
Usai kepergian suaminya ke ruang kerja, Alana justru tak dapat memejamkan kedua matanya. Ia menoleh ke arah putranya yang tertidur sangat lelap. Pada akhirnya Alana memilih beranjak turun ke bawah, menuju dapur. Ia membuatkan kopi untuk suaminya, kemudian beranjak ke ruang kerjanya.
Ceklek!
Pintu terbuka lelaki berkacamata bening yang tengah fokus dengan laptopnya itu menoleh. “Sayang, kenapa malah bangun?”
Alana mendekati suaminya, meletakkan kopi yang ia bawa ke atas meja. “Aku—”
“Gak bisa tidur?” tanya Dave melepaskan kacamatanya dan menyimpannya ke laci. Dave juga menggeser laptop miliknya. Alana mengangguk.
“Kemarilah!” pinta Dave.
Alana mengangkat wajahnya tak mengerti.
“Aku akan membuatmu bisa tidur setelah ini,” lanjutnya.
__ADS_1
Alana tersenyum tak mengerti. Namun, tak ayal ia pun mengikuti lambaian tangan sang suami. Dave menarik tangan istrinya, hingga membuatnya duduk di atas pangkuannya.
“Dave?” desisnya kaget.
Dave terkekeh gemas lalu mengecup pipi istrinya. Sebelah tangannya mengambil sebuah dokumen berwarna biru. “Baca sayang!”
Alana menatap wajah suaminya sesaat, lalu membuka dokumen itu.
Hotel Alana Island
Kata demi kata ia baca, sesekali keningnya mengerut kasar. Hingga pada akhirnya ia menutup kembali dokumen itu. “Kau itu berlebihan sayang! Kenapa membangun hotel untukku?” protes Alana.
“Terima kasih!” Alana mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Memberi kecupan bertubi-tubi di wajah dan bibir suaminya. Namun, hal itu tak lantas membuat Dave puas. Ia dengan cepat mengangkat tubuh istrinya, untuk ia dudukan ke atas meja.
“Sayang!” pekik Alana.
__ADS_1
“Hem... Kita coba sensasi baru. Belum pernah kan kita bercinta di sini.”
Kedua mata Alana membulat, baru saja ia ingin membuka mulutnya. Dave dengan cepat langsung membungkam bibirnya dengan ciumannya, membuat Alana tak kuasa untuk menolaknya. Ia dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
Sementara, salah satu tangan Dave bergerak menahan pinggang istrinya. Dave harus hati-hati, bagaimanapun ia harus ingat istrinya tengah mengandung. Pelan ia menarik tali jubah kimono istrinya, hingga membuatnya terlepas, dan memperlihatkan baju tidur tipis yang membalut tubuhnya, dengan tali spaghetti penyangga di bahunya.
Ciuman terlepas, dan beralih ke leher jenjang istrinya. Hanya kecupan basah tanpa meninggalkan jejak. Dave ingat tidak akan pernah lagi meninggalkan jejak tanda cinta untuk istrinya di tempat yang bisa terlihat. Tentunya ia tidak ingin merasakan kebingungan kala sang putra bertanya, seperti sebelum-sebelumnya.
Menarik kepalanya, Dave kembali mencium bibir istrinya. Kemudian salah satu tangannya bergerak dari pinggang, kemudian mengusap perut istrinya yang sedikit membuncit, hingga terus ke bawah, menyingkap gaun tidur tipis istrinya. Mengusap pelan pahanya, dan terus merambat ke pusat intinya.
“Ah...” de sa han tertahan keluar dari mulut Alana. Mana kala jemari sang suami membelai bermain dan membelai lembut di bawah sana. Menimbulkan sensasi yang geli namun terasa hangat.
Seketika ruangan kerja milik Dave itu terasa memanas, hanya terdengar bunyi decapan lidah keduanya. Pelan, Dave dengan lihai mencoba menurunkan ce la na dalam istrinya. Agar memudahkan ia untuk bermain-main di bawah sana. Alana pun tak tinggal diam, dia mulai bergerak membuka kancing kemeja piyama suaminya, memudahkan ia bergerak mengusap dada bidang sang suami.
“Sayang?” panggil Dave dengan suara parau. ”Boleh kan?” tanyanya ijin. Bagaimanapun ia juga ingin Istrinya merasa nyaman.
__ADS_1
“Hem.. pelan-pelan,” bisik Alana.
Dave tersenyum dan kembali menyatukan bibir keduanya, tangannya bergerak hendak membuka celananya. “Kita bisa pindah ke sofa.”