
Alana menyandarkan punggungnya di sofa, mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya mana kala ia merasakan tubuhnya menggigil kedinginan akibat suhu AC. Baru saja ia ingin menutup kedua matanya. Ponsel dalam genggamannya berdering, nama Ibunya tertera sebagai pemanggil di sana.
“Iya Bu?”
“Bagaimana Alana? Kau menemukan Gala?” tanya Ibu Ratmi cemas.
Alana menoleh ke arah suami dan putranya sejenak. “Dia sudah bersamaku, Bu.”
“Kok bisa? Bukannya tadi kamu lagi kerja,” ujar Ibu Ratmi heran.
“Nanti aku ceritakan di rumah ya, Bu.”
“Baiklah. Ibu lega, Gala baik-baik saja.”
“Iya Bu.” Alana menutup telponnya. Kembali menyandarkan punggungnya di sofa, dan ia mulai memejamkan kedua matanya, tangannya bergerak memijat keningnya.
Tiba-tiba ia tersentak, mana kala ia merasakan seseorang menyelimuti tubuhnya dengan sebuah jas. “Dave...” desisnya. Ia menatap wajah suaminya yang kini berada di depannya. Sementara Gala duduk di sisinya sambil asyik makan Chiki.
Dave menempelkan telapak tangan di kening Alana. “Badanmu masih panas? Apakah kepalanya masih pusing?”
“Sedikit.”
“Obatnya tak bekerja dengan baik. Kita ke rumah sakit saja ya?” tawar Dave.
__ADS_1
“Gak mau!” pungkas Alana dengan cepat.
“Kau sudah seperti ini, dan kau masih keras kepala, Alana. Ya ampun!” keluh Dave.
“Ayolah Dave. Aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat sebentar. Karena semalam aku—”
“Karena semalam Mami tidak tidur, makanya Mami sakit,” pungkas Gala memotong ucapan sang Ibu.
Dave berdecak kesal mendengarnya. Sebenarnya, ia tidak cukup kaget. Satu tahun ia tinggal bersama Alana, ia pun tahu jika Alana kerap tidur dini hari. “Tidak bisa tidur? Pasti memikirkan ucapanku di restoran itu ya?”
“Percaya diri sekali,” decaknya melengos malu. Dave tersenyum, mengangkat kedua alisnya.
“Mami kebanyakan minum kopi, dan pagi-pagi mual. Kata Nenek begitu,” seru Gala beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju televisi besar di sana. “Papi aku boleh nonton televisi.”
“Iya sayang.”
Alana melotot. “Dave jangan bercanda. Dengan siapa aku hamil. Kita bahkan—”
“Aku tahu. Untuk itu kita ke rumah sakit, biar kamu cepat sehat. Lalu kita buat adik buat Gala. Bukankah dia sudah cukup umur,” goda Dave setengah membujuk. Ia mengusap pelan wajah istrinya.
Alana menggeleng dengan wajah merona. “Aku baik-baik saja, Dave. Tidak perlu ke rumah sakit. Sungguh aku tidak—”
“Kau takut ke rumah sakit. Tapi, kau tidak takut melahirkan Gala seorang diri, tanpa suami.”
__ADS_1
Alana mengangkat wajahnya, menatap suaminya yang kini berada sangat dekat dengannya. “Dave, seorang Ibu akan melakukan apa saja demi putranya.”
“Dan begitupun aku yang seorang suami akan melakukan apa saja demi kesembuhan istrinya.” Dave mengecup pelan kening Alana. Sebelum kemudian ia beranjak ke mejanya, mengambil ponselnya.
“Dave kamu—”
“Aku akan mengambil jalan tengahnya memanggil dokter kemari untuk memeriksa keadaanmu. Jika nanti dokter mengatakan kau harus di rawat, aku akan memaksamu. Tapi, jika cukup istirahat di rumah kau tidak perlu bekerja lagi.”
💞💞
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Tuan. Nona Alana baik-baik saja, dia hanya flu biasa, dan kurang istirahat. Untuk rasa mualnya, itu karena asam lambungnya kambuh. Saya sarankan untuk anda menghindari minuman berkafein, ya. Setelah minum obat anda saya sarankan anda istirahat,” terang Dokter Emraan usai memeriksa keadaan Alana.
“Dengar kan Dave. Aku baik-baik saja, kau terlalu berlebihan,” desis Alana pada sang suami yang berdiri di sisinya.
Dokter Emraan terkekeh gemas. “Itu karena dia sangat mencintai anda, Nona.”
“Iya, Paman. Tapi, yang dicintai tidak peka. Dia lebih suka pada seorang pria yang mengobral janji manis tanpa sebuah bukti.”
“Dave?” dengus Alana.
“Aku pikir aku perlu membuat papan reklame yang sangat besar, tentang isi hatiku padanya.”
Alana merenggut antara rasa malu dan kesal. Sementara Dokter Emraan menahan tawanya. “Nona percayalah jika suami anda itu sangat mencintai anda. Saya bisa melihat itu.”
__ADS_1
Dokter Emraan beranjak dari tempatnya. “Jangan lupa diminum obatnya setelah makan. Saya permisi dulu. Mari Tuan Dave...”
“Terima kasih, Paman.”