
Eva tertegun, sesaat ia mengigit bibir bawahnya. Raut wajahnya berubah sedih, ia menunduk, menelan ludah dengan susah payah sedang tangan nya sedikit gemetar memegang map warna merah itu.
Sepertinya saat yang ia takutkan terjadi juga, dan mau tidak mau ia harus menjelaskan.
"...Namanya Rendy Aryatedja." Eva berkata pelan setelah berkali-kali ia menghirup dan menghembuskan nafas panjang, hanya supaya ia bisa sedikit lebih tenang.
Untuk pertama kali nya setelah sadar, Dave menoleh ke arah Ibu nya yang duduk di sisi ranjang tempatnya berbaring.
Terselip perasaan tak tega saat memandang wajah tua Ibu nya yang selalu di penuhi kepiluan. Tapi perasaan marah karena di bohongi bertahun-tahun memenuhi dada Lelaki yang baru saja sadar dari tidur panjangnya, membuat ia tega mengacuhkannya.
"...Dia seperti bayangan untuk Daddy mu." kembali Eva bercerita. "Menyelesaikan segala scandal yang Daddy mu lakukan, menjadi tangan kanannya, bahkan tidak segan untuk menghalalkan segala cara hanya supaya Daddy mu terhindar dari masalah dan tetap tak bercela di hadapak publik." Eva berhenti sesaat untuk menghela nafas, tak sadar selama berbicara ia menahan nafasnya sendiri.
Dave masih diam menatap dengan kedua mata hitam nya yang pekat pada bola matanya, yang lagi-lagi begitu mirip dengan seseorang yang tengah Ibu nya itu bayangkan.
"Dia sempurna walaupun Mom tidak pernah menyukai gaya nya yang terlalu rapi dan bahasa formal nya yang membuat jengah." ujung bibir Eva sedikit tertarik, membentuk seulas senyum tipis. "Mom lebih menyukai Daddy mu yang selalu berpenampilan menarik, menonjol dengan perawakan dan wajah dinginnya. Entah lah...hanya saja saat itu yang ada di mata Mom hanya Daddy mu." Eva berkata sambil memandangi putranya yang tahun ini genap berusia 20 tahun.
Kembali ia menghela nafas panjang, rasanya berat untuk dia menceritakan semua masa lalu yang selama bertahun-tahun ia coba kubur dalam-dalam. "Daddy mu jatuh cinta pada wanita yang kau panggil Ibu itu." kembali Eva berkata. "Tapi Mom tidak mau melepaskan." pandangan nya mengawang, rasanya kejadian itu seperti baru terjadi kemarin. "Mom dan Dad menikah. Selama hampir satu tahun menikah, Daddy mu tidak pernah menyentuh Mom." Eva tersenyum getir, yang membuat kening Dave berkerut tak suka. "Sampai dia mendapat kabar tentang wanita itu, dan mengetahui tentang anaknya." Eva mencoba tersenyum, tak mau anak nya itu salah paham lagi dan membenci, meskipun dadanya sendiri sesak mengingatnya.
"Kirana ?" tanya Dave seperti pada diri nya sendiri.
"Kau pasti dekat ya sekarang dengannya ?" Eva tersenyum.
Dave mengalihkan pandanganya ke arah lain. Ia tak menjawab, hanya saja ia teringat ucapan kasar nya pada gadis itu.
"Marisa memang sudah mengandung saat Dad dan Mom menikah." Eva melanjutkan ceritanya karena tak melihat tanda-tanda Dave akan membalas perkataannya.
"Dad memaksa nya ?" Dave bertanya.
Eva terdiam sesaat, sebelum ia mengangguk perlahan mengiyakan.
Dave mencelos, hilang respect nya pada Lelaki yang ia yakini selama bertahun-tahun sebagai Ayah kandungnya.
__ADS_1
"Percayalah Dave setiap orang pasti punya kesalahan, tak terkecuali orang tua mu." Eva mencoba bijak saat melihat sikap anaknya.
"Jangan bilang Mom juga di paksa oleh..."
"Tidak Dave !" potong Ibunya dengan kening berkerut dalam.
Dave terkejut, perlahan-lahan wajah Eva yang di liputi ketegangan mengendur seiring tatap mata dari anak nya.
"Orang itu, jangankan untuk memaksa." ia berkata seperti sedang kesal pada seseorang. " si Gila kerja yang isi kepalanya hanya ada Keluarga Marthadinata dan berkas perusahaan." ia mencibir seolah orang yang ia maksud ada di depannya.
Dave hanya diam memandangnya, menbuat Eva sadar jika ia sudah bersikap berlebihan.
