
"Dave, sebenarnya ada apa...??" tanya Angela saat mereka sudah berada di dalam mobil dan Dave telah menyalakan mesin mobil Lamborghini nya yang kali ini dari seri Avetandor LP 750-4 Superveloce Roadster warna marrone apus.
Di usia semuda itu Dave memang sudah menyukai barang-barang mewah. Dalam 1 kali ia keluar rumah, bisa di pastikan apa yang menempel di tubuhnya dari mulai baju dan aksesoris seperti jam tangan dan dompet itu adalah dari brand- brand ternama dunia dan jika di jumlah kan dari apa yang ia pakai dari ujung rambut sampai kaki, bisa bernilai milyaran.
Itu belum termasuk koleksi mobil Lamborghini nya yang berjumlah lebih dari 7 buah dari berbagai seri.
Dengan prestasi nya yang sangat membuat bangga Kakeknya di kalangan Pebisnis, tak jarang Hertoni sendiri yang membelikan Cucu Kesayangannya tersebut mobil mewah keluaran Eropa tersebut. Karena ia tahu, Dave sangat menyukai desain sporty dan elegance dari Mobil buatan Ferruccio Lamborghini yang pertama kali keluar pada tahun 1960 tersebut.
"Dave...?" kembali Angela berkata karena Dave hanya terdiam menunduk memandangi stir mobil nya yang pada bagian tengah nya terdapat lambang banteng dengan latar hitam dan list warna gold.
"...Aku tidak apa-apa." Akhirnya Dave menjawab dan menoleh ke arah Tunangan cantik nya.
"Syukurlah..." ia tersenyum, menambah kecantikan wajah nya yang di poles make up tipis demgan rambut panjangnya yang di gerai indah dan di jepit rambut dengan hiasan pita kecil di ujungnya.
Dave mulai menjalankan mobil nya keluar dari area parkir. Pikirannya melayang mengingat perkataan Lelaki setengah baya dengan perut buncit nya tadi.
"...Hanya saja karena mungkin memang Anda tidak tinggal bersama..."
Dave mengkerutkan kening, tanpa sadar ia juga mencegkeram kuat-kuat stir mobilnya. Dave memang sangat sensitiv jika di singgung tentang Ayahnya. Dan seperti Rektor Kampusnya tadi bilang, dia memang tidak pernah tinggal bersama Ayahnya itu.
"Dave, kau bisa cerita apa pun pada ku..." Suara lembut Angela membuyarkan lamunanya. Sesaat Dave terkejut, sebelum ia kembali bisa berkonsentrasi pada stir mobil nya dan tersenyum sesaat ke arah Angela.
"Aku hanya agak kesal dengan wanita yang menabrak kita tadi." ucap Dave bohong. Walaupun sebenarnya ia juga kesal pada kejadian tabrak menabrak nya tadi, tapi kini ia lebih memikirkan tentang perkataan Rektor berperut bunci tersebut.
Mata Angela langsung membulat, "Maksudmu Kirana...??" Angela berkata.
"Yaah...entahlah siapa namanya aku tidak ingat." Sekali lagi Dave berbohong, padahal ia ingat dengan sangat jelas nama itu.
"Kirana kan tidak sengaja." Bibir Angela yang di poles lipstik warna coral mengerucut. "Padahal aku ingin berteman dengannya, tapi kau malah berkata kasar padanya." Angela mengerutu.
"Untuk apa kau berteman dengan orang seperti itu..??" Dave bertanya tanpa menoleh ke arah Angela yang duduk di sampingnya dan tetap fokus menyetir dengan melihat depan.
__ADS_1
"Kirana itu baik, lucu dan meskipun penampilannya seperti laki-laki, tapi bukankah dia tetap terlihat cantik...??" Angela tersenyum lebar membayangkan sosok Kirana.
TIIIIIIIINNNN...!!!
Suara klakson di belakang mobil yang di kendarai Dave membahana mengagetkan siapa pun yang berada di sekitar situ.
Tak lain karena Dave menghentikan laju mobil nya secara tiba-tiba, membuat pengendara mobil di belakangnya kaget dan hampir menabrak body belakang Lamborghini milik Dave.
Cepat-cepat Dave menjalankan mobil nya kembali, sesaat wajah datarnya terlihat panik. Namun kini ia sudah bisa menguasai diri nya kembali dan mobil mulai berjalan normal.
"Aku kaget sekali tadi..." Raut wajah Angela terlihat ketakutan, ia memegangi dadanya yang berdetak kencang seakan jantungnya mau melompat keluar dengan nafas tersengal seperti habis berlari puluhan kilometer.
