
Keesokan harinya, Dave dan Alana kembali ke rumah sakit berniat mendengar penjelasan Jonas, tentang kerumitan hidupnya. Sementara Ibu Ratmi masih sering mengamuk.
Untuk sementara, Gala bersama dengan Silvi. Beruntunglah sahabatnya itu dengan sigap membantu menjaga putranya. Sebenarnya bisa saja Dave meminta pelayan, namun karena Gala belum mengenalnya tentu saja menurutnya itu bukanlah pilihan yang baik.
Keduanya menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan was-was. Ada rasa takut dan cemas yang terselip dalam dadanya. Dave terus menggenggam tangan istrinya.
“Dave, aku takut jika—”
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja, Alana.”
Alana menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia menutupi kegundahan hatinya. Sementara sejak kemarin ia sudah memikirkan hal ini, merasa takut jika apa yang ia takutkan adalah nyata. Lalu, bagaimana bisa sang suami bisa setenang itu dalam pemikiran kalutnya.
Mereka tiba di depan ruangan Jonas. Ketika Dave membuka pintu, sontak kedua orang yang berada di sana langsung menatap ke arahnya.
“Sudah, Ma. Aku sudah kenyang,” tolak Jonas ketika istrinya kembali mengulurkan makanannya.
“Baiklah!” Gizka meletakkan sisa makanannya di atas nakas, kemudian mengambil air mineral, membantu sang suami untuk menegaknya pelan.
Alana dan Dave berjalan mendekati ranjang Jonas. “Pa, bisakah—”
Jona mengangguk menoleh ke arah istrinya. “Bisa tinggalkan kami bertiga, Ma.”
Gizka mengangguk. “Tentu!”
Sepeninggal Gizka ruangan itu kini menjadi mencekam. Alana terus menunduk meremas kedua tangannya yang terasa dingin. Sementara tatapan Jonas terus mengarah pada keduanya, matanya berkaca-kaca seperti menyiratkan sebuah penyesalan dan kerinduan yang terdalam.
Dave membawa istrinya untuk duduk di kursi sisi ranjang Jonas. “Pa, yang kemarin itu, yang Papa katakan padaku, apakah itu benar? Aku bukan—”
__ADS_1
“Iya benar! Kau bukan putraku, Dave. Melainkan putranya Ibu Ratmi dan Arman—suaminya.”
Deg!
Mereka berdua terhenyak. “Jadi, aku dan Alana itu sau—”
“Bukan!” sela Jonas kemudian. Lelaki setengah baya itu menatap ke arah Alana. “Dia putriku,” lanjutnya.
Alana sontak menatap ke arah lelaki di depannya kini. Mulutnya terbuka ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, di sisa rasa tak percayanya. Jonas tergugu mulai menangis. “Alana... Putriku yang malang. Kelahirannya sama sekali tidak di inginkan oleh keluarga kami, termasuk Ibu kandungnya sendiri.”
Nafas Alana terasa tercekat, di sisa keterkejutannya, kalimat Jonas tentang fakta sesungguhnya kembali menghantam dadanya. ”Apa yang terjadi?” tanya Alana lirih. Entah ia harus senang mendengar kenyataan ini atau sedih. Ia merasa lega mendengar jika ia dan suami ternyata bukanlah saudara, namun ia merasa sedih mendengar jika sang Ibu pun tidak menginginkannya. Apakah seburuk itu dirinya. Mengapa banyak orang yang tidak menginginkan kehadirannya?
Jonas mulai bercerita masa lalunya.
Rumah Sakit Internasional, Jakarta
“Selamat Tuan, Nyonya. Anak kalian lahir dengan selamat dengan jenis kelamin perempuan,” terang Dokter.
“Tidak!!” teriakan itu menggema. Bukan dari bibir Jonas melainkan dari Erlin. Perempuan yang barus saja melahirkan.
“Tenanglah sayang. Tidak apa-apa, laki-laki dan perempuan itu sama saja.”
“Tapi, tidak bagi keluarga kita, Mas. Apa yang akan aku katakan pada Papa. Aku sudah mengatakan jika anakku laki-laki. Agar semua warisannya diberikan pada kita. Jika Papa sampai tahu anak kita perempuan, kita akan menjadi miskin, Mas. Aku tidak mau!”
“Kita bisa mempunyai anak lagi nanti?” Jonas masih mencoba menenangkan istrinya.
Erlin menggeleng. “Itu tidak mungkin, Mas. Kamu tahu kan sepuluh tahun aku menantikan kehamilan ini.”
__ADS_1
Jonas memandang wajah putrinya yang menangis dengan kencang dalam gendongan suster. Bayi itu bahkan masih merah, masih belum mengerti apapun tentang dunia ini.
“Tolong cari apapun, Mas. Agar Papa tetap bisa memberikan warisan itu pada kita. Aku tidak peduli cara apapun. Entah kamu harus menukar bayi kita, atau bagaimana.”
Jonas tersentak mendengarnya. “Erlin. Kamu sadar apa yang kamu katakan? Dia putri kita, darah daging kita. Bagaimana—”
“Tidak ada cara lain lagi, Mas. Papa akan datang besok.”
💞
💞
💞
💞
💞
Oke tahan dulu..
Next masih ada sambungannya.. Tapi aku bobo dulu.
Jangan lupa di like, komentar, hadiah, dan votenya ya.
Ini konflik terakhir kok. Udah kasihan aku sama mereka. Mau berduaan aja susah banget.
Mau promo novel orang.. eh maksudku teman.. mampir ya teman-teman 😍
__ADS_1