Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Alana Panik


__ADS_3

“Paman, aku ingin menekan tombolnya.” Gala menggoyangkan tangan Dave menunjuk ke arah tombol lift.


“Oke.” Dave langsung mengangkat sedikit tubuh Gala untuk menekan tombol itu.


Ting


Pintu lift terbuka, Gala langsung tersenyum senang. “Wahh... Langsung terbuka Paman.”


“Hem... Ayo kita masuk!” ajak Dave menggiring Gala masuk ke dalam. Ketika berada di lift tangan mungil Gala tak lepas dari genggaman tangan Dave.


Gala terdengar sangat senang. Ia terus bernyanyi meskipun kadang liriknya tak jelas, dan Dave tak memahami lagu apa yang ia nyanyikan. Tetapi, melihat anak itu terlihat bahagia, Dave pun merasa bahagia. Bibirnya tak hentinya membentuk lengkung senyuman yang memancarkan kebahagiaan.


Gala terus bernyanyi, kepalanya bergerak kesana-kemari kemari, sambil mengayunkan tangan Dave. Meskipun terdengar begitu bising, Dave sesekali terkekeh gemas.


“Kau terlihat bahagia sekali,” seru Dave ketika Gala sudah berhenti bernyanyi.


“Tentu saja, Paman. Ini pertama kalinya aku masuk ke gedung tinggi seperti ini,” sahut Gala antusias.


“Benarkah?”


Gala mengangguk. “Iya, Paman. Mamiku juga kerja di gedung tinggi seperti ini sih. Tapi, aku belum pernah diajak kesana. Mungkin saja bos Mamiku galak, makanya Mami takut membawaku ke sana,” celotehnya.


Dave menoleh, lalu menunduk tepat di hadapan Gala. ”Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu? Bisa jadi, Mamimu bekerja karena tidak ingin diganggu.”


Gala terdiam seperti tengah mencoba mengingat. “Aku pernah lihat Mami diam-diam menangis pas pulang kerja.”


Dave terdiam, mencerna ucapan Gala dengan baik. Tetapi, belum sempat Dave menanggapi, pintu lift terbuka. Segera ia menggiring Gala keluar dari sana.


Kedatangan Dave dan Gala, di sambut oleh Nara.


“Istriku belum kembali?” tanya Dave.

__ADS_1


“Belum tuan, kemungkinan belum membaik,” jawab Nara. Perempuan itu menatap Gala, lalu mengerutkan keningnya. “Tuan, dia siapa? Putranya ya?” tanya Nara antusias kala melihat tatapan gala yang begitu kagum pada ruangan itu.


“Ini Gala. Tadi aku—”


“Wahh... Dia sangat mirip dengan anda, Tuan. Hanya bola matanya yang mirip dengan Nona Alana.”


“Benarkah?” tanya Dave.


“Iya Tuan soalnya—”


“Paman, di mana ruang kerja Paman? Aku ingin melihatnya.” Gala tiba-tiba memotong ucapan Nara.


Perempuan itu langsung tertegun mendengar anak kecil itu hanya memanggil Dave dengan sebutan paman. Itu artinya Dave bukanlah Ayahnya, tapi kenapa begitu mirip.


“Oh iya. Ya udah ayo masuk.” Dave membawa Gala masuk ke dalam ruang kerjanya.


Ketika pintu terbuka, menatap luasnya ruang kerja Dave. Bola mata Gala berbinar, apalagi saat melihat pemandangan luar dari dalam. Ia langsung berlari masuk, mendekati sofa dan melepaskan sandalnya. “Paman aku boleh naik kan?”


Setelah mendapatkan ijin. Gala langsung melepaskan sandalnya, naik ke atas sofa dan melompat-lompat di sana. Dave tersenyum dalam diam ia mengamati wajah Gala. Memikirkan ucapan sekretarisnya tadi.


Di rasa sudah cukup. Gala menghentikan aksinya. Turun dari sofa ia menghampiri Dave. “Paman bolehkah aku minta kertas dan pensil?”


”Oke.” Dave langsung memberikan apa yang anak itu minta.


💞💞💞


Sementara itu, Alana yang baru saja membuka kedua matanya. Langsung meraih ponselnya yang sejak tadi terus berdering di atas nakas.


“Ibu?” gumamnya. Keningnya mengerut mendapati Ibunya tiba-tiba menelepon di jam kerja seperti ini. Namun, tiba-tiba perasaannya tidak enak.


Alana langsung menerima panggilan itu. Namun, belum sempat itu bersuara. Ucapan dan tangisan Ibunya langsung mengejutkannya.

__ADS_1


“Alana, maafkan Ibu. Gala menghilang entah ke mana?”


Deg!


Alana langsung terkejut, tubuhnya langsung melemas, seolah bumi yang saat ini ia pijak pun hancur. Seluruh sarafnya langsung melemas, dan perlahan air matanya menetes, rasa panik dan takut jelas melanda, lalu dengan gemetar ia kembali bersuara.


”Ba—bagaimana bisa, Bu?”


Ibu Ratmi menceritakan kejadiannya, ia juga mengaku salah telah lalai menjaga Gala. Sangking khusyuknya berdoa, ia sampai tidak sadar cucunya pergi.


“Ibu tenanglah, aku akan mencarinya. Sekarang aku akan kesana, tapi aku harus ijin Dave dulu.” Alana langsung mematikan teleponnya. Dengan buru-buru ia langsung turun dari ranjang, kemudian berlari keluar dari ruangan itu. Tak peduli akan panggilan perawat yang sejak tadi disuruh menjaganya oleh Dave.


Alana terus berlari menuju lift. Apapun yang terjadi ia harus kembali menemukan Gala. Dengan rasa takut Alana memandang was-was jalannya pintu lift yang turun.


Beberapa detik kemudian, lift berhenti tepat di lantai di mana ruangan Dave berada. Alana langsung berlari menuju ruangan Dave.


“Al—” Nara tak melanjutkan ucapannya melihat langkah Alana yang tergesa-gesa. ”Ini ada apa sih?” gumamnya.


Brak!!


Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Nafas Alana naik turun. Hal itu membuat penghuni ruangan itu seketika menoleh, baik Dave maupun Gala yang saat itu tengah sibuk di meja dekat sofa.


“Dave, aku mau minta—”


“Mami?”


Alana terkejut mendapati Gala berada di sana.


“Ga—gala...”


Anak itu langsung berlari menghambur memeluknya. Seketika tubuh Alana terpaku, mana kala matanya tak sengaja bertatapan dengan manik mata hitam tajam milik Dave.

__ADS_1


__ADS_2