Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Tolong


__ADS_3

Brak!!


Zain menutup pintu mobilnya dengan kencang, tak memperdulikan teriakan Silvi yang meminta dibukakan pintu. Ia justru mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area gedung club' itu.


“Zain, aku bilang hentikan mobilnya!” teriak Silvi.


“Tidak!”


“Zain kenapa kau keras kepala sekali!”


Zain memicingkan matanya menoleh sekilas ke arah gadis itu. Di mana Silvi tengah mengetuk-ngetuk pintu mobilnya. “Kalau mau lompat. Lompat saja, itu juga kalau kau bisa membuka jendelanya!"


“Zain, tolonglah jangan seperti ini. Ayo antar aku kembali ke sana!”


Zain mendengus tak suka. “Jangan harap. Akan ku pastikan itu terakhir kalinya kau menginjakkan kaki di tempat seperti itu!”


Silvi terkejut mendengarnya. “Apa-apaan Zain! Barang-barangku di sana. Kau pikir itu tempat milik nenek moyangmu seenak jidatnya mengatakan berhenti kerja!”


“Itu urusanku dengan bossmu. Awas saja jika aku sampai melihat kau masuk ke sana lagi. Akan ku bakar gedung itu!” ancamnya seraya mencengkeram kuat gagang stir kemudinya. Masih kesal jika mengingat kejadian tadi di Bar. Ia jadi berpikir bagaimana kalau selama ini para lelaki matanya jelalatan melihat postur tubuh Silvi.


“Zain!!!” teriak Silvi dengan nada memekik telinga.


Cittt!!!


Mobil berhenti secara tiba-tiba, membuat Silvi melotot kesal karena terkejut. “Sorry,” cicitnya.

__ADS_1


Silvi melengos membuang pandangannya ke arah luar. Zain mendekatkan tubuhnya, membuat Silvi terkejut. “Kau mau apa? Jangan mesum ya, Zain?” tudingnya dengan kedua mata melotot.


Klik!


Silvi terkejut ternyata lelaki itu hanya memasangkan sabuk pengaman, ia kira Zain akan macam-macam. Zain tersenyum penuh arti sebelum kemudian pandangannya turun ke leher jenjang gadis itu, dan...


“Sial!” makinya dalam hati. Lalu ia buru-buru kembali menarik tubuhnya, menyandarkan kepalanya di kursi, memijat kepalanya seraya memejamkan matanya.


“Zain kok tidak jalan?” tanya Silvi heran. Apalagi lelaki itu hanya diam saja, sambil memijat kepalanya dan wajahnya juga memerah. Apakah lelaki itu demam? Diam-diam ia jadi merasa khawatir.


“Sebentar. Aku mau menidurkan dia dulu!" ucapnya tanpa berani menoleh ke arah Silvi. Membiarkan gadis itu kebingungan. “Boleh minta tolong?” sambung Zain.


“Emm... I–iya apa? Kamu mau digantikan nyetir. Aku bisa kok?” Silvi menggeser tubuhnya menghadap Zain.


“Bukan!”


Zain menelan ludahnya gugup, wajahnya tampak merona. “Tolong kancingkan kemeja kamu...”


Kedua mata Silvi membulat lalu dengan cepat melihat pakaiannya, yang ternyata tiga kancing bagian atasnya terbuka hingga memperlihatkan belahan dadanya.


“Aku tadi tidak sengaja—”


Plak!!


“Zain, kamu sangat mesum!!” teriak Silvi. Antara rasa marah dan malu. Sangking kesalnya dia mengambil tangan lelaki itu, lalu menggigit lengannya.

__ADS_1


“Awww!!” jerit Zain. Lalu Silvi menyentak tangan lelaki itu setelah gigitannya berbekas. Gadis itu kembali ke duduk dengan tegap, dan merapikannya pakaiannya. Zain menatap pergelangan tangannya di mana terlihat bekas gigitan Silvi di sana. Lalu dia menatap ke arah gadis itu dengan heran. “Kamu mau berubah jadi vampir? Suka menghisap darah!”


“Kamu duluan mesum!” omelnya tak terima.


“Aku sudah bilang gak sengaja. Lagian kemeja jelek di pakai. Buat maksiat saja.”


“Halah, maksiat juga juga matamu jelalatan!”


“Sial!” gumam Zain mengumpat. Mana kala ia merasa ucapan Silvi itu benar. Setelahnya lelaki memilih diam. Ia tahu jika terus meladeni ucapan Silvi tidak akan ada habisnya. Ia kembali melajukan mobilnya.


“Kamu mau bawa aku ke mana sih?” tanya Silvi heran karena ia tahu arah jalan ia dilalui Zain bukan menuju kontrakannya. Mobil berbelok ke arah salah satu butik ternama.


“Zain, aku bertanya. Kenapa kita berhenti di sini?”


“Aku mau membuang pakaian yang kamu pakai itu.”


Silvi melihat pakaiannya semua baik-baik saja, kenapa harus dibuang.


“Ayo turun!” ajak Zain membuat Silvi tersentak. Entah kapan lelaki itu keluar dan sudah membukakan pintu untuknya.


💞


💞


💞

__ADS_1


💞


Komentarnya??


__ADS_2