SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
VIDEO CALL


__ADS_3

Getaran ponsel pada saku celananya membuat Dave tersadar dari lamunan tak masuk akalnya. Ia mengusap wajahnya kasar, berusah menyingkirkan wajah wanita yang tidak ia inginkan.


Ia duduk di tepi ranjang, senyum langsung terkembang di wajah tampannya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang masih getar di tangannya.


Dave bangkit berdiri, meraih saklar lampu yang terletak di samping pintu kamarnya. Begitu kamar tidurnya yang luas dengan banyaknya buku-buku dan samsak tinju warna hitam yang berada di pojok ruang terang benderang, dengan tak sabar Dave segera mengeser layar ponsel nya sambil duduk di kursi meja belajarnya.


"Hai Mom...?" Ucap Dave sambil menatap layar ponselnya, yang memperlihatkan seorang wanita usia kisaran 50 tahun, namun seluruh rambut panjang nya yang tergelung sederhana telah memutih seluruhnya tanpa kecuali.


Dave meletakkn ponselny dalam posisi berdiri dan menyandarkanny pada setumpuk buku tebal yang terdapat di atas meja belajarnya.


Kemudian di lipatnya kedua tangannya di atas meja belajarnya. Dengan dagu yang ia topangkan di atasnya, membuat ia dalam posisi nyaman memandang wajah wanita yang ia panggil Mom yang sedang melakukan video call denganny itu.


"Apa kabar Dave...?" Wanita berusia 50 tahun yang sebenarnya masih sangat cantik dengan hanya beberapa kerutan di bawah mata itu tersenyum .


"Baik Mom," ucap Dave. " Maaf hari ini aku lupa memberi kabar..." lanjutnya.


Dari dalam layar ponsel, wanita itu tersenyum menatap putra satu-satunya tersebut. "Kau tentu sibuk.." ucap nya.


Dave merubah posisi dudukny sedikit, namun matanya tak berpaling dari sosok yang ia sayangi tersebut. "Yaah...Angela memintaku menemaninya berbelanja seharian ini...." Dave berkata. Namun pikirannya tak tertuju pada tunangan cantiknya tersebut, tapi malah lebih ke Kirana yang baru beberapa kali ia temui dalam situasi yang ajaib.


"Aah..sampikan salam ku untuknya." Wanita dengan seluruh rambutnya yang telah memutih itu berkata.


"Akan aku sampikan Mom, dia pasti akan sangat senang." Dave tersenyum.


Benar-benar senyum lembut dan tulus saat Dave memandang wajah Mom nya tersebut lewat layar ponsel.

__ADS_1


"Membicarakan Angela, Mom jadi tidak sabar melihatmu menikah dengannya." Bibir wanita itu mengulas senyum. Yang mendadak membuat wajah Dave sesaat menjadi kaku, namun segera ekspresi wajahnya menjadi seperti sedia kala. "Kau beruntung Dave memiliki Angela sebagai tunanganmu..." Wanita itu kembali berkata.


Dave terdiam, namun bibirnya masih membentuk senyum. Hanya supaya wanita berusia 50 tahunan dengan rambut putihnya yang tergelung sederhana yang ternyata adalah Ibu nya itu tenang.


"Angela berasal dari Keluarga Adam yang terhormat, dia juga cantik, baik, dan lebih penting dari semua itu, dia mencintaimu Dave..." mata tua wanita itu berkaca-kaca menatap anak lelakinya.


Dave menelan ludah, kalimat terakhir dari Ibu nya itu seperti lebih di tunjukan untuk diri Ibunya sendiri di masa lalu. Yang pernikahan karena perjodohannya hanya membuat kesengsaraan di hidup nya.


"Kakekmu sangat selektif saat memilihkan tuangan untukmu, tapi dengan Angela Kakekmu langsung setuju." Ibu nya kembali berkata.


Mata hitam Dave langsung membulat saat melihat Ibu nya yang rambut panjangnya telah beruban seluruhnya itu tertawa kecil. Tawa yang sangat jarang Dave lihat.


"Mom jadi geli saat mengingat pertama kali nya kami memutuskan Angela lah yang menjadi tuanganmu." Ucap wanita itu setelah selesai tertawa. "Karena seumur hidup, baru kali ini Mom sependapat dengan Kakekmu." kembali wanita berusia 50 tahun itu tertawa, membuat rona kebahagiaan terpancar pada diri Lelaki itu.


