Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Jantungku Berdetak Kencang


__ADS_3

Dave meletakkan sisa makanan Alana di atas meja. Setelah Dokter Emraan mengatakan untuk segera meminum obatnya, Dave langsung memintanya untuk makan agar segera bisa minum obat.


“Bisakah nanti saja minum obatnya, Dave?” protes Alana, ketika sang suami mengulurkan tiga buah tablet.


“Kenapa?” tanya Dave memicingkan matanya.


Alana menyentak nafasnya, sementara tubuhnya bersandar lemah di sofa. “Entahlah. Aku kesulitan menelan obat. Dave bisakah tabletnya dibuat dalam bentuk kecil-kecil?” pintanya pada sang suami.


Dave melongo mendengarnya, yang benar saja tablet masa harus di buka, di ambil isinya. Apakah ada orang minum obat seperti itu? Dave rasa itu hanya Alana seorang.


“Sayang, itu jelas tidak bisa. Diminum sekali teguk aja, gampang kok.”


Alana menghela nafasnya berulang kali. “Jantungku bahkan sudah berdetak kencang Dave. Padahal aku belum mengkonsumsi obat besar-besar itu,” ucapnya seraya menekan dadanya.


“Itu bukan karena obat. Tapi, karena kamu dekat denganku!” cibir Dave yang tahu istrinya itu tengah mencari alasan untuk menghindari minum obat.


Alana meringis malu, saat niatnya terbaca oleh suaminya. “Ya udah letakkan saja di atas meja. Nanti aku akan meminumnya. Tunggulah nasinya turun ke perut dulu Dave. Kau kembalilah bekerja, aku mau tidur,” usirnya. Alana berniat untuk merubah posisinya menjadi tidur. Namun, tanpa disangka Dave langsung menarik tangan istrinya, kemudian merunduk dan langsung mencium bibirnya.

__ADS_1


Alana melotot saat merasakan butiran tablet masuk ke dalam mulutnya, dan perlahan menjalar ke tenggorokannya.


“Emmmmm....” Alana memberontak memukul dada suaminya, memintanya untuk dilepaskan. Ia ingat di ruangan itu sedang ada putranya, bisa-bisanya Dave mencium bibirnya ada Gala.


Uhuk! Uhuk!


Alana terbatuk saat Dave melepaskan ciumannya. “Dave, bisa-bisanya kamu melakukan hal itu padahal di sini ada putramu. Astaga... Bagaimana kalau dia melihatnya?” omel Alana seraya menerima satu gelas air mineral untuk ia teguk.


“Karena hanya itu satu-satunya cara agar kamu cepat minum obat,” sergah Dave meletakkan kembali gelasnya. “Tidurlah. Agar kau lepas sehat,” sambungnya meminta Alana untuk berbaring.


“Aku—”


“Nanti saja. Aku akan tidur dulu,” ucapnya seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Dave mengangguk. “Iya tidurlah, dan lekas pulih. Karena kau berhutang banyak penjelasan padaku.”


“Dave?” desis Alana sendu. Saat ia merasa lelaki itu masih kesal padanya.

__ADS_1


“Santai aja aku tidak bisa marah padamu, Alana. Tetapi, ada banyak hal yang semestinya kamu ceritakan padaku, kan?”


Alana mengangguk lemah, dan perlahan ia mulai memejamkan kedua matanya. Dave menyelimuti istrinya. Kemudian mengecup pelan kening Alana, berharap setelah terbangun Alana akan sehat.


Dave mengalihkan tatapannya pada putranya yang tampak asyik tiduran di karpet bawah depan televisi. Tangannya asyik membuat coretan di kertas putih. Ia tersenyum, untuk itulah tadi ia berani mencium bibir istrinya, karena ia tahu Gala sedang tidak menatap ke arahnya.


Usai memastikan Alana terlelap. Dave beranjak menghampiri putranya. “Kau menggambar apa, sayang?” tanya Dave penasaran ikut mendudukkan dirinya di karpet dekat dengan putranya.


Gala tetap asyik dengan aktivitasnya. Ia terdiam menyelesaikan kegiatannya lebih dulu. Hingga beberapa saat setelah selesai, ia meletakkan pensilnya. Kemudian mengangkat kertas itu dan menunjukkan pada Dave.


“Taraa... Bagaimana gambarnya? Papi, bagus tidak?”


Dave tersenyum melihat hasil coretan putranya terlihat berantakan, tetapi untuk anak seusia empat tahun, menurutnya ini tergolong bagus. Di sana terdapat tiga gambar yang ia lukis, Papi, Mami dan Gala.


“Dulu aku selalu gambar bertiga, satunya nenek.” Gala terkikik. “Karena sekarang udah ada Papi, aku mau gandeng Papi juga,” sambungnya.


Dave terharu mendengarnya. Ia mengambil gambar buatan Gala. “Bagus sekali sayang? Apa kau bercita-cita jadi pelukis?” tanyanya.

__ADS_1


“No! Dulu aku bercita-cita punya uang banyak. Supaya Mami berhenti bekerja. Kalau sekarang aku belum kepikiran,” jawab Gala.


Dave melongo mendengarnya. “Yang penting Gala harus rajin belajar.”


__ADS_2