
Semua terpaku tak ada yang bicara setelah Dave mengucap kalimat itu. Udara seperti menekan Kirana sampai gadis itu tak sanggup untuk mengangkat muka.
"Mom." Dave memandang Eva yang tengah tertegun menatapnya.
Sendok yang di pegang Hertoni terjatuh dan menimbukan bunyi, mengejutkan mereka yang masih mencoba mencerna hal di luar pikiran mereka selama ini.
Bahkan seorang Hertoni yang terkenal paling vokal terhadap apa pun yang menurutnya tak sesuai dengan prinsip Keluarga Sanjaya, kini tak mampu bicara.
Mata Eva meremang, membuat wajah Dave berkerut sedih. Dipeganginya tangan Ibunya lebih erat. "Mom, maaf kan aku.." Dave berkata lirih.
Marisa memandang Andreas yang masih terperangah dengan bibir terkatup rapat dan kerutan di dahi yang semakin dalam.
"Daddy, Ibu.." takut-takut Kirana berkata. "Sejak dulu..aku selalu merasakan perasaan berbeda jika bersama Dave." ia menelan ludah dengan susah payah. "Saat tahu Dave saudara ku, aku sempat ingin melupakan dan mencoba mencintai Jon. Tapi hatiku tak bisa bohong.." mata cokelat terang Kirana mulai berkaca-kaca. "Meskipun Jon selalu di sampingku, tapi pikiranku hanya tertuju pada Dave. Saat tahu kami ternyata bukan berasal dari Ayah yang sama. Perasaanku padanya semakin kuat." Kirana berhenti sebentar, menunduk dan menghirup udara untuk bernafas. Begitu tegangnya sampai tanpa sadar Kirana menahan nafas.
Suasana kembali hening.
"Daddy." Kirana mengangkat muka dan memandangi Ayahnya lagi. "Daddy yang paling tahu kan, sulitnya membuka hati pada yang lain jika kita sudah jatuh cinta pada satu orang ?" Kirana memelas, meminta pengertian dari Ayahnya.
Andreas menghela nafas panjang sambil melipat kedua tangannya ke dada dan menatap langit-langit ruangan dengan perasaan campur aduk.
"Kirana.." Marisa tak tega memandang wajah putrinya.
"Bagaimana dengan Angela, Dave ?" Erika akhirnya buka suara.
Perasaan perih dan sakit karena harus menghianati dan menjadi penghianat kembali bergelayut dalam diri Kirana dan Dave.
"Dave ?" sudah setua ini, Erika pikir akhirnya hari damai dalam Keluarganya akan datang. Bermimpi melihat Cucunya menikah, lalu melahirkan Cicit untuknya. Erika memegangi kepalanya memikirkan semua rentetan kejadian yang akan membuat martabat keluarganya turun.
"..Aku akan menemuinya dan mengakhiri pertuangan kami." Dave berkata pelan.
Erika terkejut. "Teganya kau pada Angela, Dave." Erika tak percaya. "Salah apa Angela padamu, sampai kau..." Erika tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia tak percaya cucunya bisa berkata setenang itu tentang wanita yang bertahun-tahun bersabar menantinya kuliah di Paris dan tetap setia dalam hubungan jarak jauh.
Kirana makin tertunduk. Mengingat Angela membuatnya menjadi wanita paling jahat dengan hadir di tengah-tengah hubungan Angela dan Dave.
"Seandainya aku bisa lebih mengontrol perasaanku." sesal Kirana dalam hati.
"Tak ada yang salah dengan Angela, Nek." Dave mencoba menjelaskan. "Hanya saja.." kening Dave berkerut, wajahnya terlihat resah.
Lagi-lagi Dave dan Kirana menunduk dan terdiam.
"Kalian memang tidak bersaudara. Tapi semua menganggapnya begitu." Marisa berkata pelan. Ia mencoba memahami perasaan anak-anaknya. Tapi Marisa juga ingin Dave dan Kirana tahu resikonya.
