Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Beri Aku Upah


__ADS_3

Alana tersenyum membaca chat dalam ponselnya, hal itu membuat Dave heran melihatnya. Lelaki itu bahkan sampai menghentikan gerakannya mengusap rambut putranya yang baru terlelap. Malam ini Gala meminta tidur bersama orang tuanya.


“Chat siapa?” tanya Dave ingin tahu.


Alana menoleh dan tersenyum, kemudian menunjukkan isi chatnya pada sang suami. Rasa ingin tahu yang sejak tadi hinggap, berganti rasa kesal.


“Bisa-bisanya dia ngidam ingin mencubit pipiku, dia kira aku bayi apa!” dengus Dave. Wajahnya langsung berubah kesal begitu mendapati pesan dari Natasha di ponsel istrinya, perempuan itu juga tengah hamil tiga bulan, dia bilang ngidam ingin mencubit pipi Dave, mungkin karena anaknya merasa dendam karena Ibunya pernah ditolak oleh lelaki itu.


Alana terkekeh. “Lucu ya, sayang?” serunya.


Dave hanya tersenyum masam, dalam hati mengancam Natasha, awas saja jika tiba-tiba datang mencubit pipinya. Dave beranjak menjuntaikan kakinya ke lantai, kemudian memutar tubuhnya mendekati istrinya.


“Kenapa sayang?” tanya Alana heran, karena Dave bukannya merebahkan tubuhnya, justru duduk di depannya. Lelaki itu melirik segelas susu Ibu hamil yang masih utuh belum tersentuh. Padahal sudah sekitar sepuluh menit yang lalu Dave membuatkannya. Namun, Alana tak kunjung juga menghabiskannya. Hal inilah yang membuatnya khawatir saat dirinya pergi namun tak bisa langsung pulang, istrinya kerap menunda-nunda waktu minum susu dan vitamin.

__ADS_1


”Katakan padanya jika aku tidak mau memenuhi ngidamnya. Biarkan saja anaknya ileran, anggap saja aku memberi pelajaran karena dulu ia membantu menyembunyikan dirimu dariku, sayang.” Dave berkata seraya mengambil alih ponsel di tangan istrinya.


Alana hanya melongo mendengarnya. “Kasihan sayang. Bagaimana jika itu aku yang ngidam begitu. Kau kan tahu dia banyak membantu aku saat itu,” protes Alana.


Dave meletakkan ponsel istrinya di atas nakas. “Ngidammu beda sayang. Cukup cium aku aja seratus kali. Ngidam elit,” celetuknya.


Alana memijat perut suaminya, membuat lelaki itu meringis juga menahan tawanya. “Itu bukan elit, tapi mesum,” dengusnya.


Dave terkekeh geli melihat raut kesal istrinya yang terlihat menggemaskan. Tangannya beralih mengambil segelas susu yang ia buat tadi. “Udah ngembeknya, Mami. Sekarang waktunya minum susu, terus tidur!” titah Dave.


Dave tersenyum simpul, mengambil gelas kosong di tangan istrinya, meletakkan ke tempat semula. Kemudian mencondongkan wajahnya. “Kalau begitu beri aku kecupan, sebagai upahku,” pintanya.


Alana melengos. “Kecupan bagimu itu gak ada artinya sayang. Ujung-ujungnya juga lebih. Lihatlah ada putramu,” tunjuk Alana.

__ADS_1


Dave mengangkat kedua alisnya, melihat istrinya hendak berbaring, tanpa di sangka ia menarik tubuh perempuan itu lebih dulu, lalu membungkam bibirnya dengan ciuman.


Alana hendak memberontak namun usahanya sia-sia, mana kala sang suami me lu mat dan menyesapnya semakin dalam. Di saat ia merasakan istrinya hampir kehabisan nafas, Dave melepaskan ciumannya, menyatukan keningnya dengan kening istriku.


“Terima kasih,” katanya dengan senyum tipis kepuasan.


Alana terkekeh. ”Curang, selalu pandai mengambil kesempatan.”


Dave tergelak lucu. Beranjak dari tempat duduknya, “Tidurlah waktu sudah beranjak malam sayang.” Dave menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, kemudian ia membungkuk memberi kecupan di dahi Alana.


“Mau ke mana?” tanya Alana memegang tangan suaminya yang hendak berbalik pergi.


“Ruang kerja. Sebentar saja sayang, tiga puluh menit. Hanya mau ngecek file yang dikirimkan Zain.”

__ADS_1


Alana melepaskan genggamannya. “Baiklah.”


__ADS_2