SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
TAK BISA PULANG


__ADS_3

Kirana yang wajahnya kotor terkena tanah bercampur air mata dan luka sayat di pipi menoleh ke arah Dave. Matanya bergerak melihat tangan Dave yang mengenggam jemarinya, kemudian beralih melihat Dave yang tengah memandang sedih ke arahnya.


Bibir Kirana bergetar, masih tak percaya kini dirinya selamat dan Dave ada di sisinya. Sedetik kemudian wajah Kirana berkerut dan di susul air matanya yang kembali bercucuran. Dave tak kuasa membendung perasaanya, di peluk erat Kirana dalam dekapanya.


Rasa khawatir, takut dan cintanya pada Kirana membuncah seiring tangis Kirana yang memeluk erat pundaknya.


Mata Dave berkaca-kaca, ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menahan perasaan tapi juga tidak mampu untuk mengungkapkan.


Pundak Kirana gemetar dan tangisnya pecah. Dia bersyukur Dave datang menjawab doa nya yang dalam keadaan terjepit. Ia datang di saat Kirana putus asa dan berpikir akan mati di tempat itu oleh orang-orang yang bahkan tidak Kirana kenal dan tahu.


Mereka saling melepas peluk. Dalam keremangan mobil, mata keduanya saling menatap jelas satu sama lain. Badan mereka sudah saling condong dan keduanya memejamkan mata. Bibir mereka hampir bersentuhan saat kilat mengelegar dan mengagetkan keduanya.


"Ponselku batrainya habis." ucap Dave canggung. "Ibu pasti sudah sangat mencemaskanmu. Lebih baik kita cepat pulang." Dave memalingkan muka kikuk.


"Iya.." Kirana menjawab pelan sambil menyandarkan punggungnya ke jog mobil. Di pandanginya Dave yang sedang menjalankan mobil di barengi hujan lebat yang turun. Kirana sudah tak memerlukan pengakuan Dave, karena dengan pelukan dan tindakan Dave hari ini, itu sudah menjawab semua. Meski masih merasa syok dan trauma atas kejadian tadi. Tapi ada Dave di dekatnya, membuat Kirana kini tenang.


Entah karena lelah atau lega. Perlahan mata Kirana terpejam dengan posisi ia yang bersandar pada jog mobil dan tengah memandangi Dave menyetir.


Gudang tempat Kirana di sekap tadi berada di daerah dataran tinggi dengan jalan berkelok-kelok dan curam. Sangat tidak cocok dengan jenis mobil sport yang di miliki Dave.


Hujan lebat di sertai angin dan petir membuat kabut turun, Dave hampir-hampir tidak bisa melihat depan dan beberapa kali mobilnya terguncang karena melewati kerikil-kerikil yang turun dari atas bukit bersama air hujan yang mengalir deras.


"Ada apa Dave ?" Kirana kaget saat ia merasakan guncangan keras yang membuat ia terbangun.


"Ada lubang besar, aku nggak melihat." Dave berkata tenang. Pura-pura tenang sebenarnya, karena dengan kondisi alam yang tidak baik dan mata lelah karena kurang tidur, Dave benar-benar harus ekstra konsentrasi dalam menyetir.

__ADS_1


Tinggal satu tikungan lagi dan mereka akan sampai ke jalan utama, ketika dari kejauhan terdapat sinar merah yang menyuruhnya memutar.


"Apa di depan ada kecelakaan ?" tanya Kirana.


Dave menelan ludah sambil melirik ke tanda yang menunjukkan bahan bakar, panahnya sudah menyentuh empty.


Dave membuka kaca mobil untuk bertanya, membuat wajahnya langsung tertampar gelombang hujan angin.


"Ada tanah longsor. Seluruh akses jalan tertutup." seorang berpakaian orange dengan membaca light stick lalu lintas mengarahkan agar Dave putar arah.


Kirana dan Dave saling pandang.


Dengan baju basah kuyup karena keluar dari mobil dan berlari ke Villa yang kini mereka sewa. Dave dan Kirana masuk dengan perasaan canggung dan tak enak.


"Maaf kan aku, seharusnya kita tetap di mobil sambil menunggu hujan reda. Tapi bahan bakar mobilku habis." dengan raut sungkan Dave menjelaskan.