"Maaf kan aku." Sesaat Dave melihat ke arahnya, kemudian kembali melihat depan. "Kau tidak apa-apa..??" tanya nya. Kembali ia menoleh melihat keadaan Tunangannya yang sepertinya masih terkejut ketika tadi ia mengerem mendadak dan hampir saja menyebabkan kecelakaan.
"Tidak apa-apa, aku cuma kaget tadi." Jawab Angela sambil memandangi Dave dan menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinga.
"Maaf, lain kali aku akan hati-hati." Dave tampak menyesal. Lelaki berusia 19 tahun itu mengumpat berkali-kali dalam hati soal kecerobohannya tadi. "Apa yang kau pikirkan dasar ***** !" ucapnya dalam hati. " Angela bilang wanita sial itu cantik dan kau tanpa sadar menginjak rem mobil mu...??" Dave mengerang tak percaya.
"...Dave kalau kau capek kita bisa langsung pulang saja..." Angela berkata setelah terdiam dan hanya menatap wajah datar Tunangannya yang sedang menyetir.
"Tidak, aku sudah janji akan tetap menamanimu ke salon." Dave menoleh ke arahnya dan tersenyum menenagkan.
"Tapi kau terlihat capek..." Angela melihatnya khawatir.
"Aku tidak apa-apa, percayalah..." Dave kembali tersenyum "Tadi murni karena aku tidak konsentrasi, jadi salah injak rem." ia menerangkan.
Angela tersenyum sumringah, menambah cantik paras wajahnya yang terlihat lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku beruntung Dave, Papa menjodohkanku denganmu..." Angela berkata dengan suaranya yang merdu, membuat Dave tersenyum tanpa melihatnya dan tetap berkonsentrasi pada stir mobil nya.
Di tatapnya dalam-dalam Tunanganya yang berwajah tampan tersebut. "Awalnya aku takut padamu, kau dingin." Angela pura-pura marah.
__ADS_1
"Oh yaa..?" Dave pura-pura terkejut. Namun ia tetap tak menoleh pada Angela yang duduk di sebelahnya.
"Iya, kau dingin !" Wajah cantiknya di buat cemberut.
Dave tertawa tanpa melihat ke arahnya.
"Tapi...ternyata kau baaaiiikk sekali..." Wanita berambut panjang itu sampai memejamkan kedua matanya saat mengatakan Dave baik.
Dave hanya tersenyum simpul.
"Dengan orang lain kau tidak peduli, tapi dengan ku, kau sangat perhatian." kembali Angela berkata. "Itu menjadikan aku seperti wanita paling istimewa di dunia." Angela tersenyum menatapnya dengan mata berbinar-binar dan rona merah di pipi. "Aku berharap, kau akan tetap seperti ini sampai kita menikah dan punya anak." Angela terkekeh, kemudian menutupi wajahnya yang memerah karena malu sendiri dengan ucapannya.
"Iya." Dave menjawab singkat dan tersenyum, seperti biasa...
Malam telah turun. Dari siang yang tadi begitu panas, di gantikan udara malam yang sejuk dengan banyaknya bintang-bintang di langit atas sana.
Di rumah Keluarga Martadinata yang luas dengan danau buatan dan kebun mawar putih nya yang besar. Rumah mewah berlantai 3 itu berdiri kokoh di tengah-tengahnya dengan halaman nya yang indah di hiasai lampu-lampu taman berwana kuning dan putih. Beberapa bodyguard tampak bebjaga di beberapa titik, sedangkan Satpam Rumah yang berjumlah 10 orang tampak berkeliling mengawasi sekitar.
Jam menunjukkan pukul 7 malam ketika Kirana keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar nya yang bercat putih dengan ornamen warna pink. Ia keluar dengan handuk putih yang melilit menutupi bagian dada sampai atas pahanya, dengan rambut panjangnya yang masih basah meskipun tadi ia sudah mengusap nya berkali-kali dengan handuk.
Ia duduk di meja rias nya yang terbuat dari kayu jati yang di ukir pada pinggir-pinggirn kaca nya yang berbentuk oval dan di cat warna putih untuk finishing nya.
"Kumal !"
Kata -kata Dave terngiang kembali di pikirannya saat ia menatap dirinya sediri di kaca.
Di raba nya wajah putih mulusnya yang masih lembab dan terdapat beberapa tetes air yang mengalir dari rambutnya yang basah.
Di perhatikannya alis hitam nya yang seperti di sulam oleh Profesional, bibir nya yang berwarna merah padahal tidak memakai apa pun, hidung mancung sempurna nya dan kedua mata milik Ayahnya yang berwarna cokelat terang seperti memakai soflens.
"Kirana, kau cantik..."
__ADS_1
Wajah Jonathan memenuhi pikirannya, membuat Kirana menunduk dan berusaha melupakan ciuman pertamanya juga pernyataan cinta Jonathan untuk nya.