SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
HATI


__ADS_3

Mungkin karena Dave yang mampu bersikap dewasa dan menekan segala perasaanya sehingga keadaan berangsur-angsur menjadi tenang tanpa ada perdebatan apa pun lagi. Dia menerima dan bahkan di hari berikutnya ia telah membantu menyisir rambut panjang Ibu nya yang kini telah hitam karena di cat.


"Mom terlihat cantik." Dave tersenyum memandang bayangan wajah Ibu nya di cermin dalam posisi ia yang berdiri di belakang sambil menyisir dan Ibu nya yang duduk di kursi rias dengan cermin besar yang pinggirnya di ukir berbentuk bunga mawar.


"Cantik dari mana Dave ?" Eva terkekeh melihat pantulan diri nya dan putranya di kaca. "Kau tidak lihat kerutan di wajah Mom semakin banyak ?" lanjutnya.


Dave meletakkan sisir ke atas meja rias setelah selesai, lalu bersimpuh di samping Ibu nya yang duduk di kursi. Di pegangi nya kedua tangan Ibu nya yang jari-jari nya kurus bak ranting pohon kecil dengan ujung nya yang di cat warna burgundi.


"Mom selalu yang tercantik sampai kapan pun." ia mendongkak kan wajah memandang wajah Ibu nya yang kini jauh lebih cerah dengan rambut panjangnya yang di cat hitam dan senyum merekah di bibir nya yang di poles lipstik nude.


Mata Eva berkaca-kaca, di elusnya pipi Dave dengan tangan satu nya yang masih berada di genggaman tangan putra nya. Di sibak rambut nya yang menutupi kening, memperlihatkan dahi lebar Dave dan kedua alis nya yang hitam melengkung.


Mungkin takdir cinta nya buruk, tapi bukan kah tidak ada yang lebih membahagiakan dari mempunyai anak yang begitu berbakti, begitu sayang dan lebih tulus mencintai nya dari siap pun.


"Aku senang Mom mau kembali minum obat." Dave tersenyum dengan tetap membiarkan Ibu nya tersebut mengelus rambut dan pipi nya.


Tidak sia-sia ia menyerahkan sketsa yang di gambar Ayah kandung nya, karena setelah peristiwa itu, Ibu nya tersebut secara tiba-tiba berkata ingin ke Salon mengecat rambut. Padahal selama bertahun-tahun, Ibu nya membiarkan saja rambut putih nya tersebut dan hanya menutupi nya dengan kerudung hitam.


Yang lebih membuat Dave bahagia, Ibu nya kini mau memakai baju warna lain selain hitam. Entah sudah berapa tahun Dave hany melihat Ibu nya itu berbaju hitam seperti orang yang ingin menghadiri pemakaman. Tapi kali ini, Ibu nya terlihat begitu cantik dengan rambut lurus hitam panjang nya dan baju terusan warna putih yang di padu cardigan rajut warna peach.


"Tidurlah Mom." Ucap Dave sambil berdiri. "Mom pasti mengantuk setelah minum obat." ia membantu Ibu nya berdiri lalu mengapit tangannya dan berjalan ke arah ranjang sederhana namun nyaman yang berada di kamar dengan cat tembok putih dengan hanya ada meja kerja, ranjang dan meja rias milik Ibu nya yang di bawa nya dari Rumah Keluarga Sanjaya ke kamar ini.

__ADS_1


Kini mereka memang tidak tinggal lagi di Rumah Keluarga Sanjaya yang besar dan mewah. Setelah peristiwa itu dan sampai kini Kakek nya belum juga mau berbicara. Membuat Ibu dan Anak itu memutuskan untuk menempati kamar Apartemen milik Rendy, Ayah kandung Dave yang tentu saja lebih sederhana di bahkan di banding kamar tidur yang selama ini Dave tempati.


"Apa pun yang membuat mu bahagia, Mom. Maka aku juga bahagia..." Dave berucap dalam hati sambil mengenggam lembut jemari tangan Ibu nya.


Ia tersenyum samar memandang Ibu nya yang telah berbaring dan memejamkan mata dengan bibir menyungging senyum. Di selimuti Ibu nya dengan hati-hati, sebelum ia bangkit dan keluar menutup pintu dengan sangat pelan meninggal kan kamar tidur tersebut.


