Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Dilema


__ADS_3

“Mami Legonya bagus-bagus, di susun juga gampang banget. Ini mirip waktu dibelikan Bibi Nat-nat. Isinya banyak lagi,” celoteh Gala ketika baru saja membuka bungkusan mainan yang Alana bawa. Dan tentunya mainan itu semua dari Dave, hal itu membuat Alana meringis dalam hati.


“Mami juga belikan aku mainan robotan ya.” Gala kembali mengambil satu mainan lagi. “Ini bagus banget Mami. Bisa di bongkar pasang. Kadang jadi robot kadang jadi mobil. Aku suka, makasih Mami,” lanjutnya meringsek memeluk Alana.


Seandainya kamu tahu sayang. Jika itu semua dari Papimu. Kamu pasti akan merasa sangat senang. Maafkan Mami yang masih egois. Mami benar-benar masih bingung sayang.


“Wahh senangnya aku dapat mainan banyak, makan burger juga. Mami kerja dapat uang banyak. Horee aku senang bisa beli apa aja,” teriak Gala gembira.


Alana tersenyum tipis, menatap raut wajah bahagia putranya. Anak itu terlihat begitu ceria mendapatkan mainan sebanyak itu. Sifat Gala itu perpaduan antara dirinya dan Dave sekali. Keceriaan Gala saat menerima suatu barang mirip seperti Alana. Namun, otak anak itu seperti Dave. Di usianya yang baru empat tahun, Gala bahkan sudah pandai di sekolahnya, anak itu begitu cepat tanggap. Mungkin kepintaran sang Papi menurun padanya.


Jika di tatap lebih rinci wajah Gala, itu seperti gambaran Dave versi kecil. Tapi, untuk itu Alana tidak tahu semasa Dave kecil seperti apa.


Dave?


Mengingat nama itu membuat ia resah. Mana kala teringat ucapan Dave di restoran mekdi tadi. Sejujurnya, Alana bukan tidak percaya. Ia hanya tengah merasa dilema dengan dirinya sendiri. Haruskah ia mengatakan keadaan sebenarnya pada Dave? Demi Gala mungkin hal ini akan. ia pertimbangan secepatnya.


💞💞

__ADS_1


Semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Dave, membuat kepala Alana pusing saat pagi. Bukan hanya itu badannya pun demam. Dengan sedikit menggigil ia bangun untuk mengurus keperluan anaknya sebelum ke sekolah. Selain mengurus makanan juga pakaian ganti.


“Mami, nanti aku dan Nenek mau berkunjung ke makam kakek. Apa Mami mau ikut?” tanya Gala.


“Tidak sayang. Mami harus kerja,” jawab Alana yang tengah membantu Gala memakai sepatu.


“Baiklah.”


“Oke. Hati-hati ya. Jangan jauh-jauh dari Nenek," kata Alana menatap putranya dengan gemas.


“Aku baik-baik saja, Bu. Ini hanya kurang tidur.”


Tiba di kantor, kepala Alana seperti mau pecah, saat melihat setumpuk dokumen di atas meja. Ia ingin minum obat pun terasa malas, karena ia paling malas menelan butiran obat. Jika begini haruskah ia keluar ke apotik mencari obat sirup yang manis. Ah rasanya ia pun tidak akan ada kekuatan untuk itu. Alana mencoba memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba ia merasa tubuhnya menggigil kedinginan, padahal biasanya ia baik-baik saja selama berada dalam ruangan ber-AC.


“Alana kamu sakit?” tanya Nara saat melihatnya bersin-bersin tiada henti.


“Iya pilek dan sakit kepala.”

__ADS_1


“Sudah minum obat?”


Alana menggeleng. “Aku susah nelan obat.”


Nara menghela nafasnya. Jika saja hari ini ada sang atasan ia akan langsung melaporkan kondisi Alana. Sayangnya hari ini adalah jadwal Dave berkunjung ke perusahaan Dirgantara Karya. “Kalau tidak kuat izin saja. Atau istirahat dulu di ruang kesehatan.”


Alana menatap heran ke arah Nara. “Memangnya ada ruang kesehatan di sini?”


Nara mengangguk, “Ada di lantai dua belas. Sengaja di taruh sana biar yang sakit bisa benar-benar istirahat. Ada suster dan dokternya juga kok.”


Alana merasa takjub, perusahaan sebesar ini ternyata menyediakan ruang kesehatan untuk karyawannya. Tapi, membayangkan harus naik ke atas, kepala Alana rasanya bertambah pusing. Ternyata kondisi tubuhnya sama sekali tidak bisa kompromi. Hingga akhirnya di jam makan siang, Alana memutuskan untuk ke ruang kesehatan mengistirahatkan badannya sejenak.


Kini Alana berada di sebuah ruangan kesehatan, sebuah ruangan kecil tanpa AC, dan hanya mengandalkan kipas besar untuk mendinginkan ruangan seorang perawat yang berjaga memberinya obat flu dan menyuruhnya untuk tidur. Namun, Alana enggan meminumnya dan justru meletakkannya di atas nakas.


Alana berbaring di ranjang menutupi tubuh dengan selimut. Ranjangnya sendiri berada di samping kaca.


“Nona, saya tinggal makan ya?” pamit sang perawat sebelum beranjak.

__ADS_1


__ADS_2