
Namun, Silvi hanya bergeming malas. Tanpa berniat untuk membalas tatapan lelaki itu.
“Jawab aku, Vi!”
Silvi menoleh pada lelaki itu. Untuk sejenak mereka beradu pandang, sebelum kemudian ia kembali membuang pandangannya. “Apa yang harus ku jawab. Bukankah kamu sudah melihat semuanya.”
Zain mengepalkan kedua telapak tangannya, hingga nyaris memutih. “Jadi, kamu mau bilang kalau, kalau kamu menikmati perlakuan lelaki hidung belang tadi?” desaknya.
Silvi hanya tersenyum getir, tanpa berniat menjawab.
“Dia lelaki tua dan menjijikkan, dan bahkan aku yakin dia tidak akan lama lagi bertahan dengan umurnya itu! Sekali tebas dia pasti akan langsung tewas!” sambungnya mengejek. Kekesalan masih terlihat jelas di wajah tampan lelaki itu.
Untuk sejenak Silvi sampai melongo mendengar penuturan lelaki itu.
“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanya Zain kali ini nadanya lebih lembut tak seperti tadi. Kepalan tangannya perlahan mulai memudar, dia meredam gejolak emosi yang masih tersisa. Ia tidak ingin membuat gadisnya itu takut.
Gadisnya? ya Tuhan. Betapa egoisnya dia. Sejak kapan dia bisa tergila-gila pada seorang perempuan sampai seperti ini.
__ADS_1
”Apa yang harus ku jawab, Zain? Bukankah kamu selalu percaya dengan apa yang sudah kamu lihat.” Silvi menjawab dengan tenang. Ia mencoba melepaskan dari kungkungan kedua tangan Zain yang menyudutkan ke tembok. “Lepaskan aku, Zain!” sambungnya meminta.
Zain menggeleng dengan cepat. “Tidak!”
Silvi menghela nafasnya. “Ayolah Zain. Biarkan aku kembali bekerja. Kau pulanglah, tempat seperti ini itu tidak cocok untuk orang sepertimu!”
Zain melongo mendengarnya. Ya Tuhan... Apa gadis itu tengah menceramahi dirinya, seolah Zain adalah anak gadis yang polos yang tak boleh kelayapan dalam club' itu.
“Kamu pikir aku mau membiarkan kamu kembali ke tempat menjijikkan seperti itu? Dan membiarkan para mata lelaki hidung belang menikmati tubuhmu. Huh! Jangan harap!” kata Zain tak suka.
“Karena itu aku tahu. Tempat ini tidak tidak cocok untukmu. Jadi, pergilah! Biarkan aku kembali bekerja.”
Silvi berusaha melepaskan tangan Zain. Namun, lelaki itu justru merengkuh pinggang rampingnya. Merapatkan tubuhnya.
“Kamu itu maunya apa sih, Zain!” teriaknya menahan kegugupannya. Kala melihat kedua mata lelaki itu menatap inci wajahnya. Dalam hati ia berharap Zain tak mendengar debaran jantungnya yang terasa begitu kencang. “Zain!!” ia kembali memanggil seolah ingin menyadarkan lelaki itu.
“Tidak ada.” Untuk sejenak mereka terdiam hanya saling pandang. Zain mengulas senyumnya. Sebuah senyum yang tak pernah Silvi lihat sebelumnya. “Aku cuma mau kamu aja,” sambungnya kemudian.
__ADS_1
Dalam sejenak Silvi aliran darahnya berdesir. Sebelum kemudian kesadarannya pulih, ia dengan cepat menginjak kaki lelaki itu dengan kuat-kuat, lalu mendorong tubuhnya. Hingga rengkuhan pinggangnya terlepas. “Penawaranku tempo hari itu sudah tidak berlaku, Tuan!” dengus Silvi menatap Zain kesal. Dia mengibaskan rambut panjangnya, menatap Zain yang tengah meringis dengan pandangan mengejek. Kemudian ia berbalik hendak kembali masuk ke club.
Zain yang melihat itu semakin merasa suka dan tertantang. Sebenarnya rasa sakit di kakinya itu tidak berarti apa-apa. Dia hanya ingin membuat Silvi merasa menang dalam sejenak.
Lalu kini, melihat gadis itu melangkah menjauh darinya. Zain dengan segera mempercepat langkahnya menarik tangan gadis itu, lalu menggendongnya kayaknya membawa sebuah karung.
“Zain lepas! Kamu apa-apaan!” Silvi berusaha memberontak, memukul pundak lelaki itu.
Zain hanya diam membawa gadis itu keluar menuju mobilnya.
💞
💞
💞
💞
__ADS_1
Mau lihat sisi romantis Zain gak? kira-kira mau dibawa ke mana ya Silvi?
Jangan lupa like, dan komentarnya.