
Hakikat cinta adalah saling percaya, untuk itulah aku selalu menpercayai Dave. Meski di jodohkan orang tua. Tapi saat pertama kali bertemu, aku langsung jatuh cinta.
Tahun-tahun pertama kami lalui dengan hubungan jarak jauh. Berat, karena aku merindukannya. Tapi Dave yang baik, selalu menyempatkan waktu untuk menelpon sekedar bertanya kabar dan mengingatkan untuk makan.
Aku merasa beruntung karena Lelaki yang akan menjadi jodohku ini begitu tampan dan perhatian. Walaupun tak banyak bicara dan kadang terlihat termenung seperti memikirkan sesuatu yang berat. Tapi Dave tetaplah sosok yang sempurna untukku.
"Nona Angela sekarang rajin membantu di dapur." seorang Pelayan dari Keluarga Adam tersenyum melihat Nona Mudanya sibuk memasak sesuatu sambil melihat konten memasak di youtupe.
Angela terkekeh. "Dave pandai sekali memasak, Bi. Aku akan malu kalau sampai nggak bisa." ucapnya sambil melihat ke arah Pelayan rumahnya sesaat.
"Benarkah ?" Pelayan berusia lima puluh tahun itu terkejut. "Sama sekali tidak kelihatan kalau Tuan Muda Dave suka memasak."
Angela kembali tertawa. "Aku juga dulu tak tahu." ia berkata. "Saat Nenek Erika memberitahuku, aku juga masih tak yakin. Lalu aku paksa Dave untuk memasakan ku sesuatu." tawa menghiasi wajah cantiknya yang bersemu merah. "Dan masakannya enak sekali." nada bicaranya berubah manja.
Pelayan tersebut tersenyum melihat tingkah Angela.
"Sejak itu aku belajar memasak. Supaya besok masakan ku lebih enak dari Dave" ia menjulurkan lidah sambil tertawa.
"Kenapa harus begitu, Nona ? Bukankah Nona harusnya senang Tuan Muda Dave jago memasak ?" Si Pelayan tak mengerti.
"Mana bisa seperti itu." Wajah cantiknya berubah cemberut, membuat Pelayan yang telah mengasuhnya sejak kecil itu tertawa. "Setelah menikah, aku yang akan memasak. Akan aku buat Dave selalu rindu rumah dengan masakan yang aku buat." Angela tertawa riang.
Si Pelayan ikut terkekeh. "Tanpa seperti itu pun, Tuan Muda Dave akan selalu rindu rumah. Karena Anda lah yang di rindukan Tuan Muda."
Perkataan Pelayan tersebut membuat Angela malu dan salah tingkah. "Iiih, Bibi.." rajuknya manja.
Pagi ini Angela sedang belajar membuat Pie Apel dan berniat memberikan pada Dave siang nanti sebagai bekal.
Orang tua yang sibuk, membuat Angela lebih dekat dengan Pelayan yang bertindak sebagai Pengasuh. Meski begitu Angela tak pernah kekurangan kasih sayang. Dia yang anak bungsu dan perempuan satu-satunya sangat di cintai seluruh Keluarga, terlebih dia sangat cantik dan baik hati. Membuat hidupnya sempurna tanpa cela.
"Nona Muda, Ada Tuan Dave di depan." seorang Pelayan lain datang memberitahu.
Angela terkejut. Ia menghentikan aktifitas di dapur dan segera mencuci piring.
"Waah..panjang umur Tuan Muda Dave." gurau pengasuhnya.
Angela tertawa. "Tolong bawakan pie apel ku yang telah matang dan teh cammomile hangat." perintahnya sebelum berlalu dari dapur untuk menemui Dave di ruang tamu.
"Baik, Nona." Pelayan itu menunduk patuh. Tapi Angela sudah tak terlihat. Membuat ia saling pandang dengan Si Pengasuh dan tertawa geli melihat tinggah Nona Muda nya yang selalu kasmaran jika menyangkut Tunangannya.
