
Entah apa yang tengah lelaki itu cari dari raut wajah Alana.
“Dave kau menghalangi diriku,” protes Alana.
”Sebentar Alana. Aku hanya ingin mengatakan soal yang tadi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud–”
“Aku tahu Dave, sudah lupakan saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Aku juga sudah lupa,” dusta Alana. Mana mungkin semudah itu ia lupa, sedangkan bagi dirinya ini adalah itu adalah hal yang pertama, ia membiarkan tubuhnya di sentuh lelaki, meski tidak sampai berhubungan badan. Tapi, demi tidak memperpanjang masalah, lebih baik Alana berkata demikian. Toh ia tahu akhir dari ucapan Dave akan seperti apa.
“Jadi, kamu–”
“Dave, ayo kita mandi di danau.” Alana menyela ucapan Dave dengan cepat. Ia turun dari kursi menatap ke arah Dave.
“Maksudnya?”
Alana tersenyum, lalu berbalik melangkah ke tepi danau.
“Alana kamu gak bermaksud nyebur ke dalam danau kan?” seru Dave seraya melangkah mendekati istrinya.
Alana hanya tersenyum ke arah Dave, kemudian berbalik dan....
Byurr!!
Perempuan itu melompat ke dalam danau.
“Alana!! Alana!!” teriak Dave begitu tubuh Alana masuk ke dalam air, tak kunjung muncul ke permukaan.
“Alana! Kamu di mana? Jangan buat aku cemas, Alana!” Dave terus berteriak memanggil istrinya. Bahkan Dave sampai melemparkan ponsel di tangannya, melepaskan sandal miliknya. Ia bersiap untuk melompat ke dalam mencari Alana. Namun, tiba-tiba...
__ADS_1
“Hallo, Dave!” sapa Alana sedikit beteriak ketika ia sudah muncul ke permukaan air.
“Eh!” Dave sedikit terkejut mendapati Alana sudah berada di depannya. Meski tubuhnya masih di bawah air. Alana justru tertawa.
“Ayo Alana keluar,” pinta Dave mengulurkan tangannya.
Alana menggelengkan kepalanya. “Gak mau, Dave. Mandi di sini ternyata sangat segar, aku juga bisa berenang dengan bebas.”
“Kalau kau ingin berenang. Di dalam kan ada kolam renang, tidak perlu sampai nyebur ke danau malam-malam seperti ini,” keluh Dave.
“Di kolam renang tidak puas Dave. Karena aku sudah terbiasa renang di sungai,” jawab Alana tertawa dengan keras.
“Tapi, itu danau Alana. Bagaimana jika ada binatang buas.”
“Dave kamu pikir ini hutan ada binatang buas. Paling-paling ada sih buaya. Tapi, buaya darat,” celetuk Alana tergelak sendiri.
“Aduh! Ini apa yang gerak-gerak di punggung aku ya,” keluh Alana bergerak gelisah, terlihat wajahnya begitu takut.
“Alana!” panik Dave.
“Dave ini apa. Aku takut Dave,” pekik Alana semakin menjadi.
“Tunggu Alana!” Dave langsung terjun ke dalam air, menghampiri Alana.
“Di mana binatangnya?” tanya Dave.
“Emm sudah pergi. Sepertinya dia takut denganmu,” jawab Alana menahan tawanya.
__ADS_1
Dave memicingkan matanya curiga. “Kmu ngerjain aku? Gak ada binatang apapun kan?”
“Ada Dave.”
“Mana?”
“Udah pergi!” jawab Alana terkikik geli.
“Bohong! Aku baru sadar kalau danau ini tuh bersih! Jadi, kamu hanya ngerjain aku agar masuk ke dalam air,” dengus Dave.
“Jadi, kamu baru sadar Tuan Dave?” goda Alana. Seraya menyipratkan air ke tubuh lelaki itu.
“Alana!” panggil Dave.
“Kejar aku kalau kamu bisa Dave!” tentang Alana seraya tertawa puas. Mana kala ia merasa berhasil mengerjai lelaki itu.
“Awas kamu ya!” Dave langsung berenang mencari Alana. Hingga beberapa saat ia berhasil menemukan Alana. Ia langsung memeluk perempuan itu.
“Bisa-bisanya kau mengerjaiku, Alana.”
“Ampun Dave. Aku hanya bercanda!” pekik Alana.
Dave menatap wajah Alana yang basah kuyup, hal itu membuat darah Alana berdesir. Bayangan adegan tadi terlintas, dan ia tidak mau kembali larut dalam permainan lelaki itu. Susah payah ia mendinginkan otak dan tubuhnya dengan cara masuk ke dalam air danau, tak mungkin ia kembali mengulangi kejadian yang sama. Ya, tadi ia memang sengaja menceburkan diri ke dalam air, karena merasa otak dan tubuhnya terasa panas. Di tambah lagi mendengar Dave baru saja menerima telpon dari Papa Jonas, membuat otak Alana kembali terganggu dengan ancaman Papa mertuanya itu.
Hacih!
Alana sengaja berpura-pura bersin. Agar Dave berhenti menatapnya.
__ADS_1
“Kau sudah bersin-bersin Alana. Ayo kita keluar!” ajak Dave menggiring Alana keluar danau. Alana hanya menurut saja.