Kirana menunduk. "Aku mengerti, Dave. Nggak apa-apa.." ucapnya pelan.


"Ada telpon di Villa ini, kita bisa menelpon Ibu untuk menjemput kita." Dave mencoba mencairkan suasan saat di pojok ruang ia melihat telpon.


"Iya." Kirana masih menunduk. Ia merasa wajahnya sekarang pastilah buruk rupa dengan luka yang ia dapat. Menyadari itu membuat ia matanya kembali berkaca-kaca.


"Kau mandilah dulu. Pemilik Villa tadi bilang ada mesin cuci dengan pengering, juga ada hairdrayer. Kau bisa mencuci baju mu dan segera bisa memakainya kembali." Dave masih berusaha mengunakan logikanya. Baju Kirana memang terlihat kumal karena ia tadi bergulung di lantai dan entah apa lagi yang di lakukan tiga wanita jahat itu padanya sampai bajunya sedemikian kotor.


Villa yang mereka sewa hanya Villa kecil dengan satu kamar dan satu kamar mandi.Meski begitu, dengan penataan yang pas, membuat penyewa betah dan nyaman di dalamnya.

__ADS_1


Kirana masuk ke dalam kamar tidur yang menjadi satu dengan kamar mandi. Jantungnya berdebar-debar melihat tempat tidur berlapis sprei putih yang tampak nyaman itu.


Baru saja jantungnya berpacu cepat karena ketakutan. Dan kini melompat-lompat seperti ingin keluar dari rongga dada, saat ia hanya bedua bersama Dave dan dalam konsdisi seperti ini.


"Apa yang kau pikirkan, Kirana ? Kau hampir mati dan bisa-bisanya kau berpikir yang tidak-tidak ?" Kirana mengerang dalam hati.


Tak membutuhkan waktu lama, Kirana telah keluar dari kamar mandi. Dengan hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di badan, ia mengambil baju-bajunya yang telah setengah kering dari mesin cuci. Kurang lebih sepuluh menit Kirana memakai hairdrayer untuk membuat baju-bajunya benar-benar kering. Yah walaupun ketika di pakai masih terasa dingin. Tapi ini lebih baik dari pada baju kotor yang tidak di cuci dan basah kehujanan.


Di pandanginya wajahnya di cermin lebar yang tertempel di tembok ruang. Kedua alis Kirana saling tertaut dan matanya kembali memerah. Di raba pelan luka memanjang di pipi kanannya itu.


Raut cantik Angela membayang, membuat Kirana menunduk karena semakin rendah diri. "Harusnya aku bersyukur bisa selamat." ia menguatkan dirinya sendiri.


Kirana membuka pintu setelah ia menghapus air mata dan membiarkan rambutnya tergerai suapaya bisa sedikit menutupi pipi nya yang kini cacat.


Pemandangan pertama yang di lihat Kirana begitu keluar dari kamar adalah tatto di punggung Dave yang besar. Kirana mematung di depan pintu melihat Dave yang hanya memakai celana jeans dan bertelanjang dada tengah sibuk memasak sesuatu.


Menyadari kehadiran Kirana, Dave menoleh ke arahnya. "Kau sudah selesai ?" rambutnya yang masih basah dan terlihat acak-acakan membuat kesan lain dari wajah Dave yang biasa.


Kirana masih berdiri di tempat. Ia melihat kaos Dave yang di jemur di atas kulkas. Mungkin supaya kering, karena kulkas pada bagian atas dan belakang panas, begitu pikir Kirana.


"Ada mi instan dan telur di kulkas." Dave menerangkan sambil menaruh piring berisi semacam omlette mie di atas meja makan.


Kirana masih tak bereaksi. Ia tengah sibuk mengamati tatto yang memenuhi punggung Dave dari atas sampai bawah.


Dulu Kirana hanya sempat melihatnya sekilas, itu pun cuma bagian atas yang tak jelas bentuknya. Kini dengan Dave yang tak memakai baju, Kirana tak hanya bisa melihat tatto apa yang tergambar pada punggung Dave. Tapi juga dada bidang dan otot perut Dave yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2