"Jaga dan bahagia kan Angela, Dave..." Wanita itu kembali berkata sambil tersenyum melihat anak lelakinya.


Bagi Dave, kebahagiaan Ibu nya adalah kebahagiaannya. Ia akan rela melakukan apa pun, meskipun itu hal yang mustahil, asal bisa membuat wanita itu tersenyum.


Bayang-bayang masa kecil nya yang di penuhi gambaran Ibu nya yang selalu menangis sendirian dan tanpa siapa pun, membuat Dave berjanji dalam hati, bahwa akan selalu ia bahagiakan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Aah..Mom jadi tidak sabar ingin kalian segera menikah." wanita itu berkata senang. " Mom juga tak sabar di panggil Nenek." ia tertawa. "Pasti lucu dan mengemaskan seperti kau dulu Dave." kembali Ibu nya itu tertawa.


Dave hanya diam memperhatikan tawa Ibu nya yang sangat jarang ia lihat. Walaupun Dave tahu, bahwa Ibu nya tidak benar-benar sedang tertawa.


"....Mom, kau tidak ingin pulang...?" tanya Dave setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


Bisa di lihatnya dari layar ponsel ekspresi wajah dari Ibu nya itu berubah. Sejak usia Dave belum ada 3 tahun, Ibu nya memang sudah mengajaknya menetap di Paris. Hanya saja, saat Dave berusia 7 tahun, ia di ajak tinggal kembali ke Indonesia oleh Kakeknya.


Tapi sejak tinggal pisah dengan Ibunya, Dave beberapa kali jatuh sakit dan Dokter menyarankan agar ia tetap tinggal bersama Ibunya.


Jadilah pada usia 13 tahun sampai sekarang ia kembali tinggal bersama Ibu nya di Paris, walaupun kadang kala beberapa kali ia harus pulang ke Indonesia atas suruhan Kakeknya.


Dan kini saat ia telah menyelesaikan study SI nya, ia memutuskan untuk pulang dan kuliah S2 di Indonesia, tak lain karena ia punya maksud tersendiri.


"...Dad kemarin menanyakan kabar mu Mom..." lanjut Dave.


Wanita itu terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis, "....Seperti apa Daddy mu sekarang...?" tanyanya perlahan, hampir tak terdengar.


Dave diam tak menjawab. Mata hitam nya masih menatap lurus pada ponsel yang kini ia pegang, supaya ia bisa lebih dekat melihat wajah Ibu nya.


"...Apa wajahnya juga sudah di penuhi keriput seperti Mom...??" ia kembali bertanya, matanya berkaca-kaca menatap anak lelakinya dari layar ponsel. "....Pasti...ubanku lebih banyak dari nya..." ia tersenyum pahit. Sedih dengan kondisi rambutnya yang begitu cepat memutih seperti seorang berusia 80 tahun dengan seluruh rambutnya yang beruban.


"....Mom..." mata Dave memerah, ia menahan agar air matanya tidak keluar saat Ibu nya menyingung soal rambut panjangnya yang telah memutih seluruhnya, padahal usianya baru 50 tahun.


Di pandangi wajah putranya itu lekat-lekat dengan mata nya yang berkaca-kaca. "Dave, Mom kangen..." Ia tersenyum, namun pandangannya mengawang.


Dave menghela nafas panjang, menundukkan pandangan sesaat, kemudian menyibak rambut nya yang menutupi kening lalu mendekatkan wajahnya pada layar ponsel dan tersenyun melihat Ibu nya.


Dave tak pernah suka dengan keningnya yang lebar, untuk itu ia selalu menutupi dengan rambutnya. Tapi Ibu nya sangat menyukai jika rambutnya itu tersisir rapi ke atas, membuat kening yang ia benci itu terlihat. Alasan ibu nya pun tak masuk akal, yaitu hanya supaya Ibu nya itu bisa melihat wajahnya lebih jelas.


"...Kau benar-benar tampan Dave..." Wanita dengan rambutnya yang memutih itu mengusap-usap layar ponselnya yang tersambung video call dengan anak lelakinya yang kini tinggal jauh dari nya.

__ADS_1


Dadanya bergemuruh, pundaknya bergetar menahan tangis. Ia tidak mau anak nya itu melihatnya menangis lagi, tapi melihat wajah anaknya tersebut benar-benar membuatnya semakin merindukan seseorang yang tak mungkin lagi bisa ia temui.


"....Mom benar-benar kangen padamu Dave..." ucapnya hampir menitikan air mata.


__ADS_2