
“Apa perlu aku pesankan pakaian baru untukmu, Alana?” tanya Dave.
“Tidak perlu Dave. Nanti ini juga akan kering,” sahutnya pelan. Matanya menatap ke arah ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja.
Pelayan datang mengantarkan teh herbal pesanan Dave. Lelaki itu meraihnya dan memberikannya pada Alana. “Minumlah tehnya. Setelah itu kita pulang.”
Alana langsung mendongak wajahnya, menggeser sedikit tubuhnya ke arah Dave. Hingga membuat Dave dapat melihat jelas pakaian Alana yang nampak kontras memperlihatkan isi dalamnya, akibat pakaiannya yang berwarna putih itu basah.
“Tapi Dave aku....”
Alana tak melanjutkan ucapannya, ketika tiba-tiba ia kembali dikejutkan dengan perilaku Dave yang melepaskan jasnya, kemudian membalutkan di tubuhnya.
“Dave?” seru Alana bingung.
“Pakailah jas ku Alana. Itu....” Dave terlihat gugup untuk mengatakan alasan sebenarnya.
“Ada apa Dave?” desak Alana bingung.
“Pakaianmu basah, hingga terlihat kontras isi dalamnya. Maaf,” cicit Dave dengan wajah memerah. Alana memalingkan wajahnya malu, seraya mengeretkan jas milik suaminya itu. Bisa-bisanya ia ceroboh tidak membawa jaket saat darurat seperti ini.
“Tadi kamu mau bilang apa?” tanya Dave mencairkan suasana. Ia tahu setelah ucapannya tadi Alana pasti akan merasa canggung.
“Itu....” Alana tak melanjutkan ucapannya, saat melihat ponsel miliknya bergetar. Ia mengerutkan kening tatkala melihat nama Silvi terpampang di layar.
__ADS_1
“Hallo?”
“Hallo Al. Maaf aku tidak bisa menemuimu sekarang. Motorku mogok di tengah jalan, belum lagi hujan begitu deras. Kamu tahu di persimpangan jalan juga banjir. Aku minta maaf Al,” ujar Silvi di seberang sana.
“Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja. Kita bisa bertemu lain kali,” sahut Alana tenang.
Silvi terus meminta maaf, hingga sambungan telpon terputus. Alana mendesah dalam hati, niat untuk bertemu sahabatnya gagal, dan hasilnya ia justru membantu suaminya.
“Siapa Alana?” tanya Dave.
“Temanku,” jawab Alana singkat.
Dave mengangguk pelan. “Minum tehnya Alana. Setelah itu kita pulang."
“Aku mengerti Alana. Kau pasti akan bertanya permasalahan tadi. Makanya ayo kita pulang dan bicarakan di rumah.” Dave meraih tangan Alana, menggiringnya keluar dari restoran.
“Aku membawa motor Dave. Bagaimana dengan motorku?” tanya Alana ketika ia digiring masuk ke dalam sebuah mobil.
“Urusan kecil. Berikan saja kuncinya pada Zain. Nanti akan ada orang yang membawanya pulang. Atau Zain sendiri yang akan membawanya.”
“Tapi...”
“Ayo Alana,” desak Dave.
__ADS_1
Menghela nafasnya, Alana membuka tas miliknya kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada Zain. Lagi-lagi suasana dalam satu mobil bersama Dave terjadi lagi, dan Zain menjadi orang yang paling direpoti harus membawa motor istri atasannya itu pulang.
Alana hendak duduk di belakang. Namun, lagi-lagi Dave mencegahnya dan meminta ia untuk duduk di sisi kursi kemudi. Setelahnya Dave memutar tubuhnya duduk di kursi kemudi. Mobil melaju mulus meninggalkan area restoran bintang lima itu.
Sepanjang jalan hanya keheningan yang tercipta. Dave fokus menyetir, sementara Alana sibuk dengan pemikirannya. Ia melamun seraya menatap pergelangan tangannya yang tampak memerah. Alana mengusapnya dengan senyum getir.
Dave menoleh ke arah istrinya yang sejak tadi terdiam, ia terkejut melihat pergelangan tangan Alana tampak memerah. “Kenapa dengan tanganmu Alana?” tanya Dave membuka suara.
“Tidak apa.” Alana hanya menjawab singkat, tak berniat untuk membagi kesedihannya.
“Tanganmu memerah seperti habis di cengkram oleh seseorang. Apakah itu ulahku tadi?” tanya Dave pelan. Meski hatinya yakin bukan dirinya pelakunya. Ia sangat dengan yakin memperlakukan Alana dengan lembut. Baginya pantang melakukan kekerasan pada perempuan.
“Bukan Dave.” Alana menggeleng dengan cepat.
“Lalu? Apa kau kembali berhadapan dengan preman?” cecar Dave yang masih terbayang bagaimana dengan beraninya Alana mencoba melawan preman kala itu.
Alana meringis sambil menggeleng. “Tidak juga Dave.”
“Lalu?”
Alana menghela nafas, raut wajahnya terlihat sendu, senyumnya terlihat masam. “Aku tadi menjenguk ibu di rumah sakit. Tapi, bertepatan itu penyakit ibu sedang kambuh, hingga ia tiba-tiba mencengkram tanganku juga mencekik leherku,” jawab Alana hingga lelehan hangat mengalir membasahi pipinya.
Dave yang mendengar Alana mulai terisak menghentikan laju mobilnya, menepi di pinggir jalan. Ia menatap ke arah Alana, mendengarkan cerita perempuan itu. Tak lupa ia memberikan tisu, Alana meraihnya lalu menghapus air matanya. “Aku pikir ibuku sudah membaik. Tapi, ternyata masih sama saja. Dia terlihat begitu membenciku di saat penyakitnya itu kambuh.”
__ADS_1
“Separah itu?”