
"Bertahun-tahun aku sudah mencobanya." Kirana memberanikan diri menatap kedua orang tuanya yang terpegun melihatnya. "Tapi aku nggak bisa." dia mengeleng sambil mengusap air matanya. "Jon baik dan aku menyukainya. Dia sahabatku tapi bukan untuk pendamping hidup."
"Kirana.." Ibu nya memelas sambil meremas jemari tangannya.
Sedangkan Ayahnya diam dengan wajah kalut. Semua persiapan telah sempurna. Bahkan undangan pun tinggal di sebar. Semua Keluarga dan relasi sudah mengetahui. Malahan beberapa sudah mengirimkan ucapan dan rangkaian bunga untuk pernikahan anaknya.
"Daddy," Kirana memanggil Ayahnya perlahan. Membuat lelaki paruh baya yang tengah tertunduk itu mengangkat muka ke arahnya.
"Aku tahu aku mengecewakan Daddy." mata Kirana berkaca-kaca menatap Ayah tersayangnya. Lelaki cinta pertamanya. Tempat di mana dia pertama kali merasakan kenyaman pundak tempatnya bersandar selain pada Ibunya. Lelaki dengan wajah bak pinang di belah dua dengannya, yang akan selalu paling tampan meski kini hatinya telah di miliki lelaki lain.
Kirana menunduk. Menghapus air matanya berkali-kali, sebelum kembali memandang wajah Ayahnya. "Aku akan bertanggung jawab dengan keputusanku, Daddy." dia kembali berkata. Suaranya mantap meski wajahnya sembab oleh air bekas air mata. "Bila perlu aku akan pergi dari rumah dan nggak akan menuntut apa pun karena telah mencemarkan nama baik Keluarga."
Mata Andreas membulat mendengarnya. Seperti deja vu, bertahun-tahun lalu pun ia mengatakan hal yang kurang lebih sama. Wajah tua Andreas semakin berkerut. "Begini yang Papa rasakan saat aku dengan egois mengatakan keluar rumah dan meninggalkan semua ?" ia berkata dalam hati. Pedih hatinya mengingat Ayahnya yang kini telah tenang dalam kedamain.
"Apa yang kau katakan, Kirana ?" Marisa ikut menangis. Di guncangnya bahu putri satu-satunya itu. Putri yang ia kandung susah payah dan dalam keadaan menderita serta di penuhi kebencian pada Suaminya dulu. Putri yang menguatkannya dengan senyum manja dan pelukan hangatnya ketika dia tak sanggup bertahan oleh keadaan. "Kalau kau memang tidak mau, kita akan membicarakan hal ini dengan Keluarga Aoki. Ibu akan menemanimu." Ia mengusap air mata di pipi Kirana yang memandangnya dengan air mata berlina. "Tapi jangan sekali-kali kau mengatakan ingin keluar dari rumah ini. Ibu akan marah dan jangan harap Ibu mau bertemu denganmu lagi. Mengerti ?" ia membingai wajah cantik putrinya yang bermata sipit itu dengan kedua telapak tangannya.
Kirana menganguk dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Ibunya adalah yang terbaik, yang selalu berusaha mengerti dirinya. Tapi kini, justru hal itu makin membuat Kirana sesak, karena telah menempatkan orang terkasihnya itu pada situasi yang sulit.
Andreas masih diam memandang Istri dan anaknya tersebut. Di sini ia paham dengan istilah, seorang anak tak akan pernah mengerti perasaan orang tua sebelum dia sendiri menjadi orang tua untuk anaknya. Andreas mengela nafas panjang, merasa berdosa akan kesalahannya dahulu pada Ayahnya.
"Jonathan adalah cucu teman dan juga saudara jauh dari mendiang Nenekmu, Ayaka." Andreas akhirnya berkata. "Nenek Jonathan sangat menyayangimu sebab wajahmu yang mirip Nenek Ayaka, sahabatnya." Andreas terdiam beberapa saat. "Daddy sendiri tidak pernah setuju dengan adanya perjodohan. Tapi melihat kedekatan kalian sejak kecil dan perjodohan ini merupakan wasiat terakhir Oppa yang kita sayang, Daddy pikir tak akan timbul masalah."
Kedua wanita yang ia letakkan di sisi hatinya itu memandangnya.
"Kirana," Andreas berkata. Mata sipit dan berwarna cokelat terang keduanya itu saling lihat. "Apa dengan berjalannya waktu kau tidak bisa menerima Jonathan ?" ia bertanya.