Wajah Kirana semakin berkerut sedih. Ia meremas-remas jari-jari tangannya yang dingin di bawah meja.
__ADS_1
Sedangkan Dave mulai di merasa frustasi karena mengabaikan logika dan menuruti perasaan yang mestinya bisa ia redam.
"Tidak apa-apa." sekian menit bungkam dan hanya menjadi pendengar, akhirnya Eva buka suara.
Dave menoleh ke arahnya. Eva menangkup tangan Dave yang sedari tadi ternyata terus mengengam tangannya yang lain.
"Kau benar-benar menyukai Kirana, Dave ?" tanya Eva sambil tersenyum menatap putra semata wayangnya.
Dave tak menjawab dan masih terpegun melihat senyum dan binar mata Ibunya saat melihatnya.
"Kirana, kau menyukai Dave ?" giliran Eva bertanya pada Kirana.
"E,eh..?" Kirana sedikit terkejut menerima pertanyaan seperti itu dari Ibu Dave. Pasalnya dia mengira, tentu Ibu Dave lah yang lebih banyak tersakiti atas kejujuran mereka. Selain Angela tentu saja.
"Andre, sepertinya kau kena karma." Eva tertawa melihat Andreas. "Anakmu, menyukai anakku." ia terkekeh.
Wajah Andreas yang semula berkerut karena tengah berpikir keras, berubah kesal karena candaan mantan istrinya tersebut.
"Mom." Dave terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa Dave." Eva tersenyum pada putranya. "Iya, kan, Marisa ?" Eva bertanya pada Marisa yang masih diam melihat adegan Ibu dan anak tersebut.
Marisa terlihat sulit menjawab. Meskipun Eva tersenyum. Tapi bukankah dengan memberi restu pada Dave dan Kirana, itu sama artinya membongkar hubungan gelapnya dengan Rendy.
"Eva." kali ini Hertoni yang berkata. "Kau sadar dengan yang kau katakan ?" tanyanya.
Wajah Dave langsung sembab. Di pegangi pergelangan tangan Ibunya yang masih mengelus pipinya.
Eva menoleh memandang kursi kosong di sampingnya. "Jangan terpaku pada masa lalu." Eva kembali melihat ke arahnya. Membuat mata Dave mulai memerah dan ia terlihat emosional.
"Mom, maaf kan aku..." Dave menunduk, berusah untuk tak menangis.
"Tidak ada yang salah Dave." Eva menguatkan. "Kau hebat anakku." Mata Eva berkaca-kaca melihat ke arah Dave yang tertunduk dengan bahunya yang bergetar. "Kau dengan berani menghadapi resiko untuk mengejar apa yang kau yakini dan bisa membuatmu bahagia."
"Aku egois, Mom." baru kali ini Dave tak mampu mengendalikan perasaannya di depan banyak orang. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Ia tak mau kehormatan Ibu dan Keluarganya tercoreng, tapi cintanya hanya untuk gadis itu.
"Tidak ada yang egois jika kalian saling mencintai." Eva memegangi pundak Dave dengan kedua tangannya.
Air mata Kirana sudah luruh. Ia tak menyangka Ibu Dave akan membela mereka.
"Kalian hanya perlu saling terbuka, lalu bersama memperjuangkan cinta kalian." Di tatapnya Dave baik-baik. "Ren, lihat anakmu ini." ucap Eva dalam hati sambil mengusap air mata di pipi Dave. "Dia tidak sama seperti kita." ia tersenyum.
"Eva." Hertoni hendak mengatakan sesuatu. Tapi istrinya lebih dulu berucap.
__ADS_1
"Jika kau tidak peduli dengan nama baik keluarga. Lalu bagaimana dengan Angela ?" Erika yang sudah terlanjur menyayangi Angela merasa ikut tersakiti atas tindakan Dave.
"Soal itu aku yakin Dave sudah memikirkannya, Ma." Eva berkata tenang.
