SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
PEMBOHONG BESAR


__ADS_3

"Lihat ! Kak Dave saja bilang kau lah yang mirip anak kecil Kirana." Kiandra tertawa terbahak.


"Kian." mata Marisa sudah melotot ke arah anak Lelakinya itu. Namun segera perhatiannya teralih pada Suami nya yang juga ikut tertawa. Di cubit pinggang Andreas sampai Lelaki itu terkejut dan mendelik tak mengerti ke arah Istri nya. "Kenapa malah ikut tertawa ?" ucap Istrinya itu gemas.


Dave terkekeh mendengar guyonan Kaindra. Tapi tawa nya segera lenyap saat Kirana hanya diam menatap nya dengan air mata nya yang telah luruh membasahi pipi.


Dave tertegun.


"Kirana ?" Andreas langsung berjalan ke arah nya. "Kenapa menangis ?" tanya nya kahwatir.


"Enggak Daddy." Kirana memalingkan muka dan mengusap wajah nya berkali-kali.


Semua yang di situ kaget. Tidak biasanya Kirana menangis hanya karena mendengar ledekan Adik nya.


"Sudah bertahun-tahun pun mulut nya masih sepedas dulu." keluh Kirana dalam hati.


Setelah menjelaskan pada semua bahwa ia hanya mengantuk dan tidak sengaja keluar air mata. Tanpa melihat ke arah Dave, Kirana pamit tidur.


"Bagaiman keadaan Mommy mu, Dave ?" pertanyaan dari Marisa membuat Dave yang tengah memperhatikan punggung Kirana yang berjalan menjauh sedikit terkejut.


"Baik." Dave menjawab. "Mom membuka Toko Parfume di Paris untuk mengisi waktu luang nya." Mata Dave yang tadi mengelap saat melihat Kirana kini tampak bercahaya. "Tiap hari nya kesehatan Mom semakin membaik seriring dengan semangat hidup nya yang kian bertambah." ia tersenyum.


"Syukurlah..." Marisa memandang penuh syukur pada Lalaki yang telah ia anggap anak sendiri itu. "Kau tentu lega sekarang, Dave." Marisa berkata.


Sekali lagi Dave tertegun. "Lega ?" tanpa sadar ia berucap dalam hati.


"Kirana nangis Daddy, aku yakin !" Kiandra menarik-narik lengan Ayah nya.


"Makanya Kian jangan suka meledek Kak Kirana lagi." Andreas menasehati sambil sedikit membungkukkan badannya yang tinggi agar lebih sejajar pada anak nya.


"Biasanya Kirana ngamuk, nggak nangis." wajah Kiandra merasa bersalah.


Andreas tersenyum geli melihat Kiandra yang biasanya acuh terhadap Kakak nya ternyata diam-diam sangat perhatian.


"Menjadi orang dewasa dengan beban pekerjaan tidak lah mudah, Kian." Andreas mengelus puncak kepala anak lelaki nya. "Dan mungkin Kak Kirana sedang dalam fase itu." mata cokelat terang nya menatap sayang pada Kiandra. "Jadi Kian coba lah sekali-kali memuji atau mengatakn sayang pada Kak Kirana."


Marisa dan Dave memandang mereka dari tempat nya berdiri.


"Dad selalu sayang pada anak-anak nya." Dave berkata.


Marisa menoleh ke arah nya, kemudian mengandeng lengannya. "Dad dan Ibu juga sangat menyayangi mu, Dave." ia tersenyum lalu berjalan beriringan untuk duduk di sofa ruang keluarga tersebut.


"Aku tak menyangka kau akan pulang untuk memenuhi undangan ku Dave." Andreas berkata setelah mereka duduk. Di elus-elus nya rambut Kiandra yang tiduran pada paha nya dengan wajah yang terlihat bersalah, karena mengira Kakak nya menangis karena gurauannya.


Sedangkan Marisa masuk ke dalam untuk membiat kan minuman untuk Dave. Wanita itu memang selalu bersemangat jika menyangkut Dave. Semua akan ia lakukan sendiri. Meskipun dulu Dave pernah berkata kasar pada nya, tapi melihat sikap nya, sepertinya ia sudah melupakannya, bahkan sebelum Dave meminta maaf dari nya.

__ADS_1


Dave tersenyum sesaat. "Aku pulang bukan hanya untuk memenuhi undangan dari mu, Dad." ia berkata.


Di remas nya jari-jari tangannya yang di satukan dengan menumpukan dua siku pada paha nya.


"Mom baru saja mendapat kabar dari Ibu mu, Dave." senyum sumringah Ibu nya menyambut diri nya ketika membuka pintu rumah mereka di Paris. "Kirana akan menikah."


"Dave ?"


Suara Andreas membuyarkan lamunanya.


Dave berdehem beberapa kali dan kembali fokus pada pembicaraan.


"Kakek sudah tua." Dave berkata setelah bisa menguasai diri dengan bersikap tenang seperti biasa. "Kakek meminta ku untuk menggantikan posisi nya." ia berkata.