Bisa Dave lihat, Ibu nya itu memalingkan muka sambil pura-pura membenarkan letak kerudung hitam nya, padahal ia sedang menghapus air mata.
Untuk kesekian kali Eva menghela nafas panjang. " Mom syok saat Daddy mu ingin menceraikan Mom." kembali Eva bercerita, tapi kali ini tanpa melihat ke arah Dave, dan dari nada bicaranya terdengar seperti sedang kesal.
Eva mengigit bibir bawahnya, mencoba mengatur nafasnya yang sepertinya sulit sekali untuk bernafas normal. "...Mom putus asa, merasa tidak ada harganya sebagai seorang wanita dengan sikap Daddy mu..." terbata seperti menahan tangis ia kembali meneruskan cerita.
Dengan kesal Eva mengusap kasar air mata tak tahu diri yang mengalir dari ujung matanya, ia sampai hampir meremas map merah yang ia pegang hanya supaya gejolak hati nya bisa sedikit meredam.
Dave memalingkan muka di tatap seperti itu. Ia kembali menatap langit-langit kamarnya, memejamkan matanya rapat-rapat. Pedih dan sakit mendengar kenyataan yang harus ia terima.
Namun Dave Lelaki kuat, sejak kecil ia di didik langsung oleh Kakeknya yang bertangan dingin, membuat ia mampu meredam dadanya yang hampir meledak oleh nyeri yang meradang.
"...Kenapa kalian nggak menikah ?" tanya Dave tanpa melihat ke arah Ibu nya.
"Mom tidak tahu kau ada, dan saat tahu pun Mom tidak bisa berbuat apa pun." jawab Eva dengan mata yang sudah memerah. "Mom masih mencintai Daddy mu, sedangkan orang itu..." Eva terlihat sulit tiap kali menceritakan orang yang menjadi Ayah kandung Dave itu.
Dave melihat Ibu nya itu berkali-kali mengusap hidung dan menghela nafas berat dengan air matanya yang terus meleleh walaupun sudah berkali-kali di bersihkan.
"Prioritas hidupnya adalah Keluarga Marthadinata, Keluarga yang telah mengadopsinya, memberinya..."
__ADS_1
"Apa ??" seketika Dave bangkit dari tidurnya, membuat ia langsung memegangi kepalanya yang pusing karena ia bangun dengan tiba-tiba.
Eva dengan cepat kembali menidurkan Dave yang meringis memegangi kepalanya dan menidurkannya ke bantal lalu menaikkan ranjang tempat tidur, membuat Dave dalam posisi duduk tanpa perlu mengangkat punggungnya.
"Apa maksudnya..??" Dave seperti tak mengerti, padahal hanya dengan mendengar kata-kata Ibu nya, mestinya dia paham.
Eva tahu anaknya akan semakin syok mendengarnya, tapi ia sudah bertekat tak mau menyembunyikannya apa pun lagi.
"Rendy Aryatedja bukan saudara kandung Daddy mu, dia yatim piatu yang di adopsi oleh Keluarga Marthadinata dari sebuah Panti Asuhan." Eva berkata.
Mulut Dave langsung membulat dengan wajah tak percaya. "Ja, jadi aku...??" wajahnya menegang dengan mata hitamnya yang berkaca-kaca.
Harga diri dan kebanggaan yang dari kecil sudah di sematkan padanya sebagai Yang Istimewa dari dua Keluarga Konglomerat besar di Asia. Dia yang selalu mendengar orang mengatakan Darah Bisnis Keluarga Martadinata mengalir dalam dirinya. Keturunan Terbaik dari dua Keluarga Terpandang dan Terhormat.
Eva masih memandangi Dave yang hanya diam bersandar pada ranjangnya yang telah di naikkan, terlihat putus asa dan seperti kehilangan separuh hidupnya.
"Dia orang antik yang tidak suka uang dan barang mewah." Eva berkata sambil berdiri dan mengusap air matanya. "Ini untukmu." ia menaruh map merah itu di pangkuan anaknya. "Buka lah saat perasaan mu sudah tenang." ucapnya kemudian, lalu berjalan keluar ruangan.
Beberapa menit Dave masih mematung, sebelum ia menunduk melihat map warna merah itu dan membukanya.
Beberapa buku tabungan, sertifikat tanah, saham, sebuah kunci Apartemen yang di taruh dalam plastik klip dan selembar foto.
Dave mengabaikan semua dan hanya mengambil selembar foto yang terselip di antara surat-surat berharga yang kesemuany sudah di alihkan atas namanya.
Nafas Dave tercekat saat memandang orang yang tak lebih mirip dari dirinya itu.
...----------------...
Bonus bab sebagai permintaan maaf karena telat Update 😅
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca 🤗
-🍀-