SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
MALAM


__ADS_3

Dave termenung dengan wajah kaku menatap ponsel nya yang kini memperlihatkan layarnya yang hitam.


Beberapa saat lalu dengan tiba-tiba Ibu nya memutuskan sambungan video call nya. Ibu nya hanya berkata cepat, bahwa ia ada urusan yang baru saja ia ingat dan langsung mematikan sambungan video call nya tanpa sempat Dave memberikan reaksi.


Tapi sesaat sebelum Ibu nya mematikan ponselnya, Dave sempat melihat wajah ibu nya yang selalu terlihat cantik di matanya itu menitikan air mata.


Tangan Dave terkepal, kembali ia melihat wajah Ibu yang di kasihi nya itu berhias air mata. Dan seperti yang sudah-sudah, ia hanya bisa melihat tanpa mampu berbuat apa pun.


Mata hitamnya bergerak menatap figura foto ukuran R4 yang terpajang di meja belajarnya. Di situ terdapat foto dirinya ketika lulus Sekolah Menengah Atas, berdiri bersebelahan bersama Ibunya di samping kiri. Dan ia sengaja menempelkan guntingan foto Ayahnya di sisi sebelah kanannya.


"....Mengenaskan..." Dave berguman seorang diri menatap foto itu dengan ekpresi yang sulit di artikan.


Masih di ingatnya beberapa hari lalu saat berkunjung ke Rumah Ayahnya, melihat kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga Ayahnya, yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan Ibu dan dirinya.


Emosi memenuhi rongga dada, namun ia masih menahannya. "...Tidak bisa kah...kau memberi sedikit perhatian mu pada kami...??" ia bertanya dengan wajah tertekan menatap potongan foto Ayahnya yang tertempel bersama foto dirinya dan Ibu nya.


Ia tahu Ayahnya sibuk, dan hanya bisa bervideo call an dengannya, bahkan di hari-hari penting seperti kelulusannya. Tapi saat melihat langsung betapa mesra kehidupan rumah tangga Ayahnya, hati Dave merana.


Mungkin benar apa yang di katakan Kakeknya, bahwa selam ini Ayahnya itu tidak pernah menganggapnya ada.


Di pandanginya lagi foto Ayahnya, kali ini sorot matanya tampak meredup. "....Apa karena sudah memiliki anak dari wanita yang Dad cintai, maka aku tidak pernah kau anggap Dad...??" tanyanya.


Hanya sunyi di kamar luasnya dengan dominasi warna hitam dan putih itu, Dave meletakkan figura foto yang tak akan mungkin memberinya jawaban begitu saja dalam posisi terbalik.


Dengan wajah muram, ia bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah samsak tinju dengan sarungnya yang berwarna hitam yang tergantung di pojok ruang bersebelahan dengan jendela kaca besar yang mengarah langsung ke kolam renang yang terletak di samping rumah mewahnya.


Kedua tangannya terkepal, ia pasang posisi kuda-kuda. Matanya terpejam, menahan segala gejolak emosi yang membakar dadanya yang hampir-hampir membuatnya meledak.

__ADS_1


Sekali lagi ia menghela nafas panjang bersamaan dengan ia membuka mata. Sesaat kemudian Dave sudah memukul dan menendang samsak itu berkali-kali.


Tak peduli waktu yang berlalu dan malam yang semakin larut. 10 menit, 30 menit, 45 menit, sampai akhirnya hampir 1 jam, Dave baru berhenti.


Ia memeluk samsak tinju nya dengan peluh yang menetes-netes dan nafas yang memburu. Kedua tangannya terasa panas dan bengkak karena ia tidak memakai pelindung tangan.


Mengabaikan kedua tangannya yang berdenyut nyeri, ia berjalan menuju lamari pendingin ukuran kecil yang berada di dalam nakas tidak jauh dari situ.