"Dave !" Panggil Angela dari kejauhan saat melihat Dave duduk di kuris ruang tamu.
Dave yang semula menunduk langsung melihat ke sumber suara.
Dengan wajah berseri, Angela menghambur ke arahnya. "Aku kangen sekali." ucapanya sambil memeluk Dave.
__ADS_1
Wajah Dave berkerut tak enak saat Angela memeluknya.
"Baru saja aku membuatkan mu pie apel." ia duduk di samping Dave dan bergelayut seperti biasa. "Tumben kau ke rumah tanpa memberi kabar ?" tanyanya. "Bagaiman Kirana ? Aku harap dia baik-baik saja." wajahnya berubah prihatin.
Dave baru saja akan membuka mulut untuk bicara. Ketika seorang Pelayan datang membawa nampan berisi potongan pie apel dan dua cangkir teh camomile hangat.
"Silahkan." Pelayan itu menunduk undur diri.
"Terimakasih." Dave berucap. Agak segan ia ketika di sambut baik padahl ia datang untuk memberitahu tahu hal buruk.
"Aku sendiri yang membuatnya, Dave." Angela mengambil satu potong pie apel dan hendak menyuapkan pada Dave.
Reflek Dave menolak. Membuat raut wajah Angela berubah kecewa.
"Angela, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Dave menatap Angela.
"Aku tahu, Dave. Tapi aku ingin kau mencicipi pie apel buatanku dulu, please." ia memohon sambil menyodorkan pie apel buatannya.
Dave bimbang. Karena Angela terus memaksa, mau tak mau akhirnya ia membuka mulut, dan dengan gembira Angela menyuapkan potongan pie apel itu ke mulut Dave.
"Bagaiman ?" tanya Angela. "Enak nggak ?" ia terlihat antusias.
Dave masih menguyah, untuk menelan pun rasanya sulit. Bagaimana bisa ia bisa merasakan enak tidaknya.
"..Ya, ini enak." ucap Dave setelah berhasil menelan lalu mengambil cangkir teh dan meminumnya. Sekedar untuk menengakan kegugupannya.
Hati Dave kalut. Melihat Angela yang tak tahu apa-apa, membuatnya bimbang untuk bicara.
Tapi bukanlah sejak awal Dave sudah tahu, bahwa tidak saja jalannya yang terjal untuk bersama Kirana. Tapi juga akan banyak yang di korbankan.
Seandainya tidak ada cinta di antara ia dan Kirana, pasti lah semuanya akan lebih mudah. Dave menghela nafas panjang.
"Angela." Dave memandang Tunangannya yang berwajah oval dengan senyum terkembang saat ia memanggil namanya. "Aku ke sini untuk memberi tahumu sesuatu." nada bicara Dave merendah.
"Memberi tahu aku sesuatu ?" Angela mengulang pertanyaan Dave sambil menyesap teh hangatnya.
Dave menelan ludah dan menghembuskan nafas panjang. "Seharusnya aku membicarakan ini ketika ada orang tuamu. Tapi kupikir kau harus tahu lebih dulu." ucapnya.
Kedua pipi Angela merona dengan mata berbinar menatap Dave. "Apa Dave ingin pernikahan kami di percepat ?" tebaknya dalam hati. Dia girang sendiri membayangkan jika itu benar terjadi.
"Angela." Dave menatapnya baik-baik. Ada perasaan tak tega saat memandang wajah cantik yang selalu tersenyum dan selalu setia terhadapnya.
Angela menyimak dengan seksama. Berharap Dave cepat mengatakan apa yang ingin dia ungkap.
"..Angela, aku tak bisa meneruskan pertunangan kita." Dave berkata perlahan.
__ADS_1
Mata Angela membulat. "A, apa..?" ia tertegun.
Dave bisa melihat perubahan espresi dari wanita itu. Membuat Dave harus berkali-kali menguatkan hati, agar lebih tegas bersikap karena ia telah menentukan pilihan dan tak mau menyakiti Angela lebih lama lagi.
