
Malam ini, Pesta Ulang tahun Marthadinata Corp berlangsung mewah dan penuh keakrapan. Meja-meja bundar di balut kain warna putih dengan ujung berenda, di tengah nya terdapat hiasan bunga mawar putih segar yang di taruh dalam vas kaca kecil. Karpet tebal warna merah dengan motif mozaik khas Turki tergelar memenuhi ruangan. Di pojok dekat mimbar terdapat kue ulang tahun berbentuk gedung pencakar langit Marthadinata Corp.
"Shopie, apa ini nggak terlalu terbuka ?" Kirana dengan rambut nya yang di sanggul cantik menarik-narik gaun malam nya yang bermodel kemben supaya lebih menutupi bagian dada nya.
"Kenapa di naikkan lagi ?" Shopie yang mengenakan dress bermodel ekor putri duyung menurunkan lagi gaun Kirana agar belahan dada nya sedikit terlihat. " Model nya memamg seperti ini, kalau di naikkan lagi malah seperti kain hitam yang di lilit." ucap nya kesal.
Kirana mengerucut kan bibir nya. "Aku malu belahan dada ku terlihat." ia menutupi bagian dada nya.
"Apa nya yang terlihat ? Rata gitu.." ia terkekeh, membuat Kirana kian sebal.
"Di mana, Jon ?" tanya Shopie saat Kirana sedang membenarkan kalung mutiara nya yang menjuntai.
"Belum datang." jawab Kirana tanpa menatap lawan bicara nya.
"Sebentar lagi acara di mulai, lebih baik kita duluan saja." shopie mengusul kan. "Keluarga mu sudah siap tuh." Shopie menunjuk ke arah meja bundar urutan paling depan. Di sana telah duduk Ayah dan Ibu Kirana, serta Kirana Adik nya.
Kedua wanita anggun itu sudah bersiap melangkah ke tengah ruangan yang di naungi merdu suara gesekan biola dari Violinist yang berdiri di atas mimbar dengan backgroud merah maroon, ketika seseorang memanggil.
"Kirana !"
Kirana dan Shopie menoleh bersamaan. Jonathan yang mengenakan setelan kemeja dan jas warna hitam tersenyum dan berjalan ke arah nya.
"Hai, Shopie." sapa Jonathan saat sudah di antara mereka.
"Heemm..tahu deh kalian coupelan ya..?" Mengabaikan sapaan Jonathan. Shopie malah lebih fokus pada baju Jonathan dan Kirana yang sama-sama hitam.
"Enggak, kok." Kirana yang pertama berkata. "Tuh ! banyak, kan yang pakai warna hitam." Kirana menunjuk ke arah tengah yang di penuhi tamu-tamu undangan yang telah duduk di tempat. Sebagain besar memang memakai jas dan gaun warna hitam.
"Iya, kok tahu kalau kita couple ?" Jonathan terkekeh. Di lihat nya Kirana yang malam ini memakai long dress model kemben warna hitan yang sangat kontras dengan kulit nya yang putih.
"Apa ?" ucap Kirana kesal, tapi sebenarnya dia malu karena Jonathan yang meneliti nya dari atas sampai bawah.
"seksy." ia tersenyum nakal.
Cepat-cepat Kirana menutup bagian dada nya dengan kedua telapak tangan yang di silangkan. "Mesum..." Kirana mendesis kesal.
Shopie yang berada di tengah mereka menjadi teracuhkan karena adegan itu. Ia melipat kedua tangannya ke dada. "Lebih baik kau cepat nikahi dia, Jon." Shopie mengkerling kan sebelah mata nya. Membuat Jonathan tertawa terbahak.
"Shopie !" wajah Kirana merah padam. Shopie menjulurkan lidah seperti mengoda anak kecil, membuat Kirana makin kesal.
__ADS_1
"Aku akan mengambil cuti satu bulan saat kita bulan madu nanti." Jonathan merangkul pundak Kirana.
Wajah Kirana manyun menatapnya. Jonathan tersenyun makin lebar. ia membungkukkan badannya." Selama satu bulan, nggak akan aku biarkan kau keluar kamar." ia berbisik.
Mata Kirana langsung membulat dengan kedua pipinya yang memerah. Shopie yang berada tepat di depannya tak paham. Sementara Jonathan sudah tertawa kegirangan.
"Joonn..." Kirana sudah gemas pada Lelaki bertubuh tinggi dan bermata sipit itu. Ia sudah bersiap menumpahkan kekesalannya saat mendadak matanya mendangkap sosok Laki-laki berjas hitam dengan kemaja putih, mengandeng mesra seorang wanita bergaun putih yang menonjolkan tubuh langsing nya tengah bersalaman dengan Ibu serta Ayah dan Adik nya.
Tanpa Kirana sadari ia menahan nafas melihat mereka dari kejauhan.
"Lihat, siapa yang sudah lebih dulu mengambil tempat duduk kita." Jonathan berucap.
Kirana masih menatap lurus ke arah yang di maksud Jonathan.
