
Di belakangnya Zain tersenyum takjub. Ia selalu menyukai cara Dave melemahkan lawannya. Tampak Nelson meremas dokumen dan foto di tangannya.
“Bersaing dalam dunia bisnis itu sudah terbiasa. Tapi, untuk memperjual belikan seorang wanita, itu bukan saya. Jadi, saya hanya minta jangan ganggu urusan pribadi saya. Biarkan kami pulang, atau apa yang baru saya sampaikan akan menjadi kenyataannya. Coba anda bayangkan, bagaimana reaksi keluarga anda. Jika mengetahui foto-foto panas itu? Dan juga mengenai beberapa bisnis ilegal anda, salah satunya sebuah cafe yang anda dirikan di daerah Utara. Sebuah cafe mewah, jika orang biasa melihat tentu mereka akan menganggap cafe itu tampak biasa. Namun, seseorang yang jeli akan tampak pemandangan di dalamnya, tampak para perempuan yang biasa menjajakan tubuhnya berada di sana. Maaf, lebih tepatnya itu mungkin bukan cafe, mungkin sebuah tempat pelacur. Bayangkan jika masalah ini sampai ke tangan publik? Apa yang akan terjadi dengan kehidupan anda selanjutnya?” lanjut Dave mengurai tangan Alana yang masih melingkar di perutnya. Ia menggenggam tangan istrinya, mengusap wajah pucatnya, kemudian merengkuh pundaknya. “Kita pulang, sayang.” Dave menggiring Alana. Tampak anak buah Nelson menghalanginya.
“Biarkan kami keluar. Kalau kalian ingin adu otot, saya sudah persiapkan lawannya,” ujar Dave.
“Tuan.” Salah satu anak buah Nelson bertanya.
Nelson mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, sebelum kemudian ke berkata. “Biarkan mereka pergi!”
Dave menggiring Alana keluar, begitupun dengan beberapa pengawal yang ia bawa tadi. Sampai di dalam mobil tubuh Alana masih gemetar, ia masih tidak menyangka jika Nelson ternyata laki-laki yang begitu licik. Pikirannya kacau, bagaimana jika tadi Dave menyetujuinya? Akan seperti apa nasibnya.
__ADS_1
“Zain, ambilkan air mineral.” Dave mengulurkan tangannya meminta air mineral pada Zain.
“Minumlah Alana,” ucapnya mengulurkan botol air mineral yang sudah ia buka. Alana meminumnya secara pelan, terlihat tangannya masih gemetar. Setelahnya, berkali-kali ia akan menarik nafasnya.
“Gimana sudah tenang?” tanya Dave lembut.
“Lebih baik.”
“Dave... Tadi itu...”
“Hemm... Seperti yang kamu dengar Alana. Lelaki itu menginginkanmu. Tapi, dia sangat pintar, mencoba bermain cantik denganku. Mungkin dia berpikir jika aku itu bodoh, hanya karena diimingi-imingi proyek besar, akan secepat itu aku luluh. Tidak ia sangka aku akan mencari jati diri dia lebih dulu. Maaf ya Alana, lagi-lagi aku melibatkanmu.”
__ADS_1
Alana mengangguk lemah, memilih bersandar di kursi. Masih terbayang tatapan Nelson padanya tadi, seketika tubuhnya jadi merinding. “Dave, bagaimana kalau dia masih–”
“Aku akan melindungimu, Alana. Semoga saja dia berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang lebih jahat dan licik,” ucap Dave.
Alana menarik nafas dan membuangnya secara berkali-kali. Kemudian tanpa di sangka ia meletakkan kepalanya di bahu kekar Dave. Pelan, ia mencoba memejamkan kedua matanya. Meredakan segala rasa takutnya. Ia berpikir bagaimana jika Dave menyanggupinya. Hingga mobil tiba di kediamannya, lamunan Alana buyar ketika Dave mengajaknya masuk.
Sementara itu di kediaman Nelson. Sepeninggal Dave dan Alana, ia menghajar beberapa anak buahnya, demi menyalurkan rasa kesal dan marahnya. Ia tak menduga jika Dave ternyata lebih jeli dari memilih rekan bisnis. Semua rencana yang sudah ia susun rapi secara cantik pun kandas.
Jika sudah begini, ia menyesal mengapa ia harus bermain cantik. Berpura-pura menjadi orang baik, hanya karena ingin membuat Alana terkesan, lalu menjatuhkan image Dave di depan perempuan itu. Jika tahu pada akhirnya seperti ini, akan lebih baik ia culik saja Alana saat itu.
Melihat beberapa anak buahnya jatuh tersungkur karena ulahnya, Nelson tertawa. Sungguh baru kali ini ia merasa jatuh hati pada seorang perempuan. Bahkan dengan istrinya saja dia enggan, pernikahannya yang terjadi hanya untuk mengikat bisnis. Dan Alana adalah tambatan hati pertama, perempuan yang berhasil membuat jantungnya berdetak. Ya, dia justru semakin terobsesi untuk mendapatkan perempuan itu.
__ADS_1
“Aku pikir lebih baik gunakan cara yang lebih ekstrim. Seperti... Menyingkirkan Dave lebih dulu.”