Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Ibu... Tunggu Alana


__ADS_3

Dengan membawa ice cream dan coklat di tangannya. Alana melangkah menyusuri koridor rumah sakit jiwa di mana ibunya di rawat. Ia ingat beberapa Minggu yang lalu, ibunya menyukai ice cream dan coklat ketika dirinya berkunjung. Kini ia pun kembali dengan jajanan yang sama.


Suster mendorong kursi roda Ibu Ratmi menuju halaman taman rumah sakit samping. “Suster bisakah tinggalkan kami berdua,” pinta Alana.


“Tapi, Nona–”


“Tolonglah, kami butuh privasi. Aku ingin mengobrol yang banyak dengan ibuku,” pintanya memelas.


“Baiklah, saya akan menunggu di sebelah sana. Nanti kalau ada apa-apa Nona bisa panggil saya.” Suster itu beranjak meninggalkan Alana dan pasiennya menuju kursi yang terletak beberapa meter darinya.


Alana membuka ice cream yang ia bawa, menyuapi ibunya. Namun, nampaknya sang ibu ingin makan dengan tangannya sendiri. Alana pun membiarkannya.


“Bagaimana ibu? Apakah rasanya enak?” tanya Alana antusias.


Perempuan setengah baya itu hanya mengangguk tanpa suara. Alana tersenyum melihat ada kemajuan ibunya. Beberapa Minggu belakangan ini, ia tak pernah mendengar keluhan dokter tentang sang ibu yang dulu sering mengamuk. “Kalau ibu suka. Alana akan sering kemari membawakannya,” sambungnya.


Tangannya terangkat untuk membelai bibir ibunya yang belepotan. Setelahnya, Alana duduk di kursi tepat berhadapan dengan ibunya. “Ibu?” panggilnya. Ia menyentuh telapak tangan ibunya, menariknya sedikit, lalu menempelkannya di pipinya. “Alana kangen,” sambungnya.


Tampak perempuan setengah itu terdiam, hanya mengedipkan kedua matanya berulang kali, menatap putrinya. Alana mulai menangis.

__ADS_1


“Bu, Alana boleh curhat kan,” sambung Alana memulai pembicaraan. Sekali lagi hanya terlihat kedipan mata dari ibunya, dan itu Alana anggap sebagai jawaban.


“Aku pernah bilang kalau aku sudah menikah, dan kini aku memiliki suami. Dia yang membantu ibu berobat di sini, untuk itu, ibu bisa diperlakukan spesial di sini. Sudah sebelas bulan berlalu, Bu. Kami terbiasa berbagi satu rumah.”


“Entah pernikahan macam apa yang aku jalani, Bu. Lucunya hanya karena patah hati dengan Edo. Aku menjadi berambisi untuk menikahi lelaki yang kaya raya, yang aku pikir dengan demikian aku bisa membalas rasa sakit hatiku. Namun, ternyata semua pikiranku itu salah, Bu.” Alana mulai terisak semakin kencang.


“Edo memang menyesal. Tetapi, hatiku justru terpaut mencintai suamiku. Yang jelas-jelas dia melarang untuk aku mencintainya. Dia membangun benteng sejak pernikahan kami, yang hanya sebatas kontrak di atas kertas.”


“Bu... Satu tahun bukan waktu yang cukup singkat kan? Bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak mencintainya, Bu. Dia lelaki yang baik, hangat, ramah, sejenis pria idaman para wanita ada padanya, Bu. Tetapi, rasa cinta ini telah menyakitiku, Bu. Aku terluka dengan cinta diam-diam ini. Tidakkah ia menyadari ketulusanku, Bu.”


“Salahkah aku mencintai suamiku sendiri, Bu.” Alana mulai terisak kencang. Ia merundukkan wajahnya di pangkuan sang ibu. Meluapkan segala kesedihannya.


Alana langsung beringsut menarik kepalanya, menatap wajah sang ibu yang saat ini menatap dirinya dengan sendu.


“Alana, putriku... Jangan menangis, ibu di sini.” Ratmi mengulurkan tangannya mengusap air mata putrinya.


Tubuh Alana memaku tak percaya, ia terkejut akan reaksi ibunya. “Bu, kamu...”


Ratmi mengangguk pelan. “Iya sayang, ini Ibu.”

__ADS_1


Alana tertawa di balik tangisnya, ia langsung merengkuh ke dalam pelukan ibunya. “Aku... Aku senang sekali. Ibu sudah sembuh. Ibu mengingatku.”


Ratmi mengusap punggung putrinya. “Iya sayang. Ibu sembuh, semua berkat perjuangan kamu. Terima kasih.. Kamu telah berkorban banyak hal untuk Ibu. Maafkan ibu, selama ini telah menjadi beban untukmu. Maafkan Ibu karena tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu.”


Alana menarik tubuhnya, lalu menggeleng. “Tidak! Aku tidak pernah merasa Ibu itu beban. Apapun, akan Alana lakukan demi kesembuhanmu, Bu.”


“Termasuk mengorbankan perasaan mu?”


Alana mengangguk antusias, rasa sedihnya berganti rasa syukur melihat ibunya ternyata sudah sembuh.


“Alana.”


“Ibu.” Alana menggeleng menatap wajah ibunya. “Satu bulan lagi, semua ini akan berakhir. Aku tidak memerlukan apapun. Bu...”


“Iya sayang.” Ratmi membelai wajah putrinya.


Alana memegang tangan ringkih sang ibu dengan lembut lalu berkata. “Bu, bisakah ibu menungguku di sini selama satu bulan lagi. Setelah satu bulan semua akan berakhir, aku akan menjemput ibu di sini.”


“Tentu!"

__ADS_1


__ADS_2