"..Kirana bukan saudaraku." Dave kembali berkata saat Angela masih mencoba menampik apa yang Dave barusan katakan. "Hubungan orang tua kami di masa lalu rumit. Aku belum bisa terbuka sepenuhnya soal itu. Tapi yang jelas, aku dan Kirana tak satu Ayah."
Ingatan Angela melambung saat pertama kali bertemu dengan Kirana di sebuah Mall. Ia teringat ekpresi wajah Kirana saat menatap Dave yang berada di sampingnya. Dan Dave ketika itu,
"Kau bilang Kirana nggak cantik. Tapi kenapa menoleh ke belakang ?" Angela yang berjalan sambil mengapit lengan Dave bergurau saat Dave ketahuan olehnya sedang menoleh ke belakang. Ke arah Kirana yang masih berdiri mematung menatap mereka dari kejauhan.
"Apa kalau menoleh ke belakang artinya aku sedang melihat ke arahnya ?" Dave berkata santai.
Angela tersentak. Kejadian itu sudah lama sekali. Mata Angela mulai memerah menatap Dave yang duduk di sampingnya. Ia mengendus aroma penghianatan dari Tunangan dan wanita yang sudah ia anggap teman.
"Angela, maaf kan aku." Dave terlihat menyesal.
"Apa cintamu padaku berubah karena kehadiran Kirana, Dave ?" tanya Angela. Suaranya sedikit gemetar dan wajahnya sudah memerah. Tapi dia tidak menangis.
Dave menunduk sesaat sambil meremas jari-jarinya yang saling tertaut dengan kedua siku yang bertumpu pada paha.
Air mata Angela akhirnya meleleh melihat sikap diam Dave. "Aku tak menyangak dia seperti itu.." suara Angela gemetar, membuat Dave menoleh ke arahnya.
"Ini bukan salah Kirana." Dave mencoba menjelaskan. Wajahnya berkerut sedih melihat Angela menangis. Dave tak pernah tega melihat seorang wanita menangis. Tapi kini, justru ia lah penyebanya menangis.
"Lalu salah siapa, Dave ?" Angela menghapus air matanya. "Bertahun-tahun hubungan kita baik-baik saja, dan kini setelah dia muncul.." Angela tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia teringat artikel gosip yang memuat foto Kirana yang memeluk seorang pria. "Jangan-jangan pria di dalam foto iru..." Angela menunjuk Dave dengan jarinyayang gemetar. "Jon ?" mata Angela membelalak teringat Jonathan yang sampai vakum dari dunia hiburan sejak batalnya pernikahanny dengan Kirana. "Tega sekali kalian pada kami..?"Angela tak percaya.
"Maaf, kan aku Angela.." Dave menunduk pasrah.
Angela terisak. Ulu hatinya terasa berdenyut nyeri atas penghiantan Tunangan yang ia cintai dan wanita yang ia kira saudara Tunangannya, ternyata menjadi orang ketiga yang menghancurkan kebahagiaanya.
"Untuk resminya, aku akan datang lagi bersama Keluarga ku untuk meminta maaf." Dave bangkit dari duduknya.
Angela masih mematung di tempat. Ia masih tak percaya dengan apa yang barusan Dave katakan.
"Bukankah hubungan kami selama ini baik-baik saja ?" ucap Angela dalam hati. Wajahnya memerah dengan air mata meleleh di pipi saat Dave berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi padanya.
PRAAANG !
Bunyi gelas jatuh terdengar, membuat Dave menoleh ke belakang.
Matanya membulat melihat Angela yang sudah memegang pecahan gelas. Dan sebelum Dave sempat mencegah, Angela yang seumur hidup tak pernah mengenal sakit hati mengorok lehernya sendiri dengan pecahan gelas yang berada di tangannya tersebut.
...----------------...
Sudah mau mendekati END nih, berikan like,vote n komentar terbaik kalian ya 🤗
__ADS_1
Terimakasih 🙏🥰
-🍀-