
Perlahan Kirana masuk ke dalam kamar yang dulu di tempati Dave ketika ia masih tinggal di rumah Keluarga Martadhinata. Kirana mengigit bibir bawah nya ragu saat melihat Dave yang sedang duduk dan baru saja mengambil barang yang ia perlukan untuk di bawa pulang.
"Kenapa kau seperti pencuri di Rumah mu sendiri ?" Dave menoleh sekilas ke arah Kirana yang dari tadi maju mundur untuk masuk atau tidak.
Kening Kirana berkerut mendengar nya, ia kesal dengan mulut Dave yang selalu berbicara ketus dengannya. Namun ketika ia mengingat manis nya Dave saat minta maaf pada nya tadi, membuat Kirana mengurungkan niat untuk marah.
"Daddy menyuruh agar barang-barang mu tetap di sini kan, agar sewaktu-waktu kau bisa menginap lagi." Kirana berkata sambil duduk di tepi ranjang, sedang kan Dave masih sibuk memilah beberapa barang yang ia masukan ke dalam tas ransel milik nya.
"Aku hanya mengambil yang aku perlukan." Dave menjawab singkat tanpa melihat ke arah nya.
Bibir Kirana mengerucut, di pandangi nya punggung Dave yang pemiliknya masih sibuk memasukan sesuatu sambil duduk bertumpu pada satu lutut di atas lantai yang berlapis karpet tebal warna cokelat tua.
"Di sini ilmu pengobatannya juga sudag maju." Kirana sengaja menutus kalimat nya. Di lirik nya lagi punggung lelaki berkaos hitam tersebut. "Apa nggak sebaiknya berobat di sini dulu ?" ia memberi saran. "Jika memang gagal baru ke Luar Negeri."
"Aku nggak bisa menyia-nyiakan waktu dengan segala sesuatu yang nggak pasti, apa lagi itu untuk pengobatan Mom." Dave berkata tanpa menoleh.
"Itu bukan menyia-nyiakan, tapi mencoba." Kirana tak habis pikir dengan cara berpikir orang yang selalu membuat nya berdebar tak karuan itu.
Dave tak menjawab, ia mengabaikan Kirana yang duduk di bekakang nya dan memilih segera menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi yang Kirana tak tahu, alasan Dave tak mau melihat ke arah nya karena saat ini pun dia gugup dan tidak ingin jika kegugupannya itu terlihat oleh gadis itu.
Suasana kamar yang dulu di tempati Dave itu begitu sunyi karena memang mereka tak bicara dan tembok Rumah Keluarga Marthadinata terlalu tebal untuk bisa mendengar suara dari luar.
"Kau sayang sekali dengan Mommy mu." Kirana kembali berkata.
Dave melirik sebentar ke arah Kirana tanpa menoleh kan wajah nya, namun hanya itu reaksi nya. Selebih nya diam seperti tadi.
Kirana mendengus kesal melihat sikap Dave yang cuek dan dingin terhadap nya. "Aku pikir setelah tadi ia minta maaf sikap nya bisa berubah lebih baik, tapi ternyata sama saja." Kirana berucap dalam hati.
Ia baru saja bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan ruangan tersebut, saat ia kembali menoleh ke arah punggung Dave dan ia melihat sesuatu menyembul dari balik kerah baju Dave yang berbentuk V-neck .
__ADS_1
"Kau mempunyai tatto ??" Kirana langsung meraih pundak Dave, membuat Lelaki itu terkejut dan melihat ke arah nya.
Dave mengibaskan tangan Kirana yang berada di pundak nya dan bangkit berdiri. "Memang kenapa ?" tanya nya tetap dengan ekspresi tenang nya.
Kirana menahan nafas sambil menutup mulut nya dan menatap tak percaya. "Mana pantas wajah baik-baik nya itu di sanding kan dengan tatto yang hitam menyeramkan ?" Kirana berucap dalam hati.
Dave menarik lengan baju nya lebih naik agar pundak bagian belakang nya tertutup. Kedua alis tebal nya sedikit berkerut menatap gadis yang kini memandang nya seolah ia Alien yang datang untuk menyerang Bumi.
"Ke, kenapa harus mentato tubuh sendiri ?" akhir nya Kirana berkata saat Dave akan melangkah pergi dengan tas ransel yang ia cangking begitu saja.
