
Aksi pelemparan telur oleh Penggemar Jonathan itu ternyata hanya awal. Di susul selanjutnya oleh surat kaleng dan paket berisi bangkai binatang yang untungnya semua telah di periksa terlebih dahulu sebelum sampai di tangan Kirana.
Mungkin itu lah yang membuatnya beruntung. Ia terlahir di Keluarga Martadinata yang tembok nya mampu melindunginya dari para fans fanatik Jonathan yang ikut sakit hati karena ulahnya.
Jonathan sendiri sejak menerima kabar pemutusan sepihak rencana pernikahannya memilih pulang ke Jepang tanpa bertemu dengan Kirana lagi.
Mereka hanya sekali bertemu, saat Kirana ingin melakukan konferesi pers soal pembatalan pernikahan mereka.
"Maaf, kan aku Jon. Tapi.." Kalimat Kirana terputus karena Jonathan yang langsung meninggalkan ruangan.
Hubungan kedua keluarga pun menjadi tak enak. Nenek Jonathan marah besar, dan menyalahkan Ayahnya karena di anggap tak tegas dan plin-plan sampai membuat malu Keluarga besar Aoki.
Mendengar makian wanita yang telah sepuh itu, Ayahnya hanya diam dan itu membuat Kirana makin bersalah.
"Daddy.." Kirana mengapit lengan Ayahnya."Maaf kan aku.." matanya bekaca-kaca.
"Tidak apa-apa." Andreas mengelus-elus puncak kepala putrinya. "Kau tahu resiko nya, tapi tetap dengan keputusanmu. Itu artinya, kau benar-benar tak menginginkan pernikahan ini, walau sesempurna apa pun Jon." Andreas tersenyum.
Air mata Kirana menetes. "Terimakasih Daddy." di peluknya Andreas. Ia bersyukur Ayahnya mau mengerti dirinya.
"Untuk sementara, jangan keluar rumah dulu sampai suasana mereda." Andreas kembali berkata.
Kirana mengangguk.
Sementara itu di rumah Keluarga Sanjaya. Dave tengah makan malam bersama Kakek dan Neneknya.
"Tumben sekali Cucu kita memasak untuk kita." Erika menyendokkan makanan ke mulutnya.
Dave hanya tersenyum simpul dan melanjutkan makan malamnya.
"Biasanya jika kau memasakan sesuatu untuk kami, artinya kau ingin sesuatu, Dave." Hertoni yang duduk di ujung meja berkata.
Dave tersenyum ke arah Kakeknya. Tapi tak berkata apa pun.
"Benar kau ingin sesuatu, Dave ?" Erika bertanya.
__ADS_1
Dave menghentikan makannya. Hatinya kalut melihat pemberitaan dan kabar dari Kirana yang terus di bully lewar media online dan mendapat kiriman paket menjijikan. Bahkan terakhir Dave mendengar jika ada yang mengirimkan boneka pocong yang di lumuri darah ayam.
Kening Dave berkerut. Harusnya dia juga ikut menanggung, tapi..
"Dave ?"
Suara Neneknya mengangetkannya. Sedikit tergagap ia mengangkat wajah dan memandang ke arah Neneknya.
"Kau melamun ?" tanya Erika.
"Ah, e, enggak, Nek." Dave menjawab gugup.
"Apa pekerjaan di kantor sulit ?" giliran Hertoni yang bertanya.
"Enggak, Kakek." Dave menoleh ke arah Kakeknya. Di pandanginya sosok yang dulu terlihat gagah dan kini semakin keriput dan tua meski rambutnya telah di cat hitam. "Apa bisa aku mengecewakan mereka lagi ?" Dave bertanya dalam hati.
Dave bimbang. Di satu sisi, ia ingin ikut bertanggung jawab dan melindungi Kirana. Tapi di sisi lain, keluarga dan nama baik Ibu nya menjadi taruhan.
Selesai makan ia pamit ke kamar. Dave duduk di beranda kamarnya yang menghadap langit malam. Udara dingin berhembus, untuk kesekian kali ia mengisap rokoknya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi berlapis bantal tipis.
Satu batang, dua batang, Dave merokok tiada henti. Ia sendiri sampai lupa sudah berapa batang yang ia sesap. Hanya asbak di atas meja yang tadinya kosong kini penuh dengan puntung yang menjadi jawabnya.
