SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
GADIS BODOH


__ADS_3

Kirana masih begitu asik menikmati kegiatan memanjat dan memetik buah-buah mangga itu. Ia mengabikan teriakan Shopie yang menyuruhnya turun karena Kelas mereka sudah di mulai dan ia sudah memanjat begitu tinggi.


"Kirana, mangga yang kau petik sudah banyak !" Shopie kembali berteriak dengan kedua tangan yang terangkat ke mulut dan membentuk lingkaran.


"Masih kurang ituu...!" Suara Kirana terdengar dari atas.


Shopie berdecak kesal, di pandanginya mangga-mangga berukuran besar dan setengah matang yang berjumlah lebih dari 10 buah. Ia kembali menengadah ke atas, di lihatnya gadis berkuncir itu kembali memanjat lebih tinggi.


"Kirana, jangan tinggi-tinggii...!" Shopie memperingatkan. Jujur ia merinding tiap kali melihat Kirana yang selalu naik-naik ke atas Pohon seperti ini.


"Yang sebelah sini mangga nya besar-besar !" Dari kerimbunan daun mangga suara Kirana terdengar.


Shopie menghela nafas kesal. "Kelas kita sudah di mulai nih...!" kembali ia memperingatkan.


"Kita absen saja !" Suara Kirana terdengar.


"Apa...??" Shopie kembali menegadahkan kepalanya ke atas. Tapi yang terlihat hanya rimbunnya daun-daun mangga dengan sosok Kirana yang tertutupi.


"Absen !" Di lihatnya Kirana yang berdiri pada dahan yang terjulur ke bawah, membuat Shopie kini bisa melihat sosoknya yang penuh keringat dengan anak-anak rambutnya yang menempel di dahi dan pipi nya.


"Mana mungkin aku absen ??" Kening Shopie berkerut. "Aku sudah sering absen tahu !" ia melihat ke jam tangannya.


"Aku juga kok." Kirana yang bergelantungan di pohon menjawab. "Biarin aja, nggak berani mereka kasih nilai jelek." ia terkekeh.


"Itu hanya berlaku pada mu yang anak pemilik Kampus." Shopie memgerutu dalam hati. "Aku tinggal yaa...??" Shopie berkata dengan kepala menegadah ke atas.


"Jangaan...!" Cegah Kirana lalu turun ke atas dahan yang lain. "Aku bawanya susah nanti..." wajah nya memelas.


"Kau ini, kelasku lebih penting." Shopie berkata dengan wajah kesal.


"Shopie...." Dari atas Pohon Kirana memandang sahabatnya itu dengan wajah memelas.


"Jangan mengelurkan jurus memelasmu." Shopie berkacak pinggang. " Bye..." ia tersenyum sesaat kepada Kirana yang masih di atas pohon, sebelum kemudian ia sudah berlari pergi untuk mengikuti kelas nya yang sudah di mulai beberapa saat lalu.


Tinggal Kirana yang termenung di atas pohon. "Terus siapa yang bantuin nanti...??" ia mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Dave menyembunyikan diri di balik tembok ketika di lihatnya Shopie yang berlari-lari ke arahnya. Untungnya gadis berambut pendek yang di cat pirang dengan baju atasan warna ungu tua dengan bawahan celana jeans itu sedang terburu-buru, jadi ia tidak begitu memperhatikan sekitar nya.

__ADS_1


Kembali di lihatnya Kirana yang masih nangkring di atas Pohon. "Dasar bodoh, sudah tahu temannya pergi, kenapa dia tidak ikut...?? " Dave berkata dalam hati.


Tidak tahu kenapa hatinya ikut cemas saat melihat Kirana yang bukannya menyudahi aksi memetik mangganya, tapi malah kembali naik lebih ke atas.


"Mangga yang dia petik sudah banyak, kenapa malah manjat lagi...??" Dave mengerang dalam hati, tak habis pikir dengan gadis itu.


Sepertinya lelaki yang siang ini memakai kaos biru tua dengan celana jeans dan tas ransel hitam yang di cangklongkan di bahu sebelah kanannya itu lupa dengan kelasnya sendiri, dan malah sibuk berkomentar tentang apa yang di lakukan Kirana.


"Dasar bodoh, kau bisa jatuh kalau memanjat sambil cengegesan seperti itu." Umpat Dave dalam hati saat melihat Kirana yang tertawa sendiri sambil memandangi buah mangga yang baru saja ia petik.


Dan benar saja, Kirana menjadi tidak fokus dan malah menginjak ranting rapuh sebagai pijakan kakinya.


Kirana terkejut saat ranting itu patah dan tubuhnya langsung meluncur kebawah dan menciun tanah dengan bunyi yang keras,


BUUUGH !!


Dave terkejut, ia hampir saja menolong gadis itu kalau saja wajah Kirana yang sedang mengerang kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang nyeri terlihat lucu di matanya.


"Rasakan !" ucap Dave dalam hati sambil menutup mulutnya untuk menahan tawanya. "Di bilangin suruh berhenti malah tidak mau." ia kembali berucap dalam hati.


"Sakiiiittt...." Kirana meringis sambil mengusap-usap pinggulnya.


