
Perlahan Alana melepaskan belitan tangan kekar suaminya di perut, kemudian dia turun dari atas ranjang dengan perlahan. Kedua alisnya bertaut meringis ke lantai yang tertutup oleh permadani berbulu itu.
“Kok perih ya,” ringisnya.
Hah! Alana ingat entah berapa kali semalam Dave melakukannya. Lelaki itu bagai seorang singa yang kelaparan dan baru mendapatkan mangsanya, mereka baru berhenti saat kesadaran Alana hampir tumbang. Kalau begini tidak ada yang salah kan bagaimana dulu dia berucap secara asal jika Dave masokis? Eh! Alana menutup mulutnya, merasa seperti kemakan ucapannya sendiri.
Alana membelit tubuhnya dengan selimut yang ditarik panjang. Nampak, Dave yang tertidur pulas di sebelahnya. Senyum cantik terbit di wajahnya lelahnya. Melihat wajah lelaki yang sejak dulu ia cintai, lelaki yang sejak dulu Alana harapkan untuk membalas perasaannya.
Alana merunduk membelai Dave dengan ujung jarinya.
Betapa bahagia rasanya tak terlukiskan kini. Manik mata hitamnya kini bahkan berkaca. Mengingat betapa berlikunya jalan cintanya. Pernikahan yang bermulai dari sandiwara kini menjadi sebuah cinta. Benar apa kata Dave? Tuhan tidak pernah salah menuntut mereka bertemu lalu menikah. Nyatanya ada sebuah fakta lain yang terungkap.
Menoleh ke arah jam di atas nakas, ini sudah pagi ia harus segera bangun menyiapkan keperluan sekolah Gala. Meski ada pelayan, Alana tetap harus memastikannya sendiri, bagaimanapun putranya itu belum terbiasa sama orang-orang di sini.
Tak ingin menganggu tidur suaminya, Alana langsung beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.
💞💞
Dave mengerjapkan kedua matanya kala merasakan sinar mentari masuk mengusiknya. Ia meraba sisinya, keningnya mengerut tak mendapati istrinya di sana.
__ADS_1
“Alana,” pekiknya. Ia langsung duduk dengan wajah terkejut. Sejenak merasa Dejavu pernah mengalami hal serupa. Di mana ia bangun dalam keadaan tanpa busana, dan tak mendapati Alana di sisinya. Namun, kesadarannya cepat pulih itu kejadian masa lalu. Sekarang mereka sudah sama-sama menerima dan memulainya dari awal.
Menoleh jam di atas nakas, di mana waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia menduga istrinya itu pasti sudah bangun. Namun, mengernyit memangnya tidak capek apa bangun pagi-pagi. Ia menoleh ke arah sofa di mana ada stelan pakaian kerja di sana. Ia tersenyum menduga jika itu istrinya yang melakukannya. Kalau begini sedikit menyesal mengapa tidak sejak dulu saja ia membangun rumah tangga yang sesungguhnya dengan Alana. Berapa banyak waktu yang sudah ia sia-siakan.
Sementara itu Alana tengah sibuk di dapur membuat kue bersama Grandma Ambar, yang datang pagi-pagi setelah selesai menyiapkan keperluan Gala. Akhirnya Gala pergi ke sekolah dengan di antar sopir dan Ibunya, karena Gala menolak ketika mau di antarkan salah satu pelayan di sana.
“Dave belum bangun, Alana?” tanya Grandma Ambar.
“Belum. Mungkin kelelahan ,” jawab Alana yang membuat Grandma Ambar menoleh ke arahnya, hingga tak sengaja matanya melihat leher cucunya yang tampak memerah. Siapa lagi tersangkanya jika bukan Dave.
“Oh, kayaknya sebentar lagi Gala mau punya adik ni,” godanya.
Ambar hanya tersenyum, jelas ia tahu apa yang terjadi dengan cucunya itu. Mengingat betapa kalutnya saat Alana meninggalkan Dave. Ambar bahkan memberi ultimatum tidak akan memaafkan Dave seandainya tak berhasil membawa Alana kembali. Nyatanya setelah pertemuan mereka, ada sebuah fakta yang membuat dirinya juga terkejut. Pantas saja dia begitu merasa dekat dengan Alana, karena tak lain perempuan itu ternyata anak kandung mendiang putrinya — Erlin. Meski begitu, Ambar juga menyayangi Dave layaknya cucu kandung sendiri.
“Sayang, kok bangun duluan sih. Padahal kan kita masih bisa mengulang yang semalam.” Dave tiba-tiba datang melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alana.
“Dave?” desis Alana mencoba melepaskan pelukan suaminya. Demi apapun ia merasa malu dengan ucapan suaminya tadi yang pasti di dengar jelas oleh Grandma Ambar.
Bukannya melepaskan Dave justru meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya, dan memberi kecupan di sana.
__ADS_1
“Dave ih.. Ada Grandma!” bisik Alana penuh tekanan. Sontak kedua mata Dave langsung membeliak, mengurai dekapannya.
“Grandma,” cicitnya malu.
Ya Tuhan! Bisa-bisanya ia tidak sadar jika di sana ada orang lain selain istrinya. Ia pikir hanya ada Alana di sana. Ternyata tubuh Ambar terhalang oleh Alana.
“Bagus ya. Udah berhasil bawa istrinya pulang, tapi gak bilang-bilang ke Grandma! Huh!”
“Bukan Grandma, semalam kami baru pulang. Nah niatnya pagi ini mau telpon Grandma gitu, eh ternyata Grandma sudah datang sendiri,” jelas Dave kini beralih mendekat perempuan baya itu. Namun, Ambar pura-pura merajuk.
“Grandma semakin cantik,” puji Dave yang langsung mendapatkan tabokan dari perempuan itu, tertawa kecil lalu memeluk Grandma, satu-satunya orang yang selalu menyayanginya sejak kecil dengan tulus.
“Dasar cucu nakal.” Ambar mengusap punggung Dave. Alana hanya tersenyum berlalu menuju oven untuk memanggang kue yang sudah ia buat.
“Grandma udah maafin aku kan?” tanya Dave kemudian.
“Grandma tidak pernah bisa marah sama kamu, Dave.”
“Grandma memang terbaik!”
__ADS_1