"Memang apa peduli mu ?" kali ini nada bicara Dave sudah ketus seperti awal mereka bertemu.
"Tapi itu sakit, dan melihat ukurannya..."
"Yang sakit aku, kan ?" potong Dave.
Wajah Kirana langsung masam.
"Kenapa kau selalu ketus pada ku ?" tanya Kirana marah.
Langkah Dave terhenti.
"Saat tahu kita bersaudara pun kau tetap ketus pada ku." Kirana berucap, namun Dave masih tak menoleh pada nya. "Dan..saat ternyata kita bukan lah saudara..kau juga tetap ketus." Nada bicara Kirana merendah. Ia kesal dengan Dave tapi tidak bisa benci. Entah lah selalu ada sensasi aneh tiap kali ia dekat dengan Lelaki ketus itu, tapi untuk sekedar duduk berdua dan berbicara normal dengannya rasanya sulit.
Seolah Dave memang membangun dinding tinggi agar ia tidak bisa memewati nya dan hanya bisa melihat dari tempat nya berada tanpa bisa meraih diri nya.
"..Kalau, kalau aku punya salah aku akan minta maaf, tapi jangan berbicara ketus seperti itu lagi." Wajah Kirana memerah menatap punggung yang selalu membelakangi nya itu.
Dave mencengkeram pegangangan pada tas ransel nya lebih erat, ia menelan ludah dengan susah payah dan wajah nya menegang. Tidak mungkin ia membiarkan gadis itu mengintip hati nya yang saat ini tengah bergolak. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia bersikap dingin hanya supaya gadis itu menjauh dari nya.
Semuanya sudah sempurna, karena bagi Dave hanya ada Ibu nya yang bertahun-tahun akhirnya ada semangat untuk melanjutkan hidup.
__ADS_1
Walaupun tak menampik jika jauh di lubuk hati nya yang serasa remuk redam karena kenyataan yang harus ia terima, ada sedikit perasaan lega karena mereka tak bersaudara.
"Nggak." setelah beberapa saat mematung, akhirnya Dave berkata dan membalikkan badannya menghadap ke arah Kirana.
Mata cokelat itu kembali serasa membius Dave, membuat ia mati-matian harus tetap menunjukan keteguhannya dengan tidak goyah balik menatap nya. "Kalau di sini ada yang salah, pasti lah itu aku." ucap nya.
Kirana mengigit bibir bawah nya. Ia bingung mau berkata apa lagi karena Dave tak lagi bicara.
"..Aku dengar setelah lulus kau kan menikah dengan orang Jepang itu." Ucap Dave membuat Kirana kini sepenuh nya menatap nya.
Dave memiringkan sedikit kepalanya, menunggu jawabn Kirana yang serasa kelu ingin berkata.
"..Bu, bukankah..bukankah kau juga.." Suara Kirana semakin pelan seiring ia menundukkan pandangan ketika teringat Dave dan Angela yang berciuman di Rumah Sakit kala itu.
"Iya." Dave menjawab tegas. "Mungkin jika melihat sifat Dad, bisa-bisa kita di nikah kan bersama." Kekehan suara Dave membuat Kirana mengangkat muka nya.
Kembali mereka saling lihat tanpa bicara.
Baru kali ini Kirana melihat Dave tertawa dan di tunjukan kepada nya, namun Kirana tak merasa bahagia. Padahal tawa itu yang ingin Kirana lihat.
"...Aku berdoa semoga Mommy mu segera sehat, Dave." akhirnya hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Kirana saat ia merasa semua tak sejalan dengan harapannya. "Aku harap saat kau kembali, hubungan kita bisa lebih baik lagi." lanjut Kirana karena Dave masih diam.
Mata hitam itu masih menatap nya, membuat Kirana seakan masuk ke dalam nya, membuat sekitar hampa dan hanya ada Dave seorang.
"Perasaan macam apa ini ?" Kirana selalu tak mengerti.
"Aku juga berdoa semoga Dad, Ibu, Kian dan kau selalu sehat dan bahagia." Dave berkata.
Kirana memandang laki-laki dengan rambut nya yang sebagian menutupi kening dan badan tegap nya yang berdiri di hadapannya.
"Kirana." Dave tersenyum, membuat jantung gadis itu terasa ngilu karena berdetak begitu kencang.
__ADS_1