Matanya menatap langit malam. Tapi pikirannya melayang membayangkan wajah Kirana yang selalu memerah tiap kali melihatnya. Gugup jika tengah berbicara dengannya. Dan mata cokelat terangnya..
Dave memejamkan mata. Berharap dengan begitu wajah Kirana dapat tersingkir dari benaknya. Tapi dengan ia memejamkan mata, bayang wajahnya malah makin jelas terlihat.
Getar ponsel yang ia letakkan bersebelahan dengan asbak berbunyi. Dave segera mematikan rokok yang masih separuh dan mengambil ponselnya.
"Halo Mom." ia.tersenyum sambil bangkit dari duduknya dan berdiri bersandar pada balkon.
Sesaat ia mendengar Ibunya bercerita dari dalam ponsel. Raut wajahnya yang semula senang karena mendapat telpon dari Ibunya, kini berubah muram.
"Iya, Kirana membatalka pernikahannya." Dave berucap pelan.
Ia mendengarkan lagi Ibu nya berkata. Sambil mendengar, Dave menengadah memandangi bulan berbentuk sabit di atas langit sana.
__ADS_1
"Nggak, Mom." Dave berkata. "Berita yang di muat semua berlebihan. Kita tahu Kirana nggak seperti itu."
Wajah Dave semakin resah. Ia memejamkan mata sesaat sambil mendengarkan suara Ibu nya di telpon.
"Mom." Dave berkata pelan.
Ia terdiam sebentar. Beberapa kali Ibunya bertanya, namun ia masih diam. Sampai akhirnya ia menghela nafas panjang dan kembali duduk ke tempatnya semula.
"Bagaimana dengan kesehatanmu, Mom ?" tanyanya. Ia mendengarkan sesaat. "Syukurlah.." seulas senyum tipis tersungging di wajah Dave yang biasa dingin tak berekspresi.
Dave kembali menimbang tentang apa yang akan di katakan. "Mom, apa bisa Mom tinggal bersama Kakek dan Nenek ?" tanyanya.
"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu, Dave ?" suara Eva terdengar dari ponsel.
Dave menunduk sambil mengigit bibir bawahnya sebentar. "Kakek dan Nenek sudah tua, di rumah besar ini hanya ada Pelayan." Dave terdiam untuk menghela nafas. "Maksudku..kalian bisa saling menjaga. Aku juga nggak akan begitu khawatir jika Mom bersama Kakek dan Nenek." sorot mata Dave berubah sedih.
"Mom memang ada rencana untuk kembali ke Jakarta. Tapi..apa maksud mu dengan saling menjaga ?" suara Ibunya di ponsel terdengar cemas. "Apa Kakekmu menempatkanmu ke daerah terpencil ?" tanyanya.
Dave terkekeh. "Nggak, Mom." ucapnya. "Aku hanya ingin Mom berdamai dengan masa lalu. Termasuk mengunjungi makam Papa bersama-sama." pandangan Dave kembali mengawang. "Kita belum pernah kan pergi berdua ke makamnya ?"
Ibunya terdengar terkejut. "Besok Mom akan berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pertama. " dia berucap. "Setelah sampai, Mom akan mengajakmu mengunjungi makamnya."
"Terimakasih, Mom." Dave tersenyum, namun matanya berair.
......***......
Kirana menjerit histeris saat membuka ruang kerja yang telah satu minggu ia tinggalkan. Beberapa karyawan berdatangan untuk melihat ada apa, termasuk Shopie.
Kirana masih berdiri gemetaran meskipun tububnya telah di tahan Shopie agar tetap kuat berdiri. Matanya membulat menyiratkan kengerian saat melihat bangkai kucing dengan leher tersayat dan masih mengucurkan darah tergeletak di atas meja kerjanya yang menghadap pintu secara langsung.
Padahal ia hanya bermaksud mengambil dokumen yang tertinggal dan bertemu Shopie sekedar untuk berbagi cerita dan melepas kangen. Tapi pemandangan yang di lihat membuat ia bergidik.
"Kirana, bukankah itu kucing jalanan yang sering kau beri makan ?" Shopie berkata.
Seketika perut Kirana terasa di aduk. Dia langsung lari ke belakang dan muntah.
__ADS_1