__ADS_1
Kedua alis Kirana menyatu. Tanpa sadar ia meremas baju yang di kenakannya. "Apa dulu dengan berjalannya waktu Daddy bisa melupakan Ibu dan mencintai Mommy Eva ?" dia balik bertanya.
Andreas tersentak. Lebih-lebih Marisa yang duduk di sebelahnya.
"Ada orang-orang yang di anugerahi hati mudah menerima cinta dari orang lain. Mudah melupakan, dan bisa berbahagia tanpa menoleh ke belakang." Kirana berkata. "Tapi Daddy, aku anakmu." ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Sulit sekali Daddy, meskipun Jon begitu baik dan aku berusaha menerima."
Andreas dan Marisa diam mendengarkan.
"Maaf jika aku menyinggung masa lalu Daddy dan Ibu." Kirana berkata sambil memandangi wajah-wajah yang di kasihinya. "Aku hanya ingin Daddy dan Ibu mengerti. Bahwa aku nggak bisa melanjutkan pernikahan ini." dia mengusap air matanya.
Andreas menghela nafas panjang. Ia ingin marah, karena efek yang di timbulkan pasti akan luar biasa. Tapi alasan yang di kemukan putrinya itu juga benar. Ia pernah di posisi itu dan tahu rasanya. Walaupun malu memgakui, tapi egoisnya Kirana saat ini sama dengan egoisnya dia saat itu.
"Kemarilah.." Andreas merentangkan kedua tangannya.
Ragu-ragu Kirana bangkit berdiri. Memeluk Ayahhya dan duduk di sampingnya. Tangisnya kembali pecah saat Ayahnya itu mengelus puncak kepalanya dan ia mencium aroma wangi yang selalu tercium saat ia menyandarkan kepalanya ke pundak pria itu.
Kirana mengangkat wajahnya yang di penuhi air mata. Tak percaya menatap Ayah kandungnya itu.
"Terimakasih, Daddy." ucapnya terbata. "Aku janji akan nggak akan lepas tangan. Ini karena aku, maka aku akan.."
Ayahnya mengangkat tangan, sebagai isyarat agar dia berhenti berbicara.
"Apa kau mencintai orang lain, Kirana ?" tanyanya.
Kirana terdiam.
__ADS_1
"Kau mencintai pria dalam foto itu ?" Ayahnya bertanya lagi.
"Nggak Daddy." akhirnya Kirana menjawab. "Lelaki yang aku sukai sudah memiliki pasangan." ia berkata pelan.
Kembali Andreas dan Marisa saling pandang.
"Siapa Kirana ?" Ibunya ikut bertanya.
Kirana tak menjawab. Jemari tangannya saling tertaut di pangkuan dan saling meremas.
"Lalu siapa yang kau peluk jika itu bukan orang yang kau cintai ?" Ibunya tak bisa menahan diri untuk tahu. Karena baru kali ini putri nya yang manja bisa mengambil keputusan besar dan berani menghadapi kedua orang tuanya, terutama Ayahnya untuk meminta pembatalan pernikahannya.
"Aku yang di peluknya." Dave telah berdiri di antara mereka.
Mata Kirana membulat melihat Dave yang ikut duduk di ruang keluarga itu.
"Apa ?" kening Andreas berkerut dalam.
Sedang Marisa tak bisa berkata apa pun. Hanya terperangah menatap Dave yang kini telah hilang wajah tenangnya yang biasa.
"Ini nggak seperti yang Daddy atau Ibu duga." Kirana berkata cepat.
"Aku yang mengajak Kirana ke taman belakang dan memeluknya." Dave berkata. Jantungnya serasa melompat-lompat hendak keluar saat memandang Ayahnya. Setidaknya dalam rentang waktu sekian tahun, Dave menganggapnya sebagai Ayah kandung dan sampai kini ia masih sangat menghormatinya.
Andreas adalah figure Ayah untuk Dave yang seumur hidup tak pernah mengenal atau bertemu dengan Ayah kandungnya. Dan Marisa adalah sosok Ibu yang selalu memperlakukannya dengan lembut. Hal yang dulu tak ia rasakan dari Ibu kandungnya yang lebih sering mengurung diri di kamar dan tak mempedulikannya.
__ADS_1
Dave menunduk dan memejamkan mata, sebelum kemudian menatap kembali kedua orang yang masih memandangnya dengan raut tak mengerti. "Dad, Ibu, maaf.." ucap Dave pelan.