SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
CURIGA


__ADS_3

Marisa menjerit dan berusaha menengahi.


"Kau memeluk saudaramu sendiri dan menciptakan skandal yang berakibat pada semua ini ?" Jonathan masih menarik kerah baju Dave.


Dave menatapnya dengan kening berkerut dalam. "Kami nggak bersaudara, kau tahu itu, kan ?" ucap nya tenang.


Mata Jonathan membulat. Ia mengerti maksud kata-kata Dave, dan emosinya makin tersulut. Tangannya kembali terkepal, siap melayang ke arah Dave yang memandangnya tak kenal takut.


"Cukup !" bentak Marisa sambil memegangi tangan Jonathan. "Berhenti !" lanjutnya dengan suara keras.


Merasa tak enak dan keduanya sama-sama menghormati wanita tersebut. Baik Jonathan maupun Dave saling melepaskan dengan emosi yang masih begitu terlihat.


"Dave, Ibu tahu, pasti kau dan Kirana punya alasan kenapa kalian bisa sampai berpelukan dan tertangkap kamera papparazi." Marisa berkata pada Dave yang wajahnya masih terlihat gundah dengan pipi yang sedikit lebam. "Apa pun itu, Ibu percaya itu adalah hal baik. Media hanya mengambil kesempatan dan memberi bumbu negatif untuk keuntungan pribadi." Marisa berpendapat.


Dave memalingkan muka. Ia ingin menyangkalnya, tapi tidak mampu.


Hanya Jonathan yang tahu arti dari itu semua. Kedua tangannya tergengam memandang Dave. "Mana mungkin Kirana menyukai Dave ?" ia berkata dalam hati. Jonathan tak percaya, tapi felling nya mengarah ke situ.


"Kita akan membicarakan ini nanti Dave." Marisa berkata kepada Dave yang menunduk diam. "Sekarang yang terpenting bukankah Kirana ?" wajahnya memelas.


Seperti baru tersadar akan hal yang penting. Jonathan dan Dave akhirnya memilih melupakan perselisihan mereka.


"Di mana terakhir Kirana berada Oba-san ?" tanya Jonathan.


"Dia di kamar." jawab Marisa tak habis mengerti. "Bahkan baru satu jam lalu Pelayan mengantarkan camilan untuk Kirana dan Shopie." lanjutnya.


"Shopie ?" Dave dan Jonathan berkata bersamaan.


"Iya, sudah dua hari Shopie menginap di sini, menemani Kirana yang syok akibat teror kucing itu." Marisa menjelaskan.


Jonathan dan Dave saling pandang.


"Bukankah teror kucing itu pelakunya orang dalam ?" Dave bertanya ragu.


"Belum di ketahu Dave." Marisa mengeleng cemas.

__ADS_1


"Semua cctv di matikan. Dia tahu ruangan Kirana dari sekian banyak ruang di gedung berlantai tiga puluh." Dave mengeluarkan analisanya.


"Kucing yang di bunuh juga kucing liar yang sering Kirana beri makan." Marisa berkata.


"Apa ibu nggak curiga kenapa pelaku bisa tahu sedemikian detail tentang Kirana ?" tanya Dave kepada Marisa, namun pandangannya mengarah pada Jonathan yang tampak berpikir keras.


"..Pelaku pasti sudah menyelidiki tentang Kirana ?" tebak Marisa ragu.


Pandangan Dave terarah ke Jonathan yang tertegun mendengar semua itu.. "Mungkin kau ingin mengatakan sesuatu, Jonathan ?" Dave menekankan pada kalimat terakhirnya.


"Shopie memang penggemarku. Tapi Shopie juga teman baik Kirana." Jonathan berkata. "Mustahil Shopie yang melakukannya." Jonathan tidak percaya.


"Kalian membicarakan apa ?" Marisa yang berada di tengah dua anak muda itu tak mengerti. "Shopie sudah seperti keluarga dan dia anak yang sangat baik. Dia juga membimbing Kirana di kantor saat Kirana belum mampu dengan beban pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya." Marisa berkata panjang lebar.


"Hanya polisi yang bisa membuktikan." Dave masih menatap Jonathan.


"Kau menuduh Shopie, padahal kau sendiri biang masalahnya !" bentak Jonathan. Dia kenal baik Shopie. Bukan satu atau dua tahun, dan Jonathan yakin tidak mungkin Shopie yang membunuh dan menaruh bangkai kucing di meja kerja Kirana.


Dave mengkerutkan kening dan memalingkan muka dari Jonathan. "Bu, aku minta nomor ponsel Shopie dan alamat rumahnya." Dave berkata pada Marisa.


Dave tak mempedulikannya. Ia mengetik nomor ponsel dan alamat Shopie yang Marisa berikan dan segera pergi dari situ.