Raut wajah Andreas langsung cerah. "Selamat untuk mu Dave." ia berkata. "President Utama Sanjaya Company." ia tersenyum bangga.


Dave tertunduk malu. "Nggak Dad, kau tahu aku belum pantas." Dave merendah. "Ilmu ku memang banyak, tapi pengalaman ku minim. Dalam segi skill aku juga biasa-biasa saja.."


"Kau ini anak Rendy." kata Andreas tegas yang membuat Dave menatap ke arah nya. "Rendy itu tanpa belajar juga sudah pintar." Andreas berkata lagi.


Dave tersenyum dan menunduk.


"Otak kalian sudah cerdas dari lahir." Andreas menunjuk-nunjuk kening nya sendiri. "Apa lagi kau dari kecil sudah mendapat didikan keras dari Kakek mu yang kolot itu." Andreas mencelos sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kau pasti bisa lebih dari nya, Dave." lanjut nya mantap.


Dave tersenyum samar.


Marisa meletakkan cangkir porselen putih yang masih mengepul kan asap itu ke atas meja di depan Dave duduk.


"Minumlah selagi hangat." ia berucap.


"Terimakasih." Dave menunduk sesaat. Di ambil nya cangkir teh tersebut dan di sesap nya perlahan.


Andreas dan Marisa yang kini telah duduk bersebelahan di depan Dave menatap nya penuh takjub.


"Benar-benar seperti Rendy." Marisa berbisik.


"Ganteng Dave." bisik Andreas tidak terima dan di balas sodokan siku oleh istri nya.


Andreas mengaduh, dan membuat Kiandra yang tertidur di pangkuannya mengeliat sebentar kemudian kembali tidur.


"Mungkin...aku akan datang bersama Angela." Ucap Dave sambil meletakkan cangkir yang telah setengah ia minum pada tempat nya kembali.


"Dengan senang hati kami akan menyambut nya." Marisa berkata antusias.


"Di Ulang tahun Perusahaan besok aku juga akan mengumumkan pernikahan Kirana dan Jonathan." Andreas berkata.

__ADS_1


Dave langsung menelan ludah, tapi ia tetap bisa bersikap tenang walaupun jari-jari nya yang saling tertaut langsung mengepal.


"Kau sudah tahu kan kalau Kirana akan menikah ?" Marisa bertanya.


"Ya, Bu. Aku sudah tahu." jawab Dave sambil tersenyum tipis.


"Ah !" tiba-tiba Andreas menepuk kedua tangan nya, membuat Marisa dan Dave melihat ke arah nya. "Kalian menikah berdua saja." ia mengusulkan dengan wajah girang, membuat kerutan di bawah matanya terlihat makin jelas karena senyum lebar nya.


"Apa ?" Marisa tak mengerti.


"Dave dan Kirana." Andreas menoleh ke arah Istri nya.


Marisa tetap tak mengerti.


"Dave, kapan kau menikah dengan Tunangan mu itu ?" Tanya Andreas pada Dave yang menatap ny tak paham.


"Belum ada pembicaraan lagi, tapi...seharus nya setelah aku menyelesaikan S2 ku dan Angela menyelesaikan sekolah ballet nya." Dave menjawab.


"Kenapa selama itu ?" kening Andreas berkerut.


"Hei, apa yang kau rencanakan ?" Marisa menarik lengan Suami nya. Ia takut Suami nya akan melakukan hal yang aneh-aneh.


"Kenapa curiga begitu ?" ucap Andreas kesal. Tapi fokus ny kembali pada Dave yang duduk di depannya. "Menikah saja tahun ini." ia berkata.


Dave masih diam menatap nya.


"Kau dengan Tunangan mu dan Kirana dengan Jonathan." Andreas berkata penuh semangat. "Kalian menikah lah bersama."


Mata Dave langsung membulat.


Bahkan saat ia melihat antusiasnya Marisa itu pada ide brilian Suami nya dengan memeluk dan mencium pipi nya sampai Kiandra terbangun dan merajuk karena tidur nya terganggu, Dave tetap tak bergeming.


Sudah bertahun-tahun ia mencoba melupakan, bukannya mereda tapi gemuruh dalam hati nya kian terasa hebat.


Dave tertunduk sambil memegangi dada nya.


...----------------...


Maaf baru bisa Up sekarang. 🙏


Bukannya saya tidak rajin atau malas, tapi keadaan saya berbeda dengan dulu. Saat ini saya semakin sibuk dengan RL dan sangat sedikit waktu saya untuk menulis 1500 kata dalam 1 bab sedang ide tidak selalu ada. 🙏


Terimakasih kepada semua yang masih mau membaca karya saya yang masih jauh dari kata bagus ini 🙏🥺


Sebagai Author saya pasti akan menuntaskan kewajiban saya dengan menamatkan cerita ini.

__ADS_1


🙏🥰


-🍀-


__ADS_2