Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kisah Kita Telah Usai


__ADS_3

Tak sekalipun, aku menyesal telah mengenalmu. Hanya saja mengapa peranku begitu samar dalam kisahmu?


...Alana Jovanka...


đź’žđź’žđź’ž


“Aku mencintaimu,” gumam Dave sangat lirih. Bahkan bisa dipastikan Alana tidak akan mendengar, perempuan itu terus larut dalam tangisnya. Ia beringsut menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Alana memiringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Dave yang saat ini tertidur dengan sangat lelap usai pergulatan panas itu terjadi.


Ia mengigit selimutnya, dan kembali terisak. Meratapi nasibnya yang menyedihkan.


“Dave, mengapa begini? Bukankah semua akan berakhir?”


Pikiran Alana berkecamuk, menyesali diri yang tak berdaya ketika dihadapan dengan lelaki itu.


“Tuhan, mengapa kau membiarkan cinta ini tumbuh semakin besar. Membuatku merasa tak berdaya. Aish! Mengapa aku begitu terlihat murahan.”


Alana mencoba meredakan tangisnya dalam lara. Menekan rasa sesak di dadanya. Bukankah menyesali diri pun sudah tidak berguna. Ia sendiri yang membiarkan Dave merenggut kesuciannya.


Tiga puluh menit kemudian, Alana merasa sudah cukup untuk menuntaskan tangisnya. Dengan pelan, ia mulai beranjak dari tempat tidurnya. Ketika ujung kakinya menyentuh dinginnya lantai, Alana meringis merasakan nyeri pada pusat intinya. Ia menoleh ke arah Dave, tampak lelaki itu sama sekali tidak terusik. Dave tertidur seperti seseorang yang dalam pengaruh obat bius.


Kini, dengan pelan dan langkah tertatih Alana berjalan menuju kamar mandi. Satu-satunya cara untuk meredakan nyerinya hanyalah berendam air hangat di bathub.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Alana merasa sudah cukup lebih baik. Ia menyudahi aktivitas mandinya. Keluar dari kamar mandi, ia mengambil pakaian gantinya. Tak lupa membereskan pakaian Dave yang berserakan di lantai, juga handuk miliknya sebelumnya. Alana meletakkan pakaian Dave tepat di atas ranjang.


Kemudian, ia mendudukkan dirinya di kursi depan meja rias mengambil satu lembar kertas putih dan bolpoin. Alana mulai menuliskan sesuatu di sana, tubuhnya tampak gemetar seiring dengan kata demi kata yang ia luapkan di sana.


Setelah selesai, ia menghapus air matanya. Lalu meletakkan kertas putih itu tepat di atas beberapa dokumen penting yang sudah ia persiapkan untuk Dave.


Kemudian, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


[Bisakah kau membantuku. Tolong jemput aku di depan gerbang rumah Dave.]


Setelahnya memastikan pesannya terkirim dan sudah di baca.


[Tentu saja] balasnya.


Dia bukan kekasihku, tapi dia istriku.


Alana melepaskan cincin itu, lalu mengecupnya dengan pelan. Setelahnya ia meletakkan cincin itu tepat di atas kertas dan tumpukan dokumen.


Alana melirik pada jam di atas nakas. Di mana waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, ia yakin penjaga gerbang pun pasti tengah tertidur. Ini kesempatan yang bagus untuk segera pergi dari sana. Sungguh, ia merasa sudah tidak mampu jika harus menunggu esok hari. Akan seperti apa tanggapan Dave padanya, ia sama sekali tidak bisa membayangkan. Sudahlah ia tetap harus sadar diri, jika statusnya hanyalah sebatas istri bayaran.


Ting!

__ADS_1


Sebuah pesan dari ponselnya masuk.


[Aku sudah di depan. Katakan padaku, aku harus apa?]


[Diamlah di situ. Biar aku yang keluar] balas Alana.


Alana beranjak dari tempat duduknya, ia mendekati suaminya yang tampak terlelap. Menatapnya dengan pandangan sendu. Kemudian tanpa di sangka ia membungkukkan tubuhnya, lalu mengecup pelan kening lelaki itu.


“Anggaplah ini sebagai salam perpisahan. Selamat tinggal, Dave.”


Alana berbalik, mengambil koper miliknya. Menyeretnya menuju pintu. Langkah kakinya terasa berat, ia kembali menoleh ke belakang, menatap tubuh suaminya untuk yang terakhir kali. Kedua matanya kembali menyapu ruangan yang menjadi saksi bisu pergulatan panas dengan suaminya, juga tempatnya untuk beristirahat selama satu tahun ini.


“Terima kasih untuk semuanya, Dave.”


Setelah itu, Alana membuka pintu kamarnya. Lalu keluar dari sana menutup pintunya dengan pelan.


Ia melangkah menuju lift untuk membawanya turun. Rasanya tubuhnya terasa lemas ia hampir tak mampu untuk melewati tangga.


Setelah sampai di bawah, Alana terus menyeret kopernya keluar dari rumah Dave. Tampak halaman rumah Dave terlihat begitu sunyi. Tak jauh darinya terlihat mobil-mobil mewah milik suaminya berjejer sangat rapi.


Alana memandang rumah suaminya dengan sendu, menyentak nafasnya berkali-kali. Tersenyum masam mana kala mengingat berbagai kenangan bersama Dave di dalam sana.

__ADS_1


Setelah di rasa puas, ia kembali berbalik menarik kopernya menuju pintu gerbang, di mana di sana sudah terlihat sebuah mobil yang menjemput dirinya. Beruntunglah beberapa hari terakhir Dave jarang meminta penjaga untuk mengunci pintu gerbangnya, hal itu membuatnya mudah untuk segera pergi. Bahkan penjaga pun tampaknya tengah terlelap di dalam posnya.


“Selamat tinggal, Dave. Semoga kamu bahagia dengan Jessica,” kata Alana untuk yang terakhir sebelum ia masuk ke dalam mobil.


__ADS_2