"Tapi," baik Hertoni dan Erika masih sama-sama merasa berat untuk menerima ini semua.
Eva menoleh sepenuhnya ke arah orang tuanya tersebut. "Kali ini saja, Pa, Ma, biarkan di antara kami ada yang bahagia." ucapnya pelan tapi penuh penekanan.
Hertoni menghela nafas panjang dan memejamkan mata mendengar kata-kata Eva. Ia teringat akan kesalahannya yang berakibat hidup anaknya yang tak bahagia.
Erika sendiri langsung tertunduk lesu dan tak berkata apa pun lagi.
Meski terpaksa. Mau tak mau mereka harus mengakui, bahwa menjadi tua dan hidup dengan pengalaman lebih. Tak menjamin mereka bisa bijak dalam bersikap, terlebih untuk anak-anaknya sendiri.
Kening Andreas semakin berkerut. Ia tak menyangka akan di hadapkan pada situasi rumit seperti ini. Sebenarnya tak kan masalah jika saja Rendy masih hidup atau Rendy dan Eva menikah. Tapi, apa jadinya jika benar hubungan Kirana dan Dave terjadi ?
"Nama baik Rendy.." Andreas berkata dalam hati. Ia bingung.
"Andre, Marisa." Eva berkata. Membuat dua orang itu kini fokus kepadanya. "Aku atas nama putraku, Dave, ingin melamar Kirana untuk menjadi bagian dari Keluarga kami."
Tidak saja Andreas dan Marisa yang terkejut. Tapi juga Kirana dan Dave, juga semua orang yang berada di situ.
"Eva, kau tahu ini bukan hal yang mudah untuk kita bisa langsung memutuskan." Andreas masih menggunakan penalaranya.
"Aku hanya ingin anakku bahagia." ucap Eva. "Apa itu salah ?" tanyanya tanpa emosi.
Andreas gamang. Ia melihat ke arah istrinya, meminta pendapat.
Marisa terdiam sesaat sambil memandangi Dave dan Kirana yang menatap penuh harap padanya.
"Sebagai orang tua, aku merasa bodoh karena tidak mengetahui tentang anak-anakku sendiri." Marisa berkata sambil menghela nafas. Ia terdiam sesaat sambil memandangi Suaminya yang menatap bimbang. "Kirana, apa kau yakin dengan perasaan mu ?" tanya Marisa.
"..Aku yakin, Bu." Kirana menatap Ibunya baik-baik.
"Dave." kali ini Marisa memanggil Dave. Membuat lelaki itu menoleh ke arahnya. "Kau anak dari seorang yang berarti untuk kami." Marisa berkata. "Seumur hidup aku berhutang budi padanya karena telah menyelamatkan nyawa Kirana." Marisa berkata lembut dan saling pandang dengan Eva sesaat, sebelum kembali melihat ke arah Dave. "Tidak ada alasan untuk kami menolakmu, Dave." ucapnya.
Kirana dan Dave saling pandang dengan wajah sedikit cerah.
"Tapi sejak awal hubungan kalian sudahlah saling bersebrangan." Marisa kembali berkata, dan menghela nafas.
"Dave, apa kau sungguh-sungguh ?" Andreas ikut bicara. "Itu bukan perasaan sesaat yang akan hilang seiring rasa penasaranmu yang menghilang, bukan ?" tanyanya.
"Enggak, Dad." Dave berkata cepat. "Baru kali ini aku menentang semua. Mengambil resiko yang aku tahu akan membuat semua menderita. Tapi.." Dave memegangi dadanya. "Aku lebih tak bisa saat harus melihat Kirana menderita sendiri karena aku yang tak mau memperjuangkannya."
__ADS_1
Kirana terenyuh mendengar kata-kata Dave.
"Baiklah kalau begitu." Mata sipit Andreas yang berwarna sama seperti Kirana menatap ke arahnya. "Selesaikan urusanmu dengan Tunanganmu. Setelahlah, kau bisa meminta restu pada kami lagi." ucap Andreas tegas.