Dave menghela nafas panjang sambil menyandarkan dirinya ke pintu yang baru saja ia tutup. Pandangannya mengawang menatap sekitar kamar yang baru saja ia tempati kemarin.


Ia menunduk, hidupnya bak roller coaster dan ia harus menerima itu semua demi Ibu yang di sayangi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, di rogoh saku celana nya dan di ambil nya dompet milik nya yang terbuat dari bahan kulit.


Di buka dan di ambil nya kalung putih dengan hiasan cincin bermata berlian utuh besar nya yang tampak berkilau di tangannya.


Dave berjalan memutar dan duduk di sofa ruang tamu dengan ia yang masih mengamati kalung milik gadis bermata sipit yang selalu memandang ny dengan kedua alisnyan yang saling tertaut atau sambil mengigit bibir bawah nya dengan kedua pipi memerah nya.


Ucapan pedas nya mengema dalam ingatan. Membuat pandangannya kian mengawang teringat wajah terkejut gadis itu saat menatap nya.


"Aku mencintai mu Dave..."


Dave mengeleng sesaat dengan mata terpejam dan bibir yang ia gigit. Kening nya berkerut dalam saat lagi-lagi ia memgingat wajah Kirana yang memerah dengan rambut panjang nya yang kusut berantakan dan berbaring pasrah di bawah nya.


"Tidak akan ada yang berubah Dave, aku menyayangi mu. Kau tetap anak ku, saudara Kirana dan Kiandra."

__ADS_1


Perkataan Ayah nya dulu membuat Dave merebahkan punggung dan kepalanya ke sofa sambil menghela nafas. Hati nya gamang.


Di lihatnya lagi kalung berbandul cincin yang bergerak kanan dan kiri di hadapanya. Seperti gerakan berulang yang menghipnotis, membuat tubuh Dave yang sebenarnya sudah lelah perlahan memejamkan mata bersamaan dengan tangannya yang mengenggam kalung putih itu jatuh terkulai di samping nya.


Hari sudah malam ketika Kirana mengantar Jonathan ke bandara dan mereka tengah mengobrol sambil berdiri di depan terminal keberangkatan.


"Aku senang kau setuju dengan kita yang nggak perlu bertunangan dan langsung menikah setelah kau lulus." Jonathan yang memakai celana jeans dan kaos lengan panjang yang masih di rangkap jaket jeans dengan tas ransel hitam di punggung itu terkekeh. Ia sengaja membuka sedikit masker nya karena ingin berbicara serius dengan Kirana yang malam ini terlihat cantik dengan rambut panjang nya yang di biarkan tergerai.


"Aku hanya menuruti wasiat Opa." Kirana berkata perlahan tanpa memandang lawan bicara yang ada di hadapannya.


Kirana tak ada pilihan lain, ia tidak benci Jonathan. Jonathan teman baik nya, lelaki itu tahu semua hal tentagnya. Selalu membuatnya tertawa di saat hati nya merana karena ucapan berbisa Dave yang membuatnya sakit hati.


Dan kemarin setelah mereka berbicara di beranda belakang rumah, Kirana yakin jika memang Jonathan lah yang terbaik untuk nya.


"Kirana.." panggil Jonathan saat melihat gadis di depannya itu hanya melamun.


Kirana mengerjap kan matanya lalu mendongkak melihat ke arah Jonathan yang bertinggi 187 cm.


"Aku tahu kau masih ragu." jonathan berucap. Di taruhnya kedua tangannya pada kedua pundak Kirana.


Gadis itu hanya diam memandang.

__ADS_1


"Coba pikirkan jika seandainya kepergianku ini adalah yang terakhir." ia berucap, membuat kening Kirana sedikit berkerut tak mengerti.


Jonathan tersenyum lembut menatap gadis yang sejak dulu telah menawan hati nya tersebut. "Pikirkan saat kau mengantarku ini adalah yang terakhir. Bandingkan saat sama-sama kau harus melepas seseorang yang dekat dengan mu." Jonathan berhenti sejenak, mengamati reaksi dari gadis bermata cokelat terang tersebut. "Saat itu, kau akan tahu seberapa besar perasaan mu untukmu." ia tersenyum.


__ADS_2