"Apa itu Tunangan Dave ?" tanya Shopie ingin tahu sambil melihat ke arah pasangan yang telah duduk bersama Keluarga Kirana tersebut.
"Iya." Jonathan membenarkan. "Tuanangan nya itu cantik sekali, kenapa dia mau dengan Laki-laki seperti itu ?" Jonathan tak habis pikir.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tengah aula yang sudah di penuhi Para tamu yang menepati kursi-kursi yang telah di beri cover kain warna putih selaras dengan taplak meja nya yang putih berenda.
"Dave juga ganteng." shopie yang berjalan di sisi kiri Jonathan menjawab. "Sayang sifat nya buruk sekali." ucap Shopie. "Muka nya itu lo..." ia gemas. "Apa dia nggak bisa sedikit saja tersenyum ?" tanya nya.
Jonathan terkekeh mendengar nya. "Lebih baik kau tanya langsung." ucap nya.
"Seperti nya dulu seleramu bukan yang seperti itu." Jonathan bercanda.
"Sejak dulu seleraku tetap indomie, Jon." ia terkekeh dan di sambut tawa Jonathan.
Kirana hanya diam di sisi kiri Jonathan. Ia berjalan menunduk sambil meremas lengan Jonathan yang ia gandeng.
Menyadari lengan jas nya tertarik, Jonathan yang sedang asik mengobrol bersama Shopie menoleh ke arah nya.
"Kenapa ?" ia bertanya.
Kirana mengangkat wajah nya melihat Jonathan yang menunduk ke arah nya.
"Kau grogi ?" Jonathan mengusap-usap punggung tangan Kirana yang dingin.
"Mungkin."Kirana mengigit bibir bawah nya.
__ADS_1
"Kan ada aku." Jonathan merangkul pundak mulus Kirana dan merapatkan pada diri nya.
"Aku duluan, mau bergabung dengan Karyawan lain." Tanpa menunggu Kirana atau Jonathan berkata, Shopie sudah berjalan ke arah meja pada sisi tengah yang di peruntukan khusus Manager.
Baik Jonathan dan Kirana tidak terlalu memperhatikan kepergian Shopie karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Semalam malam." Jonathan memberi salam saat sudah sampai di meja yang di situ telah terlebih dahulu duduk Keluarga Kirana serta Dave dan Angela.
Dave yang duduk di dekat Ayah Kirana mengangkat wajah menatap nya. Jantung Kirana kembali berdesir sampai terasa mulai pada perut karena begitu keras jantung nya berdetak.
Ia bahkan tak dengar jika Ibu nya menanyakan sesuatu pada nya dan Ayah nya mengatakan jika dia cantik dengan gaun malam nya.
"Kirana." Jonathan menarik kursi untuk dia duduki.
Begitu Dave memalingkan muka, saat itu juga Kirana tersadar dan cepat-cepat duduk di samping Kiandra dan tepat di depan Dave dan Angela duduk.
"Halo Kirana." sapa Angela ramah, membuat Kirana menoleh ke arah nya. "Sudah lama kita tidak bertemu." ia tersenyum.
"Iya, apa kabar ?" Kirana mencoba santai.
"Kau terlihat cantik Kirana." puji Angela tulus.
"Terimakasih.." Kirana menunduk malu.
"Tapi cantikan dia, Kirana." Kiandra berbisik, membuat Kirana sebal menatap Adik lelaki nya itu.
"Angela benar-benar manis, pantas Dave yang seperti es ini bisa mencair." goda Ibu Kirana membuat Angela tersipu. Dave sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi nya.
"Hari ini kau sudah menjadi bagian dari Keluarga kami, Angela." giliran Ayah Kirana yang berkata. "Jadi jangan sungkan-sungkan." lanjut nya.
"Saya senang sekali." Angela melihat ke arah Andreas dan Marisa bergantian. Senyum nya terlihat makin cantik saat wajahnya tertimpa cahaya lampu ruangan. "Saya tidak menyangka akan di terima dengan baik. Bahkan Pak Andreas sendiri yang mengundang saya langsung." ia menautkan kedua tangannya ke dada penuh syukur.
"Panggil Dad, seperti Dave memanggil." Ayah Kirana itu tersenyum.
Dave dan Kirana serentak saling pandang.
Angela menutup mulut nya tak percaya. "..Ah, saya memanggil Dad ?" ia tak yakin.
"Panggil Ibu juga, Angela." Marisa yang duduk di sebelah Suami nya itu tersenyum ramah pada Tunangan Dave yang malam ini tampil bak peri dengan rambut panjang yang di jalin cantik dan dress warna putih tanpa lengan.
__ADS_1
Angela terlihat malu-malu, tapi di wajah nya tampak sekali binar kegembiraan. "Dad, Ibu.." ia melihat ke arah Andreas dan Marisa bergantian.
"Kenapa aku nggak di suruh memanggil Dad dan Ibu juga, Kirana ?" Jonathan berbisik pada Kirana yang mematung dengan pandangan kosong ke arah Dave.