Di ambilnya sebotol air mineral dingin, di buka penutupnya sambil ia duduk di pinggir ranjang. Di tegak nya air mineral dingin itu sampai hampir habis, kemudidan di taruh sisany di atas nakas.


Dave menghela nafas panjang, di usapnya keringat yang membasahi wajah dan rambutnya. Menyisirnya dengan kedua tangannya, memperlihtakan kening lebar dan alis tebal nya.


Ia berdiam diri dengan mata yang menatap lurus pada kaca jendela kamarnya yang telah gelap, mengatur nafasnya yang masih naik turun karena ia memukuli samsak tinju tadi dengan membabi buta.


Beberapa saat kemudian setelah ia bisa bernafas secara teratur, ia bangkit berdiri, membuka kaos warna cokelatnya yang telah basah oleh keringatnya sendiri. Memperlihatkan dada bidang dan otot perut nya yang terbentuk sempurna meskipun ia baru berusia 19 tahun.


Hatinya sedikit lega setelah ia melampiaskan segala kekesalan dan emosi nya yang meluap karena memikirkan Keluarganya yang tak lagi utuh.


Saat Dave berjalan menuju kamar mandi, bisa di lihat di punggung lebar nya terdapat tatto besar yang memenuhi punggung atas sampai pinggang bawahnya. Tatto bergambar sosok seperti malaikat dengan sayap lebarnya yang bersimpuh dan menunduk seperti sedang bersedih. Refleksi diri dari si Pemilik tatto.


Malam semakin larut, Kirana tidur dalam balutan selimut tebal dan tempat tidurnya yang nyaman berpendingin ruangan.


Bahkan dalam tidurnya, ia memimpikan Laki-laki itu. Laki-laki berwajah dingin dengan mata hitam nya yang terlihat sendu.


Tidur Kirana tak lagi lelap, kedua alisnya saling bertaut dan ia mengigit bibir bawahnya.


Dalam mimpinya Dave meraih pipinya dengan wajahnya yang tetap datar dan matanya yang menatap ke arahnya, membuat Kirana terpaku saat pandangan mereka saling bertemu.

__ADS_1


Dalam tidurnya, Kirana mendesis dan mencegkeram erat selimut yang menutupinya dengan mata yang terpejam rapat-rapat.


Tidak seperti di dalam kenyataan yang pasti Kirana akan berteriak atau bahkan memukul laki-laki yang baru di kenal tapi sudah berani memegangi tengkuk lehernya.


Di mimpinya Kirana seperti terhipnotis akan sosok Dave yang sejak mereka bertemu membuat jantung Kirana berdebar tak karuan sampai rasanya begitu mulas.


Kirana mengigit bibirnya, ia ingin bangun tapi untuk membuka mata seperti tidak bisa. Membuat tidurnya begitu gelisah.


Lambat-lambat Dave memajukan wajahnya.


Dan itu terasa begitu nyata untuk Kirana, bahkan ia bisa melihat wajahnya yang bersih dengan hidung mancung dan mata hitam nya yang menghipnotis.


"Apa aku sudah gila...???" Kesadaran Kirana seperti berkata.


Semuanya serasa tumpang tindih, namun hanya Dave yang seolah nyata di sana.


Sampai akhirnya Dave memeluk pingangnya sedang tangan nya yang satu berada di tengkuk lehernya. Bibir mereka saling bertemu, mencium dan menyesap dalam gelora panas anak muda yang entah kenapa lebih melenakan.


"....Kenapa terasa begitu nyata...??" kembali nurani Kirana seperti sedang berbicara.


Ciuman itu memang terasa begitu nyata, bahkan Kirana bisa merasakan lidah yang menyesap dan hembus nafas yang terasa hangat di pipi.


Lambat-lambat ia membuka matanya, dan seketika matanya membulat dan ia menjerit keras-keras saat di lihatnya Jonathan lah yang memeluk dan mencium bibirnya.


...----------------...


DAVE'S TATTO

__ADS_1



__ADS_2