
“Bagaimana Alana? Pemandangan di depan sana, sudah menunjukkan tempat di mana seharusnya kamu berada kan,” kata Gizka yang entah bagaimana tengah berada di sana. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sangat bahagia.
“Mengapa harus risau. Ini tempat umum siapapun bebas bertemu dan makan bersama. Apalagi suamiku itu seorang pembisnis, bukankah rekan kerjanya banyak. Aku lebih mempercayai suamiku dibandingkan anda, wahai ibu mertua!” balas Alana tenang.
“Kenapa kamu tidak mengakhirinya saja? Itu akan lebih mudah untuk meringankan langkah kakimu?”
Alana tersenyum, meski hatinya perih. Namun, ia tidak ingin perempuan di depannya ini tahu keadaan sesungguhnya. Gizka hanya perlu tahu, jika ia bukanlah perempuan lemah.
“Mengapa aku harus mendengarkan saranmu, ibu?”
“Dave tidak mungkin menyerahkan hatinya, pada perempuan seperti dirimu. Saya tahu kamu bukan seleranya. Lihat saja perbandingan dirimu dan Jessica, sangat jauh. Kau harusnya introspeksi diri Alana.”
Alana tersenyum melipatkan kedua tangannya di dada. Menatap Ibu tiri Dave dengan tenang.
“Kami menjalani hubungan yang halal, yang saya yakin bahkan Jessica belum memahaminya. Begitupun dengan anda ibu mertua, saya yakin anda pun mungkin tidak sepenuhnya paham arti pernikahan sesungguhnya. Hubungan kami sangat dekat, tanpa sekat dan tidak berjarak. Kami bukan sepasang kekasih, yang segala bentuk kedekatan harus melewati sebuah pertimbangan. Kami pasangan suami istri yang bebas melakukan apa saja. Jangan lupakan, jika ada ikatan yang jelas antara saya dan Dave. Begitu juga antara mereka, yang berdekatan harus ada jarak.”
Perkataan Alana membuat Gizka seketika bungkam tak dapat berkata-kata.
“Maaf, ibu mertua. Saya harus pergi.” Alana beranjak meninggalkan Gizka.
Gizka berdecak pinggang, setelah kepergian menantunya itu. Perkataan Alana mampu memukul telak di dadanya.
“Sial! Aku pikir Alana akan marah-marah. Tak ku sangka perempuan itu jauh lebih cerdik memukul telak lawannya!”
Mobil yang Alana kemudikan tiba di depan rumah, ia segera memarkirkan mobilnya di garasi. Sekitar sepuluh menit tiba di sana. Namun, Alana tak kunjung membuka matanya. Ingatannya kembali melayang akan kejadian yang lihat tadi, juga perkataan ibu mertuanya. Alana menyentak nafasnya berkali-kali, menjatuhkan keningnya tepat di kemudi.
__ADS_1
Tok! Tok!
“Nona, anda baik-baik saja!”
Pintu kaca mobilnya diketuk, di susul dengan suara Udin terdengar. Segera ia membuka kaca mobilnya.
“Aku baik-baik saja. Aku akan keluar,” sahutnya kembali menutup kaca mobilnya. Dan tak lama ia pun keluar dari dalam mobilnya.
“Saya pikir tadi anda pingsan,” keluh Udin menghela nafas lega.
Alana terkekeh geli. Lalu mengulurkan satu kantong kresek entah apa isi dalamnya. “Untukmu dan yang lain.”
“Apa ini Nona.”
“Terima kasih, Nona.”
Alana mengangguk dan berlalu masuk ke dalam. Meninggalkan Udin yang tersenyum kesenangan.
💞💞
Alana mengaduk-aduk semangkok mie ayam di hadapannya. Sesekali menggulungnya dengan sumpit di tangannya. Namun, rasanya ia enggan untuk memasukkan ke dalam mulut. Bukan karena rasa mie ayamnya yang tak enak. Dari aromanya saja, ia bisa tahu jika mie ayam itu enak. Hanya saja suasana hatinya yang memburuk, membuat selera makannya hilang.
Patah hati boleh. Tapi, lupa makan.. Jangan.
Alana, terkekeh geli ketika mengingat pesan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Apakah jika hanya dipandang mie-nya akan berubah jadi bebek panggang, Alana?” tegur Dave tiba-tiba. Alana langsung menoleh terlihat Dave melangkah ke arahnya dengan membawa boks dengan merek restoran yang tadi sempat ia kunjungi.
“Dave. Tumben sudah pulang?” balas Alana.
“Ya pekerjaanku selesai lebih cepat.” Dave mengulurkan boks di tangannya padanya. “Tapi kemungkinan beberapa hari ke depan. Aku akan lebih sibuk lagi. Aku harus segera mengecek lokasi proyek dengan perusahaan Adiyaksa,” sambungnya.
Alana mengangguk tersenyum, menatap bok di depannya. “Untukku?”
Dave mengangguk. “Iya. Tadi aku meeting sama klien di restoran mekdi. Karena aku ingat kamu suka burgernya. Jadi, aku bungkusin. Di situ juga ada kentang gorengnya. Kalau kamu sudah kenyang makan aja kentangnya. Masih hangat kok, kebetulan aku pesannya sebelum mau pulang.”
Dave membuka jasnya, lalu melonggarkan dasinya.
“Makasih ya, Dave.”.
Dave mengangguk, lalu mengusap pucuk rambut Alana. “Makanlah. Aku akan kembali ke kamar membersihkan diri.”
“Dave?” tegur Alana menghentikan langkah kaki lelaki itu.
“Ada apa, Alana?”
Alana terdiam sejenak, seperti tengah memikirkan sesuatu. Membuat Dave heran. Namun, detik kemudian perempuan itu menggeleng. “Tidak... Aku hanya mau bilang terima kasih.”
Dave terkekeh. “Kau sudah mengatakannya tadi.”
“Oh iya,” jawab Alana malu.
__ADS_1