
“Emm... Ma–maaf Dave.” Alana buru-buru melepaskan diri dari tangan Dave.
“Tidak masalah. Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat?” tanya Dave cemas. Bahkan lelaki itu sampai menempelkan telapak tangannya, di kening Alana. Hal itu semakin menjadi Alana merasa tak karuan.
“Aku baik-baik saja. Hanya terkejut karena hampir terjatuh.”
“Kalau begitu kenapa tadi tidak gunakan lift saja.” Dave menunjuk kotak lift dalam rumahnya. Alana hanya tersenyum simpul karena tadi sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Aksi keduanya tak lepas dari tatapan Zain dan Salma. Keduanya pun ikut tersenyum menyaksikan pemandangan keduanya. “Tuan Dave dan Nona Alana serasi sekali ya. Jadi, pengen punya suami,” gumam Salma menatap kagum sang majikan.
Zain hanya melirik, tanpa berniat untuk menyahut. Hingga Salma melirik ke arahnya. “Tuan Zain tidak mau gitu melamar saya,” sambungnya.
“Tunggu tidak ada lagi perempuan lain di dunia ini, baru saya akan melamarmu,” sahut Zain membuat Salma melengos kesal. Zain menahan diri untuk tak tertawa.
“Ehem!” Zain sengaja berdehem untuk membuat kedua majikannya itu tersadar dari acara pandang-pandangan.
“Tuan, apa sudah waktunya kita berangkat?” tanya Zain kemudian.
Dave menoleh ke arah Zain, dan mengangguk. Lalu, ia mengulurkan tangannya di hadapan istrinya, meminta perempuan itu untuk menyambut tangannya.
Alana tersenyum canggung, seraya membalas uluran tangan Dave. Kini ketiganya berjalan keluar, dengan posisi Zain yang berada di depannya, dengan membawa beberapa dokumen. Sementara, Dave hanya fokus menggandeng tangan Alana.
“Boleh ku katakan sesuatu?” ujar Dave setelah melewati pintu utama, dan keduanya baru akan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Apa Dave?” sahut Alana. Ia berpikir apakah ada yang dari dirinya.
“Kau sangat cantik malam ini, Alana.”
Pujian Dave membuat wajah Alana merona malu, hingga perempuan itu lebih memilih memalingkan mukanya. Bahkan ia tak sadar mana kala, keduanya kini sudah berada di belakang kursi kemudi. “Kau terlalu berlebihan, Dave!” sangkal Alana.
“Aku serius? Gaun itu sangat cocok untukmu.”
“Iya, ini semua karena gaunnya yang cantik, dan perhiasannya yang cantik,” balas Alana.
Dave tertawa kecil. “Kalau orang cantik memakai apapun pasti tetap cantik.”
“Dave, kau memujiku terlalu berlebihan. Aku jadi malu,” pungkas Alana.
Alana melirik ke arah Dave, terlihat lelaki itu begitu fokus pada benda berbentuk persegi di depannya. Tak sadar perempuan itu tersenyum tipis, terpesona mana kala menyadari penampilan Dave yang jauh lebih memukau. Jas putih tulang yang membalut tubuhnya yang terlihat kokoh, dari luar Alana dapat menebak, jika di balik pakaian yang membalut tubuhnya, pasti ada otot-otot yang kokoh menggairahkan.
Alana berdecak, hingga mengetuk-etuk kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran liarnya. Bisa-bisanya dia kepikiran sampai hal seperti itu, semua ini pasti karena kebanyakan halu akibat kebanyakan nonton drama.
“Kau kenapa? Kepalanya sakit?” tanya Dave heran.
Alana menghentikan gerakan tangannya, menoleh ke arah Dave yang kini menatapnya dengan bingung. “Tidak apa-apa, Dave.”
“Kau pasti bosan, baiklah akan aku sudahi kerjaku.” Dave mematikan iPadnya, lalu menyimpannya kembali.
__ADS_1
Alana melongo melihatnya.
“Kau ingin bercerita sesuatu, Alana?” tanya Dave kemudian.
“Em... A–aku...”
Grek!
Mobil tiba-tiba berhenti secara mendadak, membuat tubuh Alana terhuyung ke samping mengenai tubuh Dave.
“Maaf Dave,” cicitnya tak enak. Merutuki diri, entah sudah berapa kali hari ini ia minta maaf pada lelaki itu.
“Zain, kenapa berhenti secara mendadak. Apa kau mengantuk? Jika iya katakan saja, biar aku yang mengambil alih.”
“Maaf Tuan, tadi saya–”
“Sudahlah lupakan!” Dave mengibaskan tangannya tak ingin memperpanjang perdebatan itu.
Mobil berhenti tepat di lampu merah, di sebelah lampu lalu lintas itu terpampang sebuah televisi raksasa, di mana di sana terlihat sebuah video seorang artis yang tengah mempromosikan sebuah produk kecantikan.
Dave memandangnya takjub, hatinya berdesir mana kala rasa rindu itu kian menyergap. Alana mengikuti arah pandang Dave, ia tersenyum simpul mana kala menyadari sebuah rindu yang teramat besar terselip dalam diri lelaki itu. Sesaat Alana merasa begitu iri, pada sosok perempuan cantik di layar kaca itu. Dia berada begitu jauh, namun begitu beruntungnya mendapatkan cinta dari lelaki yang begitu baik seperti Dave.
‘Beruntungnya kamu Nona Jessica. Dicintai oleh lelaki yang baik seperti Dave. Seandainya, itu aku. Aku akan merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di muka bumi ini.’ gumam Alana tersenyum getir.
__ADS_1