dan putih yang bercampur melati itu di atas gundukan tanahnya yang berselimut rumput jepang.


Shopie agak mundur ke belakang, memberi ruang bagi Kirana untuk duduk jongkok di makam 1 nya lagi yang bersebelahan persis dengan makam Opa dan Oma nya.


Kirana memandang sesaat ke arah tulisan yang terukir di atas batu granit putihnya, RENDY A MARTADHINTA.


"Aku selalu penasaran dengan makam di sebelah Opa mu itu Kirana." Shopie berkata saat mereka sudah berada di dalam mobil Alphard 2.5 G A/T warna white yang telah melaju mulus tanpa suara menuruni jalanan aspal yang menuju bawah.


"Makam Om Rendy ?" Kirana balik bertanya setelah ia meminum air mineral yang selalu tersedia di dalam mobil mewah itu, kemudian meletakkan sisanya di lubang untuk tempat minum yang berada di bagian samping jog mobil.


"Iya, itu !" Shopie tampak antusias. "Dia meninggal kenapa..??" tanyanya. "Masih muda sekali, belum genap 33 tahun." Shopie penasaran.


"...Aku juga nggak begitu ingat." Kirana menjawab setelah tadi sempat terdiam untuk mengingat-ingat tapi berakhir nihil. "Ketika Om Rendy meninggal itu aku masih berumur 3 tahun."


Shopie memonyongkan bibirnya. "Memang usia 3 tahun kau nggak punya ingatan...??" ejek shopie. Di buka nya lemari pendingin kecil yang berada di situ, lalu di ambilnya fanta kaleng dingin yang segera di buka dan di minum nya. Ia sangat haus setelah tadi naik turun bukit.

__ADS_1


"Yang ini aku serius." Kirana menatapnya, membuat Shopie menoleh ke arahnya. " Nggak tahu kenapa...aku nggak begitu ingat tentang aku atau kejadian apa saja yang telah terjadi saat aku berusia 3 tahun." Kirana menerangkan dengan wajah serius.


Shopie masih memandangnya tak percaya. Di minum nya lagi fanta kalengnya sambil bersandar pada jog mobil. "Iyaa...yang kau ingat kan cuma makanan." shopie tertawa, yang membuat Kirana langsung melemparkan bantal leher ke wajahnya.


Sesaat kemudian Sopir dan bodyguard Kirana yang duduk di depan sudah mendengar suara gelak tawa dari para gadis yang duduk di belakang mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih, namun tidak seperti hari-hari biasanya. Andreas, Ayah Kirana masih berada di ruang kerjanya meskipun ia telah rapi dengan kemaja putih berdasi dan jas warna biru navi nya yang tersampir di kursi tempatnya duduk sambil menunduk, bertopang kepada kedua tangan yang ia satukan dan bertumpu pada siku.


Ruang kerja itu tampak redup dengan hanya mendapat pencahayaan dari ventilasi udara, namun bisa di lihat jika orang tua yang biasanya masih tampak gagah di usianya yang ke 50 tahun itu kini terlihat begitu rapuh dengan wajah memerah dan air mata yang berusaha ia sembunyikan.


"Kenapa setiap tanggal 6 Maret Daddy selalu seperti itu...??" tanya Kiandra saat Ibu nya hanya membuka sedikit pintu ruang kerja Ayahnya, kemudian menutupnya kembali saat melihat Ayahnya yang hanya diam menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Kian hafal yaa...?" Marisa memandang putranya sambil tersenyum lembut.


"he'em." anak laki-laki berusia 5 tahun itu mengangguk pasti, membuat Ibu nya itu kembali tersenyum dan mengandeng nya menjauh dari ruang kerja Ayahnya.


"Ayo, Kian main sama Ibu." Ajaknya untuk mengalihkan perhatian anaknya dari Suaminya yang masih mengurung diri di ruang kerja nya. "Ibu ada tebak-tebakan lucu untuk Kian." lanjutnya sambil tersenyum lebar pada yang sudah memandang antusias ke arahnya.


Sesaat Marisa memandang ke arah pintu ruang kerja Suaminya yang tertutup, sebelum kemudian kembali tertawa ke arah putranya yang melucu.


Waktu yang sama di Paris-Perancis, jam masih menunjukkan pukul 4 pagi dan udara begitu dingin dengan sekitar yang masih gelap berkabut.


Namun wanita bermantel bulu warna cokelat selutut dan bersyal rajut hitam itu sudah berdiri di pinggir jembatan Pont Neuf sambil memandang sayu ke arah sungai Seine, yang merupakan sungai utama di bagian barat laut Perancis dan biasanya menjadi salah satu jalur lalu lintas komersil, sekaligus menjadi tempat destinasi wisata di Kota Paris.


" Setiap tahun...kerutan di wajahku bertambah. Rambut panjangku juga telah memutih. Tapi kau selalu muda, Ren..." ucapnya dengan bibirnya yang pucat.


Angin pagi berhembus dingin, membuat tudung mantel nya terbuka dan memperlihatkan rambut nya yang telah memutih seluruhnya.

__ADS_1


"Nona..."


Sekelebat ingatan tentang sosok laki-laki muda berjas hitam dengan kemeja putih dan tengah tersenyum memamggilnya terlintas dalam ingatan, membuat wanita itu memejamkan kedua matanya dengan air mata yang mengalir di sudutnya.


__ADS_2