Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Singkirkan Tanganmu


__ADS_3

Dua Minggu setelah kejadian. Dave menjaga Alana dengan ketat. Perempuan itu juga menurut untuk tidak keluar rumah selama itu. Beruntunglah fasilitas di rumah Dave memadai. Alana bisa olahraga, berjalan ke danau.


Sejauh ini, tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari Nelson. Kemungkinan besar lelaki itu sudah menyerah. Ya, tentu saja siapa orang yang rela kehilangan reputasi besarnya, pikir Dave.


Saat ini Alana tengah bersiap untuk menemani Dave pergi ke Surabaya. Ia akan mengecek jalannya proyeknya dengan Pak Risky. Sengaja ia mengajak Alana, karena ia tahu perempuan itu pasti merasa bosan.


“Sudah selesai belum Alana?” tanya Dave yang sudah berdiri di ambang pintu.


“Sebentar Dave.”


“Tidak usah membawa pakaian Alana. Kita hanya semalam di sana. Nanti biar aku belikan kamu di sana saja,” ujar Dave.


“Tapi, Dave–”


“Ayo buruan hari sudah siang Alana,” desak lelaki itu. Dave hanya mengenakan kemeja berwarna abu-abu, dengan celana panjang dipadukan dengan jaket. “Jangan lupa bawa jaket,” imbuhnya mengingatkan.


Alana berlalu mengikuti langkah kaki sang suami. Keduanya akan berangkat ke sana menggunakan jet pribadi, tentu saja dengan Zain yang selalu setia mengawal mereka.


💞💞💞


Sekitar satu jam lebih, keduanya sudah tiba di Surabaya. Mereka langsung meninjau jalannya proyek pembangunan hotel dan Mall.


“Hotel ini pasti akan sangat mewah. Kira-kira apakah masih lama jadinya?” tanya Alana menatap bangunan yang menjulang tinggi di depannya, tentunya setelah memakai helm pengaman.


“Mungkin sekitar tiga atau empat bulanan lagi semuanya akan selesai Alana,” sahut Dave.


Alana mengangguk, menggerakkan jarinya menghitung mundur waktu kebersamaannya dengan Dave. Sekitar empat bulan lagi waktu itu akan berakhir. Alana pikir ia tidak akan lagi datang kemari bersama Dave.

__ADS_1


Sore hari setelah peninjauan itu selesai, sebelum ke memutuskan untuk rehat ke hotel. Ketiganya memutuskan untuk makan lebih dulu, tepatnya di restoran yang berada di hotel itu.


“Dave, aku perlu ke toilet,” kata Alana.


“Biarkan aku mengantarmu!” Dave beranjak dari tempat duduknya.


“Dave, ayolah aku ke toilet perempuan. Jadi–”


“Sudah ayo, buruan.” Dave langsung menarik tangan istrinya menuju toilet. Sungguh ia masih belum bisa lepas tangan pada istrinya, ada sisi rasa khawatir yang menyergap.


“Masuklah, aku akan menunggu di sini!” ujar Dave ketika sudah berada di depan pintu toilet perempuan.


Sementara, Alana masuk. Dave menunggunya di tembok dekat toilet. Ia melipat tangannya di dada. Namun, tiba-tiba ia terkejut saat tiba-tiba ada seorang wanita berpawakan tinggi, rambut merah, berpakaian mini mendekatinya. Tampak dress-nya hanya sepaha, dengan bahunya terbuka, serta high heels berwarna senada, merah. Ia tersenyum ke arah Dave.


“Mr Dave. I'm Welly.” Wanita itu tiba-tiba tiba-tiba mengulurkan tangannya dan berkata dengan sangat lembut.


Uluran tangan wanita itu menggantung di udara, namun ia tetap tersenyum dan menurunkan tangannya. Ia tetap tersenyum tak nampak sakit hati.


Dave mendengus sama sekali tidak menyukai perempuan itu. Namun, ia masih berfikir waras jika kemungkinan perempuan itu juga tengah menunggu temannya. Mengenai perempuan itu mengetahui namanya, Dave tak lantas terkejut. Itu hal biasa jika namanya dikenal banyak orang.


“Mr. Dave saya bisa melakukan apa saja untuk anda termasuk...” Wanita cantik itu menyentuh jas Dave pada bagian dada dengan gerakan senyum sen su al sangat menggoda.


“Singkirkan tanganmu!!”


Welly terkejut mendengarnya. Namun, tampaknya itu tak mengubah apapun. Perempuan itu semakin gencar menggoda Dave. Ia tak menyerah mengingat sebuah misi yang harus ia lakukan demi mendapatkan pembayaran yang cukup besar oleh seseorang.


“I said gets your hands off!!” [Aku bilang lepaskan tanganmu]

__ADS_1


Ucap Dave dengan nada dingin, hal itu tentu membuat Welly menarik kembali tangannya. Senyum di wajah perempuan itu luntur, tak dia sangka lelaki di hadapannya itu sangat susah untuk tergoda.


“Oh oke. Kita bisa menunggu nanti di kamar. Untuk–”


“Saya tidak suka mengulangi perkataan saya. Sebaiknya kamu pergi, sebelum saya melakukan apa yang tidak pernah kamu duga. Kamu pikir saya tidak tahu, kamu bekerja untuk siapa??” seru Dave.


Welly merubah expresi wajahnya, ia tak menyangka jika lelaki itu ternyata memang sangat cerdas. “Saya juga tahu, ada mata-mata yang kamu bawa untuk memotret kamu dan saya ini kan!!” lanjutnya.


💞


💞


💞


💞


💞


💞


💞


💞


Terima kasih, yang masih setia mengikuti cerita ini. Yang sudah berhenti di tengah jalan juga tidak apa-apa. Ceritanya memang menguji kesabaran. hehe


Dan juga makasih ya yang udah bagi aku vote dan poinnya, tips iklan juga. Aku terhura, terima kasih, semoga kalian sehat terus. 😍😍❣️❣️

__ADS_1


Sambil nunggu update lagi, kalian bisa baca ceritaku yang lain yang udah end. Atau yang on going satu lagi dengan judul “My Director My First Love” ceritanya ringan konfliknya tak seberat novel ini ya guys. Klik profilku aja guys.


__ADS_2