
Mobil Pajero milik Dave keluar dari pekarangan mewah mansion utama. Alana dan Dave duduk di belakang kursi kemudi, di mana Zain yang menyetir. Sepanjang jalan Zain terkadang akan melirik ke belakang, saat merasa hanya keheningan yang tercipta.
Alana sibuk menatap pohon Cemara, sementara Dave sibuk dengan tablet di tangannya.
"Alana?" tegur Dave pelan.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah lelaki itu. "Ya?"
"Aku minta maaf soal kejadian di mansion utama tadi. Maafkan aku, karena tanpa sengaja aku telah mengatakan dirimu kampungan!" tutur Dave dengan gurat wajah penyesalan.
Alana tersenyum tipis. "Tidak apa. Aku tidak masalah dengan kejadian itu, bagiku mendapatkan hinaan seperti itu sudah menjadi makanan hari-hariku."
"Sebagai imbalannya kau boleh meminta apa aja padaku Alana, asal itu masih batas yang wajar. Kecuali cinta!"
"Tidak ada yang aku inginkan saat ini," sahutnya kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. "Aku hanya tidak menyangka jika ternyata Edo adalah adikmu. Empat tahun aku menjalin hubungan dengannya, aku sama sekali tidak tahu apapun. Ternyata selama ini aku sama sekali tidak mengenalnya," sambungnya kemudian seraya tersenyum getir. Pertemuannya dengan Edo di mansion utama tadi sama sekali di luar dugaannya.
"Maaf, aku tidak memberitahu kamu. Karena aku pikir itu sama sekali tidak penting," balas Dave.
Alana tertawa kecil. "Apakah aku harus percaya?" tanyanya seraya menoleh ke arah Dave. "Ku pikir... Kau memang sengaja melakukan hal ini."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Oh... Ayolah Tuan Dave. Siapapun yang melihatnya sikapmu tadi, itu bisa menyimpulkan hubungan kau dengan Edo itu memang tidak baik. Jadi, bolehkah aku berkesimpulan jika kau pun tengah memanfaatkan aku," tukas Alana.
Dave menghela nafasnya. "Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Sedangkan aku tidak peduli tentang Edo. Aku tetap memperlakukan dia seperti saudara, aku membantu lancar bisnis showroom mobilnya. Memberikan modal dan investasi yang cukup besar. Aku hanya tidak menyukai ibunya... Kau lihat bagaimana sombongnya perempuan itu."
Alana terdiam kembali mengingat sikap Gizka tadi yang begitu cari muka pada Jonas.
"Oh ayolah Alana. Bukan tentang itu juga aku mengajakmu menikah. Hal yang pertama aku lakukan demi menghindari perjodohanku dengan Natasha. Lagian apa salahnya, bukankah kita sama-sama untung, dengan kau tau siapa aku bagi Edo. Kau dengan mudah membalas rasa sakit hatimu. Aku sudah berjanji akan memberikan apapun padamu, asal itu dalam batas yang wajar, kecuali cinta."
Alana terdiam mencerna ucapan Dave. Mengingat kembali serangkaian isi surat perjanjian pernikahan keduanya. Di mana di sana tertulis jika Dave akan memberikan apapun untuknya, kecuali hatinya. Lelaki itu bilang hatinya sudah dimiliki oleh seseorang, yang mungkin suatu saat akan kembali.
"Lupakan soal itu. Aku cuma mau bilang, jika Natasha itu memiliki sifat yang keras. Ia akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Jadi, aku yakin ia tidak akan menyerah semudah ini," sambung Dave.
Alana menghela nafasnya. Rasanya ia sudah lelah bekerja menjadi seorang sales seperti ini, kadang menggaet customer ini tidak mudah. Apalagi untuk barang yang harganya fantastis seperti ini. Belum lagi jarak dari rumah Dave ke kantornya itu terasa lebih jauh. Alana bahkan harus berangkat pagi-pagi. Sebenarnya bisa saja ia mengundurkan diri, memanfaatkan posisinya menjadi istri Dave. Toh lelaki itu akan melakukan apapun. Tapi, bagi Alana bekerja adalah rutinitasnya. Apalagi kala mengingat pernikahannya hanyalah sebuah kontrak, bagaimana mungkin ia hanya berdiam diri dan berhura-hura. Bukankah dibandingkan di hanya bersikap seperti itu, akan lebih baik jika ia bekerja. Ia juga harus memikirkan kehidupan selanjutnya setelah kontrak pernikahannya dengan Dave berakhir.
"Apa posisimu di kantor tempatmu bekerja?" tanya Dave semalem.
"Sales marketing. Sebenarnya aku bosan dan ingin naik pangkat," jawab Alana seraya tertawa. "Tapi aku sadar diri, mengingat pendidikanku yang hanya D3 mana mungkin aku berani mengajukan posisi yang lebih tinggi."
__ADS_1
Dave terdiam. "Perlu bantuan?" tawarnya.
Alana menggeleng. "Tidak!"
"Atau kau mengundurkan diri saja dari pekerjaanmu. Toh jarak dari rumahku ke kantor kan jauh!"
"Mana mungkin begitu. Meski kita suami istri tapi hanya sebatas kontrak, aku juga harus memikirkan kehidupanku setelah kontrak pernikahan kita berakhir."
"Bukankah aku akan memberikan mu apa saja. Aku jamin uangmu tidak akan habis, setiap bulannya akan ada uang masuk ke rekeningmu nanti."
Puk! Puk!
Tepukan tangan di pundak Alana, menyadarkan ia dari lamunannya.
"Fara? Ngagetin aja!" tukas Alana.
Fara hanya terkekeh. "Lagian pagi-pagi udah ngelamun. Kamu dipanggil Pak Bram suruh ke ruangannya."
"Ada apa?" tanya Alana penasaran.
__ADS_1
Fara mengedikkan kedua bahunya. "Mana aku tahu."
Alana terdiam berpikir bingung. Akhirnya tak urung ia pun berlalu pergi ke ruangan Bram.