Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Mengejar Cinta


__ADS_3

“Nona Alana ada apa?”


Pertanyaan Zain yang baru saja tiba mengejutkannya. Segera ia mengusap sudut matanya yang basah.


“Tidak apa-apa,” dustanya.


Namun, Zain tak percaya ia melihat Alana itu menangis, bahkan kedua matanya sampai merah. Ia jadi berpikir apakah terjadi sesuatu? Apa yang sang atasan lakukan kenapa istrinya sampai menangis.


“Panggil saja Alana. Tidak usah pake Nona. Aku bukan istri atasanmu lagi!” pinta Alana sebelum berlalu pergi meninggalkan Zain.


Zain menyunggingkan senyum tipisnya. “Tampaknya anda harus bekerja lebih keras untuk meluluhkan hati Nona Alana, Tuan.”


Zain berjalan menuju ruangan Dave. Sebelum masuk ia mengetuk pintu lebih dulu, setelah mendapatkan sahutan dari dalam, barulah ia masuk.


“Apa yang terjadi, Tuan?” tanya Zain.


“Kenapa?” Dave tersenyum kaku. “Kau bertemu dengan Alana diluar?” tambahnya.


Zain yang kini duduk di hadapan Dave pun mengangguk. “Iya, dan dia menangis.”


Dave terkejut langsung menjatuhkan bolpoin di tangannya.


“Apa yang anda lakukan dengannya, Tuan? Anda tidak langsung menyerobotnya dengan em..”


“Apa?!” dengus Dave.


“Ciuman dan pelukan gitu misalnya.”


Dave berdecak mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. “Jangankan melakukan hal itu Zain. Aku dekati dia saja langsung berteriak. Melempari ku dengan berkas.”

__ADS_1


Zain terperangah, dugaannya sama sekali tidak meleset, jika sang atasan harus lebih bekerja keras. Ia menatap iPad yang sudah retak di atas meja sang atasan. “Hanya berkas yang di lempar. Saya pikir iPadnya yang dilempar ke anda,” celetuknya kemudian.


Dave menatap Zain dengan wajah kesal. “Kau mau bicara apa?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Tentang proyek pembangunan hotel anda. Kira-kira kapan anda akan mengecek lokasi?”


“Jangan sekarang, aku sibuk. Kau cek saja sendiri!” pungkasnya kemudian.


Zain mengangguk paham. “Saya tahu. Anda sedang sibuk mengejar cinta,” cibirnya.


Membuat Dave melotot. “Hem ya. Dan kau mana paham, karena tidak pernah jatuh cinta,” cibirnya balik.


Zain berdecak merasa kalah telak. “Saya tidak butuh cinta. Oh ya pesan saya cuman satu perlakukan Nona Alana dengan lembut, Tuan. Jangan buat menangis, atau dia akan kabur lagi. Kemungkinan dia kabur malam itu karena anda terlalu...”


“Kau menuduhku benar-benar masokis sialan!” makinya dengan melemparkan bolpoin di atas meja miliknya.


Zain tergelak. “Itu istri anda sendiri yang bilang. Saya tentu saja percaya,” balasnya mengejek. Zain beranjak dari tempat duduknya. “Sudahlah saya mau berangkat ke lokasi pembangunan Hotel Alana Island, setelah itu kembali ke Dirgantara Karya. Selamat berjuang, Tuan!”


Sepeninggal sang asisten, Dave tetap duduk di kursinya dengan termangu, memikirkan Alana. Ia bahagia melihat istrinya baik-baik saja. Namun, ia juga sedih saat melihat tatapan istrinya yang begitu membencinya. Bahkan ia pun tahu setelah tadi ia melemparkan kontrak perjanjian kerja itu, Alana akan semakin membencinya. Tapi, Dave tidak peduli. Ia sudah berjanji akan lakukan apapun asal Alana kembali. Tidak peduli jalan apa yang akan ia tempuh. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya.


Sebenarnya kemarin saat melihat Alana dari rekaman cctv, ia ingin langsung menghampiri perempuan itu, dan langsung menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, lalu membawanya pulang, karena ia begitu bahagia Alana kembali. Tetapi, Zain mencegahnya, karena ia menduga tidak akan semudah itu Alana menerima Dave kembali. Untuk itu ia menggunakan cara yang cukup licik. Ternyata dugaan Zain sama sekali tidak meleset.


Ia pikir juga tidak masalah Alana bekerja di perusahaan ini, dan lagi perusahaan ini memang ia bangun untuk Alana seperti nama perusahaan ini AJ Silver Gold, nama depannya memang nama istrinya. Dave masih ingat apa saja keinginan perempuan itu yang belum tercapai, untuk itu satu persatu ia ingin mewujudkannya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu terketuk dari luar, membuyarkan sekelumit pikiran Dave.


“Masuk!” sahutnya.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka, sosok perempuan yang kini berhasil menempati hatinya melangkah mendekat. Dave berdehem menetralkan perasaannya. “Ada apa, Alana? Mau marah-marah lagi?” tanya Dave melirik perempuan itu.


Alana mengigit bibirnya. “Emm tidak. Aku sudah mengambil keputusan,” jawabnya seraya mendudukan dirinya di kursi depan Dave tanpa dipersilahkan.


“Benarkah?” tanyanya serius. Ia langsung menatap istrinya dengan wajah tak sabar. “Katakan apa? Kau mau kembali ke rumah kan?”


“Tidak!”


Dave terdiam menghela nafas kecewa. “Emm lalu?”


“Tentu saja aku milih opsi kedua.”


Dave mengangguk paham tanpa suara. Setidaknya masih ada harapan.


“Tapi, aku ingin kamu tetap memperlakukan aku seperti karyawan biasa. Jangan campurkan urusan pribadi kita,” lanjutnya.


Dave mengangkat alisnya mendengar perkataan Alana. “Memangnya kau berpikir aku akan melakukan apa? Memperkosa mu gitu.”


Alana mengangkat wajahnya menatap Dave dengan wajah merona, mana kala mengingat pergulatan panas lima tahun yang lalu. “Awas saja kau lakukan itu!” dengusnya.


Dave tersenyum simpul. “Aku hanya bercanda. Lima tahun tidak bertemu kenapa sekarang kau begitu galak?”


Alana melototkan kedua matanya. Membuat Dave terkekeh, jujur saja dia lebih suka melihat Alana marah dibandingkan melihat perempuan itu menangis. Dave mengulurkan tangannya, “Ya sudah, selamat bergabung istri... maksudku Nona Alana.” Dave buru-buru meralat ucapannya, tak ingin membuat perempuan itu kembali kesal.


Dengan berat hati Alana membalas jabatan tangan Dave sesaat. “Aku akan kembali bekerja, tapi...” Alana melirik iPad di meja Dave yang sudah retak.


Dave mengikuti arah pandang Alana, ia langsung paham. “Katakan saja pada Nara kalau kau telah merusak iPadnya, lalu membuat susunan jadwal yang ia buat berantakan,” cibirnya.

__ADS_1


Alana mengerucutkan bibirnya kesal, jika tidak karena terkejut mana mungkin ia jatuhkan.


“Maksudnya katakan saja kalau iPadnya tak sengaja jatuh,” ralat Dave kemudian menatap istrinya dengan tatapan geli.


__ADS_2