Segera di pungutinya mangga-mangga yang tadi ia petik dan di masukan semuanya ke dalam karung bekas beras yang sebelumnya tadi ia minta kepada Ibu Kantin Kampusnya.


"Mau kemana dia dengan karung mangga itu...??" Dave penasaran saat di lihatnya Kirana yang dengan susah payah membawa karung berisi sekitar 20 an mangga yang dia panggul di pundak.


Dengan badannya yang kurus Kirana agak kesusahan membawanya, karena di samping dia yang harus membawa karung berisi mangga yang pasti berat, ia juga masih membawa tas selempangnya yang berisi buku pelajaran.


Di usapnya anak-anak rambutnya yang menutupi keningnya yang berkeringat, wajahnya terlihat semakin memerah terkena sinar matahari siang yang terik.


Dalam jarak aman, diam-diam Dave mengikuti ke mana langkah gadis berkuncir yang berkali-kali berhenti untuk menyeka keringat dan menurunkan beban berisi karung mangga di pundaknya.


"Dasar bodoh." Dave berucap dalam hati. Meski begitu, ia terus mengikuti Gadis itu.


Mata Dave membulat saat melihat Kirana yang berjalan menerobos rumput-rumput tinggi tak terawat di pagar pembatas dekat lapangan basket.


Ternyata tembok pembatas itu rusak dan tertutup rumput ilalang yang telah tinggi, dan Kirana masuk ke dalam lubang tembok itu yang langsung menghubungkannya dengan dunia luar.

__ADS_1


Begitu keluar dari lubang tembok pembatas Kampusnya, Kirana langsung di sambut suara deru kendaraan dari jalan raya yang ramai.


Ia melihat ke kanan dan ke kiri, dan wajah lelahnya langsung tersenyum cerah saat di lihatnya dari kejauhan seorang Ibu tua yang duduk berjualan di pinggir trotoar jalan raya.


Kirana membenarkan letak karung berisi mangganya dan berlari cepat ke arahnya.


Mata Dave langsung menyipit dan ia menutup mulutnya begitu keluar dari tembok pembatas yang rusak.


Wajahnya menunjukkan ketidak nyamana saat bau kenalpon dari angkutan umum yang berjajar menunggu penumpang memenuhi hidungnya. Belum debu-debu jalanan yang berhamburan di jalan raya yang padat kendaraan dan matahari yang tepat di atas kepala.


"Kenapa dia malah duduk jongkok di trotoar yang kotor..??" kening Dave berkerut tak percaya. "Kenapa mengobrol dengan orang tidak jelas di jalanan seperti ini...??" Tanya Dave dalam hati, saat di lihatnya dari kejauhan Kirana yang telah berjongkok di depan seorang Ibu tua renta dengan jualan nya yang di gelar begitu saja di atas trotoar dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Kirana menyerahkan karung berisi mangga tadi kepada Ibu tua itu yang di terima nya dengan senang hati.


"Maaf yaa Nek, nggak bisa membantu banyak..." Wajah Kirana menunjukkan penyesalan.


Di pandangnya prihatin jualan Ibu tua tersebut, hanya berupa sayur-sayuran yang sudah layu yang di gelar di atas tikar lusuh.


"Neng Cantik sudah sering membantu Nenek." wajah tua yang di penuhi keriput dan menghitam karena terkena debu dan sengat sinar matahari yang terus menerus itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi ompongnya.


Mendegarnya wajah Kirana menunduk dengan bibir manyun. "Seandainya Daddy nggak membatasi uang sakuku..." ucapnya dalam hati.


Di lihatnya si Nenek yang membuka karung berisi mangga yang tadi ia beri dengan wajah berbinar. Kemudian di tatanya mangga-mangga itu bersama jualannya yang lain.


Jualan yang di lirik oleh Para Pejalan kaki di sekitar situ pun tidak, karena memang apa yang di jual oleh Nenek tersebut tidak lah menarik pembeli dengan dagangan yang berjumlah sedikit dan sayuran yang telah layu.


"Mangga harum manis, pasti nanti banyak yang beli." Nenek itu berkata sambil tersenyum memandang Kirana dengan wajah penuh syukur.


Kirana mau menangis melihatnya, ia tidak tega. Betapa kehiduapan dari si Nenek itu berbanding terbalik dengannya.


Di ambil nya dompet warna pink nya dari tas slempangnya, di ambil 5 lembar uang 100ribu dengan menyisahkan beberapa lembar uang kertas warna hijau, ungu dan abu-abu di dompetnya.


Dave memamdang apa yang di lakukan Kirana dari kejuahan, membuat ia tak bergeming dari balik tiang listrik tempatnya menyembunyikan diri sementara sekitarnya begitu bising dengan suara kendaraan di jalan raya.


Ia baru tersadar saat melihat Kirana yang telah berjalan cepat ke arah nya sambil melihat jam di tangannya, membuat ia panik dan cepat-cepat membalikkan badannya.


Namun sayang, bersamaan dengan Kirana lewat di belakangnya, saat itu pula lewat sebuah Bis yang mengeluarkan asap hitam tebalnya, membuat Dave langsung terbatuk-batuk dan menghentikan langkah kaki Kirana.

__ADS_1


Gadis itu menoleh ke belakang, matanya membulat. "Dave...??" ucapnya kaget.


__ADS_2