Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Calon Istri?


__ADS_3

Dalam perjuangan terkadang engkau sukses, dan terkadang engkau belajar (bukan gagal).


Bagi Zain tidak ada kamus gagal dalam hidupnya. Meski sudah ditolak dua kali oleh Silvi lamarannya dan bahkan membuatnya malu di kantor, hal itu tak lantas membuatnya menyerah. Niat hati ingin menemui gadis itu pada siang apa sore hari. Namun, kesibukannya yang memadai tak juga membuatnya sempat. Apalagi satu bulan yang lalu sang atasan baru meresmikan pembukaan Hotel Alana Island.


Kini, dengan mobil BMW i8 miliknya. Zain melajukan mobilnya menuju tempat di mana gadis itu bekerja. Baiklah cara melamar selanjutnya mungkin dengan cara bicara baik-baik dengan gadis itu. Dengan membawa satu cincin berlian yang didesain langsung oleh perusahaan AJ Silver Gold, yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Zain melangkah masuk ke dalam suatu gedung yang bernama Lucy Bar dengan percaya diri. Kali ini pasti tidak akan gagal.


Sial sekali bukan? Dia baru pertama kali jatuh cinta namun sudah mengalami penolakan berulang kali dengan gadis itu. Tak ia duga mendapatkan Silvi harus penuh dengan perjuangan.


Suara dentuman musik yang terdengar bising, begitu mengusik Indra pendengarannya. Zain melangkah ke dalam sudut bar, setelah sebelumnya ia memesan salah satu minuman bersoda. Dia selalu ingat pesan Dave untuk mencoba menjauh jenis minuman yang memabukkan. Karena hal itu akan mempengaruhi kesehatan juga nama baiknya.


Zain duduk seorang diri, menyesap minuman di tangannya. Sesaat kemudian ia terkejut ketika dihampiri oleh salah satu wanita penghibur yang mengenakan pakaian teramat seksi. Seketika ia bergidik ngeri, ketika wanita itu bergerak mendekat, Zain mengibaskan tangannya. “Pergilah. Saya datang bukan untuk bermain bersamamu. Tolong jangan ganggu saya!” usirnya


Zain menghela napas lega ketika wanita itu sudah pergi. Jika bukan demi calon istrinya dia tidak akan mungkin kembali datang kemari. Calon istri? Zain menggelengkan kepalanya, mengapa sejenak dia terdengar egois. Seenaknya mengklaim gadis itu calon istrinya, meski sudah ditolak berulang kali.


Zain mengedarkan pandangannya lurus, mencari sosok yang berhasil mengisi hatinya. Namun, beberapa saat kemudian ke terkejut ketika melihat Silvi dengan seragam pelayan bar itu, tengah berlenggak lenggok kesana kemari menjajakan minuman.


“Sial!” umpatnya dengan rahang mengeras. Sejenak amarahnya meliputi.

__ADS_1


“Wahh itu kan Silvi! Primadona di bar ini. Meski hanya seorang pelayan. Lihat bodinya man!” ucap salah satu anak muda yang duduk tak jauh dari Zain. Lelaki itu sontak menatap ke arah para anak muda itu, dengan rahang mengeras, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.


“Iya. Aku rela deh ngeluarin uang banyak cuman bawa dia ke hotel!” timpal salah satu temannya.


Detik itu juga kedua mata Zain mendelik tajam, menatap kumpulan para anak muda itu dengan wajah marah. Dia langsung beranjak dari tempatnya menggebrak meja mereka.


Brak!!!


“Tutup mata kalian, sialan!” umpatnya marah.


“Sialan! Kamu siapa? Berani ngatur-ngatur kami!” tantang anak muda ini.


Seketika lelaki itu bergidik ngeri. “Jika kamu dan teman-temanmu tidak bisa menjaga mulut dan mata. Maka saya akan congkel mata kalian semua. Agar kalian tidak bisa melihat dunia dan seisinya!” sambungnya.


“Ampun, Om. Ampuni kami!” salah satu dari mereka memohon. Zain langsung melepaskan cengkraman tangannya. Membuat anak itu terbatuk. “Ayo kita pulang, aku belum mau mati!” ajak mereka pada temannya.


“Mama sakit?” teriak anak muda yang dicengkeram oleh Zain tadi. Dengan sigap teman-temannya membantunya berdiri.

__ADS_1


Zain berdecak. “Anak mama, anak bau kencur aja mainannya udah sampai tempat seperti ini,” kata Zain menepuk jaketnya. Ia kembali duduk dan memandangi ke arah Silvi. Terkejut, ketika melihat seorang lelaki bertubuh gempal mencolek gadis itu.


“Sialan!” umpatnya. Lalu, dengan cepat ia beranjak dari kursinya. Langkah kakinya terayun dengan cepat dengan rahang mengeras, kedua tangan yang mengepal sempurna. Dia akan memukul siapapun yang berani menganggu calon istrinya. Emosinya meluap, darahnya terasa mendidih melihat para lelaki tak gencar menggoda Silvi. Rencana yang ia susun untuk bicara baik-baik dengan gadis itu kembali gagal.


Bugh!!


“Berani sekali anda menggoda calon istri saya!!” teriaknya melengking.


💞


💞


💞


💞


Guys aku punya pesan buat kalian. Ini berlaku untuk karya siapapun, ya.

__ADS_1


Tolong ya jika kalian tidak menyukai cerita yang kalian baca, cukup tinggalkan tidak perlu dibaca lagi, tidak usah meninggalkan jejak buruk, bahkan sampai memberikan rate Bintang Satu. Saya tahu karya saya memang jauh dari kata bagus, saya masih belajar. Jangan katakan saya baper, tapi siapapun penulis saya jamin mereka pasti akan kesal jika ada pembaca yang seperti itu. Mereka menyisihkan sebagian waktu untuk berkarya.


Udah itu saja, untuk kalian yang masih setia dengan cerita saya, memberikan dukungan berupa Like, komentar, rate lima, hadiah, dan vote terima kasih banyak. 🤗


__ADS_2