Tinggal Jonathan dan Marisa yang berada di situ saat Dave sudah melaju pergi dengan mobil Lamborghini Aventandor Lp 700-4 warna merahnya.


"Tenang lah Oba-san." Jonathan berkata saat wajah Marisa semakin terlihat cemas. "Barangkali Kirana hanya ingin menenagkan diri dari semua permasalahan yang ada." lanjutnya.


"Tapi kenapa tidak pamit ?" mata Marisa berkaca-kaca menatap Jonathan. "Seumur hidup Kirana tidak pernah seperti ini. Dia selalu minta ijin terlebih dahulu jika ingin pergi." air matanya kembali menetes.


Jonathan ikut merasakan kekawatiran Marisa. Tapi saat ini pikirannya pecah saat teringat Dave yang menuduh Shopie yang membawa Kirana pergi. "Tapi jika seandainya benar itu Shopie, bukankah berarti benar Kirana hanya ingin menenangkan diri dengan di bantu Shopie kabur dari rumah ?" Jonathan menebak-nebak.


Malam itu semua orang di kerahkan untuk mencari keberadaan Kirana. Tapi mereka tidak buru-buru menggunakan Polisi, karena ini berhubungan dengan privacy nya Keluarga Marthadinata. Mereka tidak mau hal ini terendus media, mengingat scandal yang Kirana buat belum usai.


Begitu lah resiko jika berhubugan dengan public figure, semua menjadi konsumsi publik. Jika tidak pintar-pintar bersikap, itu bisa memjadi bumerang. Mengingat apa pun berita tentang mereka, bisa menjadi uang.


Dave mendatangi alamat Shopie yang di berikan Marisa. Sepuluh menit lebih Dave memencet tombol yang terletak di pinggir pintu gerbang tinggi yang menutupi seluruh rumah dan halamannya yang luas.

__ADS_1


"Cari siapa, Mas ?" seorang Satpam Perumahan yang tidak sengaja sedang berkeliling melihat Dave yang berdiri mondar-mandir di depan pintu gerbang.


"Pemilik rumah ini, Shopie Ashraf ?" Dave bertanya sambil menunjuk rumah yang hanya di sinari lampu taman.


"Sudah pindah lama, Mas." Satpam bertumbuh besar dan tengah menaiki sepeda montor itu berkata.


Dave terkejut. Ia berjalan mendekatinya dan mulai bertanya banyak hal pada Satpam tersebut.


"Kabarnya Tuan Ashraf sakit stroke sejak di tinggal kabur Istrinya bersama selingkuhan muda nya. Semua aset di jual, termasuk rumah ini." Satpam itu menunjuk tulisan berwarna kuning yang tidak terlalu di perhatikan Dave karena gelap.


Dave menelan ludah. Bukan karena masalah keluarga Shopie. Tapi karena jantungnya yang berpacu lebih cepat oleh pikiran buruknya.


"Di mana anak-anaknya ? Shopie ? Saya temannya." Dave berusaha bersikap tenang.


"Itu saya kurang tahu." si Satapm berkata. Raut wajah Dave tampak kecewa. "Tapi..kalau tidak salah Nona Shopie beberapa hari lalu ke sini. Tapi bukan ketemu saya, tapi teman saya.."


"Iya, lalu ?" potong Dave tak sabar.


"Hanya titip uang komisi karena sudah membersihkan Villa tempat Tuan Ashraf di rawat." Satpam itu menerangkan.


"Di daerah mana Villa itu ? Shopie tinggal di sana ?" Dave kembali bertanya. Entahlah, kenapa ia bisa begitu kuat menuduh Shopie dalang di balik semua ini. Perasaanya hanya mengatakan begitu.


Sementara itu di sebuah gudang penyimpanan barang bekas. Kirana dengan posisi kedua tangan terikat di belakang dan mulut tertutup lakban membulat kan mata lebar-lebar saat ujung benda tajam itu di arahkan padanya.


"Kita buat wajahnya rusak." seorang wanita dengan penutup wajah berkata.


"Supaya Jon nggak perlu terlalu sakit hati." suara cekikian yang mirip kuntilanak membuat bulu kudu Kirana meremang.


"Padahal nggak cantik gini, tapi bisa membuat Jon terpikat." wanita dengan penutup wajah itu memainkan pisau lipatnya ke pipi Kirana.


Kirana semakin ketakutan. Kedua matanya sudah mengalirkan air mata. Tapi ia tidak bisa berteriak.


"Matanya cantik." salah satu dari wanita bertopeng itu kembali bicara. "Mungkin matanya yang membuat Jon tertarik."


"Kalau begitu congkel saja matanya, dan hadihkan pada Jon."

__ADS_1


Ucapan wanita itu di sambut tawa dua rekannya yang lain.


__ADS_2